Minggu, 13 Oktober 2013

JANJI HATI



Belum sempat ada kata cinta yang terlontarkan kepada seseorang yang entah dimana untuk sampai saat ini, belum sempat tangan-tangan itu menyentuh lembut tubuhnya. Jika memang haruslah takdir yang membuat kisah itu terpisah, bila memang hanya itulah satu-satu yang terbaik mungkin tak mudah untuk memilih hal itu. Tak mudah juga melepas sesuatu yang telah menjadi belenggu hidup diatas masa lalu yang –dengan harapan- akan indah di masa mendatang. – Ify

            Aku masih mengingat kapan tepatnya kita bertemu dan juga berpisah, semoga kamu adalah seseorang yang diciptakan Tuhan untukku dan semoga dengan kepergianmu itu akan mengembalikanmu kepadaku suatu saat nanti. Aku belum sempat menciptakan kebahagiaan untukmu sebab perpisahan yang membuat kita harus berhenti disini. Ini memang takdir, tapi tak selayaknya kita salahkan. Sebab kita akan kembali pada dimensi waktu yang berbeda, suatu saat. – Rio

***

            Senandung lagu menciptakan suasana hati yang kian merapuh selama belakangan ini. Kapan dan kapan lagi akan bisa merubah keadaan saat ini, entah itu perasaan yang tak terbalaskan atau perasaan yang tak pernah berubah, selalu bersandar pada jiwa yang kini berubah menjadi sesuatu yang samar. Bayang-bayangan tentang laki-laki yang kini menjelma menjadi sesosok manusia sempurna itu perlahan mulai menari-nari di pikiran.

            Perasaan yang tak pernah disangka akan hadir lagi setelah ratusan hari perpisahan itu nyata hingga berujung kehidupan baru, individu dalam hidup dan tak begitu mudah menjalaninya. Selalu saja ada aral yang menghadang, namun laki-laki itu tetap menjadi sesuatu yang sangat sempurna, menduduki peringkat pertama dalam hidup. Perpisahan itu benar-benar sangat kentara, tak lagi menyisakan sebuah senyuman, apalagi mengingat semua yang berputar dalam masa lalu hanya menyisakan keperihan yang sampai saat ini masih bersemayam dalam hati.

            Tiga tahun terpisah bukanlah akhir dari segalanya, masih ada perasaan yang yang menyelubungi setiap sudut angan-anganku. Tiga tahun berpisah bukan berarti aku harus melupakannya, namun membuatku semakin merindu akan masa lalu itu. Tiga tahun berpisah, tik, tik, tik, sampai detik yang berlalu pun tak mampu mempositifkan ingatanku untuk melupakanmu. Sekian lama waktu melawanku untuk mencoba melupakanmu, namun hanya satu yang berpegang teguh pada hakikatnya. Hati. Enggan untuk melepaskan segala rasa yang berkecamuk dalam ruang jiwa, terasa melekat perasaan itu. Masih tersimpan sebuah kenangan yang manis, meski kini mulai lapuk dimakan usia. Entahlah, segala resah jiwa tak mudah tersingkirkan.

            Dalam ruang waktu, setidaknya masih ada perasaan itu, perasaan yang tidak bisa untukku merealisasikannya, sebab duk masihlah berpihak kepadaku. Tentang rasa sakit yang dulu pernah ada, mungkin setidaknya masih menyisakan bekas yang takkan mungkin tertutupi oleh apapun. Rasa, gelisah, semua berpadu dalam satu unsur yang mengantarkanku pada kerinduan.

            Mungkin hati tersebab rindu atau hanya rasa yang mulai jemu akan penantian semu. Event-event yang seharusnya kulalui bersama seorang kekasih, tak mungkin bisa lagi. Ingin sekali aku mengakhiri semua perasaan ini, terlalu lelah untuk kumainkan perasaan ini. Terlalu mudah juga untuk ku merindukan laki-laki itu.

            Tak lupa dari yang namanya kenangan, tak akan pernah lepas dari sebuah ingatan. Kau dan aku, akan menjadi ‘kita’ yang baru. Suatu saat nanti akan bertemu kembali. Kala tak ada lagi kata perpisahan yang membuat kita harus menjadi individu baru. Takkan pernah ada lagi kata benci diantara kita, yang tersisa hanyalah sebuah rindu yang masih melanda dalam hati. Kerinduan yang terasa sesaat, namun begitu cepat membius hati. Kadang, hujan tak mampu menyamarkan rasa rindu ini. Rindu ini benar-benar berlarut hingga hanya menyisakan ingatan saat ini.

