Kamis, 12 Desember 2013

"11.12.13"

          Dulu, bahkan hanya dulu, dia selalu menjadi sesuatu yang selalu aku impikan. Tak perduli seberapa waktu yang telah tertinggal. Meski kini kenyataannya dalam kisah itu hanya ada aku dan juga luka yang tersisa di dasar hati ini. Tapi, cukup hanya satu yang berlandas pada kisah itu; perasaan ini tak akan pernah padam. Ya, walaupun kenyataannya takkan pernah ada lagi seseorang yang akan memberikan sebuah candaan khusus teruntuk seseorang sepertiku.

            Mungkin, aku telah menjadi serpihan kisah yang bertumpu pada masa lalunya. Dia takkan pernah perduli lagi terhadapku, seorang Alyssa Taniafy kecil yang selalu disayangnya. Dia telah melupakan aku, dia telah berpaling kepada yang lain. Semua karena kesalahan itu, sebuah kesalahpahaman. Dan seharusnya dia yang menyesal, tapi mengapa harus aku yang menyesal? Bukankah ini juga keinginan hatiku?

            Awalnya aku sedang menghabiskan waktu istirahatku bersama orang-orang yang biasa tergabung dalam grupku. Tidak lain, mereka adalah orang-orang yang selama ini selalu mengisi hari-hari kosongku. Tapi di antara mereka ada seseorang yang sempat menjadi pujaan hatiku, tentu saja seseorang yang selalu ku banggakan selama ini. Tapi, faktanya kesalahpahaman itu membuat kepercayaannya melebur dalam waktu.

            “Masih mikirin tentang itu, Fy? Bukannya lo yang mutusin?” Aku pikir tadi aku sedang sendirian, ternyata Via menyusulku dan langsung bertanya tentang keadaan aku seperti yang dia lihat sekarang. Seolah mencari-cari suatu tulisan dalam gerak-gerik tubuhku, sementara pikiranku sedang berusaha dibacanya. Meski kenyataannya sulit memang.

            Aku menggeleng lemah. Sambil tersenyum tipis, aku menjawabnya, “Siapa, Vi? Aku gak pernah menyesal terhadap apa yang sudah menjadi keputusanku.” Aku terpaksa berdusta akan perkataanku.

            Tapi, mengapa harus rasa sakit lagi yang datang di setiap perkataan bohongku muncul di permukaan waktu? Ah, sepertinya memang aku tidak bisa melupakannya. Dia terlalu berarti. Asal tahu saja, dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku mengaguminya sejak beberapa bulan yang lalu, dan saat itu juga dia meminta aku untuk menyutujui tawarannya. Akhirnya, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Tapi, semuanya tidak berjalan lancar.

            “Lo masih sayang kan sama dia? Lo masih mau kan sama dia? Fy, please, jangan buat diri lo tersiksa karena keinginan lo yang keras itu. Mungkin hati lo belum sepenuhnya nerima kesepian itu datang, makanya lo gak bisa tenang karena hal itu.” Via berargumen. Tepat sasaran kepada apa yang saat ini kurasakan.

            Aku tetap menggeleng. “Enggak, Vi. Mendingan lo gak usah sok tahu, nih gue baik-baik aja kan?” Aku berusaha tersenyum lebar, menutup kesedihan yang saat ini sedang membuat duniaku terasa sempit, sampai hanya sesak yang kurasa.

            “Gue tahu, lo cuma lagi berusaha menghibur diri lo aja. Tapi, gue juga tahu apa yang saat ini lo rasakan. Lo emang rapuh, buktinya beberapa hari ini lo ngejauh dari temen-temen lo sendiri, termasuk gue. Apa itu yang namanya gapapa?” Tegur Via.

            Aku tahu, sebenarnya Via bukan bermaksud untuk menegurku seperti itu. Dia memang menyayangiku, ya mungkin karena saat ini aku sedang berada di posisi yang sangat terpuruk. Aku hanyalah sebuah debu, yang kemudian dihempas laju angin hingga hilang di permukaan bumi. Kadang aku berbaur pada serpihan gelap, yang entah tak kumengerti apa itu artinya.

            “Sampai kapanpun, gue gak akan munafik seperti itu, Vi.”

            “Bohong!” Sambar Via dengan langsung. “Gak ada seorang pun yang akan berani memberitakan secara terang-terangan tentang keadaan hatinya yang saat itu sakit.”

            Tetap saja Via mengelak. Aku mengalah, tapi harus bagaimana lagi. Aku memang munafik, tapi aku juga tidak ingin terlihat lemah. Ya, hanya untuk masalah perasaan ini. Semuanya karena laki-laki itu, keadaanku semakin memburuk karena kejadian itu.

            “Tuh, Rio!” Via mengarahkan arah pandangannya kepada seseorang yang baru saja datang dari arah pintu kantin.

            Laki-laki itu bernama Adryo Panji, seseorang yang sempat memberikan warna dalam keindahan yang tak pernah puas untuk kunikmati. Tapi, semuanya hilang. Semuanya harus sirna karena mungkin kita sudah ditakdirkan untuk tidak bersama lagi.

            Secara perlahan, Via menghampiri Rio yang masih jauh dariku –dan sepertinya Rio tidak melihat keberadaanku saat ini. Aku berada di depan perpustakaan, sedangkan dia berjarak jauh denganku. Aku tahu, apa yang akan Via lakukan kepadanya.

            “Yo, apa gak ada cara lain buat beresin masalah lo? Lo kan tahu, ini semua cuma kesalahpahaman. Harusnya lo menjelaskan semua itu, bukan malah ngehindar atau bahkan seolah gak kenal Ify. Kemana aja sih, lo.” Cerca Via dengan nada kesal.

            Rio menatap Via dengan heran. “Jelasin? Buat apa jelasin? Bukannya dia pernah bilang, setiap masalah apapun yang ada di antara gue dan dia, maka dia gak akan pernah untuk menjauh dari gue atau bahkan berusaha untuk gak kenal lagi. Tapi, yang gue lihat apa, Vi? You know lah.”

            Saat Rio hendak melengos, Via segera mencekal tangan laki-laki itu. “Dimana sifat lo yang katanya dewasa? Gue sebagai cewek ngerti banget, Yo. Ini, masalah perasaan. Dan lo gak berhak buat mengadili soal Ify karena kejadian itu, karena ini bersangkut dengan masalah perasaan, Yo.”

            Aku hampir saja menangis mendengar perkataan Via yang berusaha untuk mengembalikan keadaanku saat ini. Untung saja koridor sepi, bel pulang telah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.

            “Gue udah jelasin semuanya. Tapi dianya aja yang terlalu egois, Vi. Tuh, dia juga malah gak mau denger penjelasan gue.”

            Via tetap mengelak. “Karena lo memakai cara yang salah. Seandainya lo perlakukan Ify dengan cara baik, lalu lo ajak dia untuk masuk ke dalam obrolan yang akan lo bahas, mungkin Ify akan menerima lo karena keramahan lo.”

            Seperti apa yang dikatakan Via, aku memang seperti itu. Kadang aku mereject ajakan seseorang jika dilakukan dengan start berupa sesuatu yang bersifar klise. Aku tidak bersifat matrealisasi, hanya saja aku ingin mereka ramah terhadapku. Karena mungkin tanpa ada keramahan, entah harus apa yang akan aku lakukan. Intinya terasa seperti tidak nyaman.

            “Gue salah lagi? Kenapa harus gue yang salah sih, Vi!” Rio mulai membentak Via.

            “Letak kesalahan lo ada pada keegoisan lo, Yo. Gue harap, di lain waktu lo bisa lebih dewasa lagi.” Harapnya, kemudian dia segera berlalu meninggalkan laki-laki itu dan menyungkap cekalannya.

            Via segera berjalan menujuku, sementara Rio langsung berjalan menuju lapangan. Biasanya siang hari dalam keadaan panas seperti ini, aku terlihat ceria dan memberikan support untuk Rio yang sedang mengikuti kegiatan ekskul. Tapi, untuk sekarang tidak.