            Inilah akhirnya dari kisah perpisahan kita, kita tetaplah kita. Meski kepercayaan di antara kita masih berbeda, namun tak ada sesuatu yang bisa menghalangi perasaan ini. Cinta, mungkinkah aku masih cinta? Biarlah semua berlalu, namun tak mudah untuk kulewati perasaan ini. Aku, bertengger dalam suasana seperti ini, sebuah hiasan abstrak namun pasti bisa kurasakan. Suara desau angin seolah memperpanjang suasana kali ini, setangkup haru dalam rindu masih tersisa.

            Masih adakah laki-laki yang sejak beberapa tahun lalu selalu menghiasi setiap waktu panjangku? Masih adakah perasaan cinta dalam jiwa, yang sempat terkubur selama beberapa tahun? Biarkan Tuhan yang menjawab semuanya. Kau, aku, dan kita. Biarkan selamanya seperti itu.

-oOo-

            “Pa, besok aku kembali ke Indonesia ya. Gapapa, kan? Aku kan sudah tiga tahun gak kesana, boleh ya, pa?” Aku meminta izin kepada papa, yang masih terkesan sangat tegas dalam memilih keputusan. Terbukti sejak tiga tahun yang lalu, papa memisahkanku dengan laki-laki yang saat ini –mungkin- masih berada di Bandung.

            Papa hanya menatapku, tanpa langsung menjawab pertanyaanku. Ah, iya. Sepertinya papa sedang menatap kedua bola mataku, seperti yang sedang mencari sesuatu dari tatapan mataku. “Jangan bilang kalau kamu masih mempunyai tujuan untuk bertemu laki-laki itu, papa gak suka. Sudah papa bilang, kamu tidak pantas…”

            Aku menyela, “Papa, percaya deh sama aku. Aku kan sudah besar, masa iya aku gak bisa membulatkan keinginan papa. Lagipula, aku malu kalau ketemu dia, pa. Papa tahu mungkin kalau aku dan dia sudah lama gak bertemu, papa pasti merasakanlah. Aku ke Indonesia cuma ingin bertemu mama.” Aku mencoba berbohong, lagipula papa tidak akan mengizinkanku untuk pulang ke Indonesia sebelum aku mendapatkan jodoh di negeri ini, Australia. Hmm, kalau dipikir-pikir, di negeri ini tidak ada sesuatu yang menarik bagiku. Aku hanya tertarik dengan pendidikannya saja, karena negara ini merupakan salah satu negara maju, tidak seperti negara Indonesia yang memiliki status developing country.

            Tinggal di negara orang lain memang membosankan, belum lagi konsumsi untuk kehidupan sehari-hari harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Di samping itu, pendidikannya benar-benar asyik, namun tak ada satupun yang akrab denganku kecuali seseorang yang sempat ayah duga bahwa itu pacar terbaruku, William Calvin. Panggil saja Calvin, namun aku memanggilnya khusus dengan sebutan Alvin. Kebetulan, dia pun mahir berbahasa Indonesia.

            Kembali kufokuskan tatapanku ke arah papa yang kini malah sibuk membaca koran di sofa ruang tamu, aku hanya mendesah pelan melihatnya. Aku hanya menggelengkan kepala. “Papa, gimana? Boleh, kan? Papa kan tahu kalau aku sudah punya pacar baru.” Dustaku dengan sebuah senyuman manis untuknya, senyum palsu. Aku hanya berharap semoga papa mengizinkan aku untuk kembali, ya kembali untuk mengulang suasana  dulu.

            Lamunanku buyar seketika ketika papa membisikkan nama seseorang, ya aku merasakan bisikan lembut itu. Namun papa selalu berbisik kasar dengan nada sinis, ketika nama laki-laki yang saat ini masih aku rindukan keluar dari mulutnya. “Kamu masih ingat, kan, dimana tepatnya rumah mama kamu?” Tanya papa kepadaku dengan serius.

            Tentu saja aku menjawabnya penuh semangat. “Ingat dong, pa. Mana mungkin sih lupa.” Begitu tuturku. Papa hanya menggeleng melihat kelakuanku, aku memang masih seperti anak kecil ketika meminta-minta papa untuk mengabulkan keinginanku. Tetapi diluar sana, aku terkesan sangat cuek terhadap situasi.

            “Kamu pulang bareng Calvin ya?” Mendadak semnagatku menghilang begitu saja ketika nama itu harus terlontar dari mulutnya, hingga merambat ke pendengaranku. Ah, lebih baik aku tidak kembali jika memang harus ditemani laki-laki yang sama sekali tak pernah aku anggap seperti yang penah papa katakan.

            Pipiku mengembung, ku tarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan bersamaan dengan pipiku yang kemudian kembali seperti biasanya. “Yah, papa. Masa aku udah gede ini masih aja harus ditemani Alvin sih? Aku kan udah gede kali, pa. Kesannya itu seperti yang gak bebas.” Keluhku sambil membuang muka, menghindari omelan papa yang sebentar lagi pasti merambat ke telingaku. Aku telah mampu menghirup hawa panas di sekitar papa, papa