            “Lo nangis lagi, Fy? Cuma karena dia?”

            Aku segera menyentuh sudut mataku. Ternyata setitik air mata sudah terpatri disana, bahkan aku sampai tidak menyadarinya. Aku pun mengusapnya.

            “Vi, gue terlalu egois ya?” Tanyaku dengan pelan.

            Via yang saat itu sudah mengambil ancang-ancang untuk berjalan menuju ke gerbang langsung membatalkannya. “Maksud lo?” Via menatapku dengan penasaran.

            “Harusnya gue gak cemburu karena kejadian kemarin. Kemarin Rio cuma didorong temannya dan dia gak sengaja meluk Dea. Tapi kenapa gue harus cemburu? Harusnya gue denger omongan dia, tapi kenyataannya gue memang terlalu egois.” Ujarku sambil tersenyum miris.

            Buru-buru Sivia menggeleng dengan cepat. “Cemburu itu wajar kok, Fy.” Ucap Via, bermaksud menyemangatiku. “Udah yuk.” Ajaknya kemudian.

***

            Aku berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan sebuah bola basket dengan ring secara bergantian. Biasanya aku menghabiskan waktuku dengan laki-laki itu tatkala pagi masih membeku. Dan, lagi-lagi aku merasa aku terlalu terfokus kepada laki-laki itu. Aku merasa otakku diforsir hanya untuk dia.

            Saat itu kudengar suara seseorang berdehem. “Lagi nostalgia, Fy?”

            Aku melirik ke arahnya, ternyata Gabriel. Kemudian aku terkekeh pelan setelahnya. Dia berhasil membaca pikiranku saat ini. Awalnya aku ingin segera ke kelas, tapi Gabriel menahanku dan memerintahku untuk tetap di lapangan, menemaninya masuk ke dalam beble yang akan kami bahas.

            “Ada apa, Yel?” Tanyaku dengan sedikit canggung.

            Gabriel menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan, tepatnya usai pertanyaanku terlontar ke arahnya. “Bisa gak sih kita kayak dulu lagi, Fy?”

            Refleks dahiku berkerut. “Maksud lo?”

            “Iya, bisa gak kita kayak dulu lagi. Tiap hari kita habisin waktu. Lo ngerti kan? Ya, maksudnya itu sahabat-sahabat lo itu bisa bareng kita-kita lagi. Gue kangen kebersamaan itu.” Suara Gabriel memelan. Sepertinya pikiran dia telah sampai kepada arah yang dulu pernah terjadi. Kebersamaan kami.

            “Kayaknya gak bisa deh, mungkin kita sudah ditakdirkan untuk tidak bersama lagi, Yel. Lagian, bukannya lo bisa cari yang lain dan lo buat lagi suasana seperti yang penah kita alami?” Pikirku sambil mencoba membuka pikiran Gabriel yang memang terlalu sempit menurutku.

            Mendengar ucapanku, Gabriel mengalihkan pandangannya dan segera menatapku. “Gak bisa, Fy. Gak ada lagi yang bisa melengkapi kebersamaan kita kalo bukan ada gue dan sahabat-sahabat gue, termasuk lo dan sahabat-sahabat lo.”

            “Kalo begitu, gue memilih hengkang aja.” Ujarku dengan santai.

            “Kenapa, Fy? Apa cuma masalah sepele itu? Perlu gue jelasin?” Tawar Gabriel.

            Tentu saja aku menggeleng, tidak mau lagi mendengar penjelasan itu. Aku tahu, bahkan sangat tahu, alasan itu telah berulang-ulang mendengung di telingaku. Dan itu membuatku semakin sakit. Entah harus bagaimana lagi aku melupakan semuanya. Andai aku pelupa, takkan pernah sesulit itu pula aku mencoba mengelaknya dan juga menjauh dari orang-orang yang tergabung dalam kebersamaan itu, kecuali Via.

            Secara ekpres, aku langsung mengambil ancang-ancang untuk pergi. Saat itu juga Via sedang berjalan ke arah kami, terpaksa aku harus berlama-lama disini.

            “Hei, Fy, Yel, lagi apa lo pada? Pagi-pagi nongkrong disitu.” Via melambaikan tangannya dengan raut keceriannya. Selama ini dia memang terlihat nyaman untuk hidup. Tidak ada yang melukainya, tidak ada yang bisa membuat sakit hatinya, tidak ada yang bisa menorehkan tinta kepedihan teruntuk hidupnya. Ah, betapa sempurna dia.

            Aku mencoba tersenyum lebar. “Gak tahu nih Gabriel, ngajak gue diam disini.” Ujarku seceria mungkin. “Jangan bahas soal tadi.” Bisikku dengan pelan ke arah Gabriel. Gabriel hanya mengangguk saja.

            “Fy, nanti sore lo diajak main ke taman tuh.” Ujarnya begitu sampai di hadapan kami. Aku yang pertama mencerna kata-katanya langsung menatapnya penasaran. Siapa?

            Aku berdehem pelan. “Siapa?”

            “Gue gak tahu, pokoknya semalam orang itu sms gue dan isi sms itu nyuruh gue buat ngasih lo kalo lo harus ke taman kompleks nanti sore, Fy.” Jelasnya, sambil membaca lagi pesan dari handphonenya yang baru saja diraihnya dari tasnya.

            Gabriel menepuk punggung tanganku. “Itu gue, Fy! Ada hal penting yang perlu gue omongin buat lo.”
            “Ngomong aja sekarang, Yel.”

            Gabriel bangkit dan menatapku. “Pokoknya gak bisa sekarang.”

            Aku mengangguk pasrah. Gabriel segera berlalu dan meninggalkan aku dan Via –yang masih menatap serius ke layar handphonenya. Sepertinya Via sedang smsan, tapi entah dengan siapa. Biasanya pagi-pagi begini Via tidak sibuk dengan handphonenya, malah sekarang sepertinya ada hal penting sekali.

***

            Sore itu hujan turun dengan deras, tetapi aku sengaja menerobosnya hanya karena ingin memenuhi permintaan Gabriel. Di tanganku masih ada sebuah boneka teddy bear. Boneka itu hadiah pemberian Rio ketika hari ulang tahunku beberapa hari yang lalu. Awalnya aku menolak boneka itu, karena Rio sendiri berkata bahwa boneka itu diberikan sebagai rasa terima kasih. Aku tidak tahu apa maksudnya.

            Sekarang aku sengaja membawa boneka itu. Aku akan menyerahkan boneka itu kepada Gabriel dan memerintahkan dia untuk memberikannya lagi kepada Rio. Aku takut jika nanti aku semakin teringat dengan kehadiran boneka itu.

            Taman kompleks masih sepi. Hujan sedari tadi terus mengguyur permukaan bumi tanpa mengenal rasa lelah. Tetapi untungnya aku menyukai hujan. Entahlah, ada sesuatu yang menarik tentang hujan, sampai aku menyukainya tanpa alasan.

            Aku duduk di gazebo taman, sebagai tempat untuk beristirahat. Boneka Teddy Bear yang masih ada dalam pelukanku semakin basah karena tetesan air hujan yang menyiramnya secara keroyokan. Lalu pandanganku mengarah ke sekeliling, mencoba mencari sosok Gabriel yang sudah memintaku untuk kesini. Dalam hati aku berjanji, jika Gabriel tidak datang, aku akan memperlakukannya dengan kasar.

            Sekitar lima belas menit aku menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Gabriel akan datang. Atau apa mungkin Gabriel hanya mempermainkanku? Menyebalkan memang. Daripada aku terlalu lama terjebak disini, lebih baik aku pergi saja dan pulang ke rumah. Lihat saja besok pagi aku akan marahi dia habis-habisan.

            Saat aku baru berjalan beberapa langkah, lenganku tercekal. Saat itu kulitku beradu dengan kulit seseorang yang entah siapa, mungkin Gabriel. Tapi saat ini aku belum berani menolehnya, aku masih kesal terhadapnya.

            “Tunggu.”

            Itu, bukankah suara seseorang yang selama ini sedang kuusahakan agar jauh dariku? Lalu mengapa bisa ada disini? Atau apa jangan-jangan Gabriel menjahiliku? Aku segera menoleh ke arahnya.

            “Mau apa lo kesini? Mau buat gue sakit lagi?” Tanyaku dengan kasar, kemudian aku segera melepaskan cekalannya dengan salah satu tanganku. “Apa ini maksudnya?” Protesku ketika dia tetap mencekalku.

            “Dengerin gue dulu, Fy.” Titahnya.

            Aku menatapnya dengan tajam, tapi air hujan menyamarkannya. “Kenapa, Yo? Lo mau jelasin semuanya? Lo mau jelasin itu lagi? Bukannya semua itu udah jelas kan? Oh ya soal gue minta putus, itu bukan karena masalah itu. Tapi karena gue udah gak sayang lagi terhadap lo.” Aku segera menghentakan lengannya, kemudian aku segera berjalan dengan cepat.

            “Fy,” Lirihnya.

            Aku menoleh. “Oh ya, ini boneka pemberian lo. Gue udah gak butuh lagi.” Ucapku, berusaha apatis terhadapnya.

            “Gue harap lo gak salah ngomong, Fy. Seharusnya lo dengerin gue dulu, Fy. Harusnya lo gak main egois terhadap gue. Seharusnya lo ngerti dengan keinginan gue, Fy. Gue masih sayang, tapi lo terlalu egois, Fy.” Jelas Rio dengan nada meminta-minta, meminta ditanggapi.

            Dengan santai, aku menjawabnya, “Oh ya udah.”

            Sebenarnya aku tidak tega melihatnya seperti ini, tapi bagaimana lagi? Rasa sakit ini terlalu memforsirku untuk membentaknya, agar dia lebih merasakan apa yang saat ini aku rasakan. Tapi sayangnya, terdapat sebuah tembok besar yang melapisi dirinya. Membuat laki-laki itu tidak terlalu peka terhadap keadaanku.

            “Gue masih sayang lo, Fy.”

            “Terus?”

            Rio memegang kedua tanganku, aku berusaha memberontaknya. Tapi tetap saja, pegangannya terlalu kuat sampai dia menatapku dengan intens. “Gue serius.”

            “Iya, apa kaitannya sama gue?”

            Perlahan, tangannya bergerak menyibak poniku. “Lo masih sayang kan sama gue?”

            “Gak.” Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

            “Fy…”

            Aku menatapnya kembali. “Apa? Mau disayang lagi?”

            “Bukan itu yang gue minta, tapi kejujuran lo, Fy. Gue butuh itu untuk saat ini.” Ujarnya dengan nada melemah.

            “Kan gue udah jujur, Yo. Apalagi sih yang lo mau? Sekarang lo pilih. Lo pilih lepasin gue dan itu akan membuat gue bahagia atau lo pilih terus cengkram tangan gue sementara gue disini semakin sakit.” Tuturku dengan sebuah permainan. Tentu saja Rio tidak akan bodoh memilihnya, aku tahu dia akan memilih apa yang terbaik untuknya. Tapi, tolong, kenapa harus dia juga yang memberika kesakitan untuk diriku? Apa salahku?

            Rio menggeleng. “Lo sakit? Sakit hati karena gue kan?”

            “Sok tahu! Tangan gue sakit!” Bentakku.

            Padahal justru aku lebih sakit ketika aku berada di dekat Rio, karena di dekatnya aku semakin teringat dengan peristiwa demi peristiwa yang pernah aku lewati bersamanya. Sekarang semua itu telah berubah menjadi bayangan gelap yang tak mungkin kembali, yang hanya bertahan pada sisi abstraknya.

            “Denger gue, Fy. Gue mau lo kembali kayak dulu.” Pintanya dengan nada setengah memelas.

            Aku tetap memberontak dengan kasar. “Gak bisa, sekarang lo lepasin gue!”

            “Fy, gue…”

            “Gue bilang gak bisa ya gak bisa. Jangan maksa gue bisa kan, Yo? Lo pikir dengan kembalinya gue kepada lo bisa membuat sakit yang bertahan disini akan hilang?” Aku menunjuk dadaku.

            Rio memelukku. “Maafin gue, Fy! Harusnya gue gak deket-deket sama Dea, harusnya gue gak ada di sisi dia saat itu, tapi di sisi lo, Fy!”

            Dengan kasar aku segera mendorong tubuhnya. “Cuma itu alibi lo disaat penyesalan lo datang.”

            “Tapi, Fy…”

            “Apa lagi sih, Yo? Denger, sekali lagi lo ngomong ini itu, gue gak akan maafin lo lagi. Inget, gue gak akan lagi nerima kehadiran lo dan gue gak akan pernah lagi mau kenal dengan seseorang macam lo.” Ancamku, kemudian aku segera berjalan memunggunginya.

            Tapi, bohong. Aku memang tidak bisa melakukan apa yang baru saja aku katakan untuknya. Aku hanya ingin dia tahu, aku hanya ingin dia menjauhinya untuk sekarang, besok dan selamanya. Itu saja.

            Aku memang tahu, bahkan aku melihatnya jelas. Rio tidak sengaja memeluk Dea karena didorong temannya, tapi seharusnya dia tidak dekat-dekat dengan Dea. Itu yang membuatku cukup muak!

            “Fy, gue harap lo denger isi hati gue untuk saat ini.” Ujarnya dengan lirih.

            Aku terdiam. Langkahku terhenti setelah ucapannya tertangkap telingaku, terdengar dengan irama sebuah isakan.

            “Lo tahu kan ini hari apa? Lo tahu kan ini tanggal berapa? Lo tahu kan ini bulan apa dan tahu berapa?” Tanyanya. Aku hanya diam saja, tak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan itu. Lagipula dia juga tidak bodoh, hari ini tidak ada spesialnya!

            Aku menolehinya, entah keinginan darimana, padahal jelas-jelas aku tidak ingin melihatnya lagi. “Yang gue tahu, gue benci banget hari ini.”

            “Hari ini semuanya mewakili perasaan gue, Fy. Seharusnya lo rasa, harusnya lo tahu dan mengerti. Tapi kayaknya emang gak mungkin lagi bisa buat lo luluh dengan cara apapun.”

            Aku tertegun menyadari kesalahanku sendiri. Rio benar-benar menyesaliku, sepertinya dia memang marah. Tapi seharusnya dia juga mengenali rasa sakit yang aku terima darinya, tidak dengan cara seperti ini, yang justru semakin membuat hatiku semakin teriris dan sangat perih.

            Hari ini jatuh pada tanggal 11 Desember 2013, orang-orang menyebutnya dengan nama spesial 11.12.13. Justru ini malah menjadi hari kebencianku, pusat seluruh kebencianku terhadap Rio. Tidak ada yang spesial dengan hari itu, yang aku rasakan bukan spesial seperti yang diharapkan orang-orang.

            “Denger gue.” Perintahnya. Aku dapat melihatnya, ia tengah menghela nafas sejenak. Seperti yang tengah mempersiapkan apa yang akan dilakukannya.

            Rio menghembuskan nafas perlahan. “Lo tahu kan ini tanggal 11.12.13? Dan jika diurutkan dari yang tertinggi, itu memiliki selisih yang tunggal dan itu mewakili perasaan yang ada pada diri gue. Perasaan gue buat lo cuma satu; tulus.” Ucapnya dengan serius.

            “Gue gak percaya!” Ucapku dengan tajam.

            “11, 12, 13 itu memiliki angka belakang yang bertahta. Dan itu melambangkan tahta antara kita, Fy, yang cuma ada gue, lo dan cerita kita berdua.” Jelasnya lagi, aku semakin mulai kagum terhadapnya, karena kata-katanya.


            “Terus? Perasaan lo kan cuma buat Dea, Yo. Buktinya lo deket-deket dia, Yo!”

            “11, jika diselipkan tanda tambah antara kedua angka tersebut maka jumlahnya akan mewakili hati kita berdua.”

            “Beda, Yo!”

            “12, jika diselipkan tanda tambah antara kedua angka tersebut maka jumlahnya akan mewakili tiga unsur yang ada dalam hidup kita; gue, lo dan cinta kita.”


            “Terus, gue harus terpengaruh sama lo?” Tanyaku.

            Rio menggeleng. “13, jika diselipkan tanda tambah antara kedua angka tersebut maka jumlahnya akan mewakili hidup kita yang di dalamnya terdapat lo, gue, cinta kita dan pilihan. Entah pilihan itu bahagia, atau sedih.”


            Lama-lama aku semakin terhanyut akan kata-katanya. Aku benar-benar terjebak oleh serangan kata-kata itu. Kata-kata itu seperti tulus, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

            “13, jika diselipkan tanda bagi antara kedua angka tersebut maka jumlahnya akan mewakili perasaan gue yang gak mungkin gue bagi kepada orang lain.


            “Lo mau nyerang gue, Yo? Lo mau buat gue luluh, Yo? Lo mau gue terpengaruh karena omongan lo, Yo? Cukup! Gue sama sekali gak bakal seperti itu, Yo. Lo terlalu bodoh!” Cercaku.

            Aku melihat Rio yang mulai kelabakan. Entahlah, apa maksud dari raut wajahnya. “Bahkan lo gak nyadar dengan kata-kata yang gue lahirin dari hati gue? Lo terlalu egois, Fy! Lo gak pernah ngerti gue. Oke, gue benci lo! Lo puas kan? Ini bukan keinginan lo?”

            Secara perlahan, sebuah senyuman miris mulai terpatri menghias wajahku. “Itu bukan keinginan gue, Yo. Lo yang bilang sendiri.”

            “Tapi, seharusnya lo ngerti dengan 11.12.13 yang merupakan tiga urutan pertama dalam bilangan belas. Dan itu juga melambangkan tiga urutan juga dalam hidup kita. Lo, gue dan cerita kita berdua, Fy.” Dia tetap menginginkan aku kembali kepadanya.

            “Tapi, sayangnya gue gak ngerti itu. Itu cuma tanggal biasa yang gak pernah berarti di hidup gue. Lo aja yang terlalu lebay sampai lo nganggap tanggal itu spesial.”

            Rio menatapku tak percaya, tentu saja dengan jarak sekitar lima meter. “Lo gak ngehargain gue, gue benci lo!”

            Perlahan aku tersenyum miris. Sebenarnya aku tidak ingin Rio membenciku, seharusnya aku yang membencinya bukan dia yang membenciku. Namun keadaan terlalu memaksaku untuk membecinya sampai akhirnya Rio benar-benar merealisasikan ucapannya dalam bentuk perkataan.

            “Gue harap lo gak bakal nyesel dengan pengakuan gue barusan.”

            “Gak bakal, Yo. Sekarang, yang terasa nyata di depan kita itu kata perpisahan, Yo.” Ucapku dengan lemah.

            Rio menatapku dengan raut kesedihan. “Kalo kenyataannya emang kayak gitu, izinkan untuk meluk lo cuma buat yang terakhir kalinya, Fy.” Pintanya.

            Aku menggeleng kuat. “Gak!”

            Saat itu Rio mulai tertegun, dan aku semakin tertegun saat ucapan itu melengking bebas di antara keheningan yang baru saja tercipta. Kamu salah, Yo. Justru aku menyesal, tapi aku juga harus memperjuangkan hidupku untuk berusaha melumpuhkan perasaan ini, Yo. Aku pun ingin memelukmu, tapi aku sadar pelukan ini akan menjadi penutup kenangan antara kita, aku tidak ingin itu menjadi serpihan kenangan.

            “The last, gue harap lo kapok kenal gue.” Ucapku.

            Kemudian aku segera berlalu dan meninggalkannya, aku tidak ingin lagi mendengarkan perkataannya yang semakin lama membuatku semakin menyesal terhadap apa yang aku lakukan. Rio, ketahuilah, aku sangat menyesal melakukan ini semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar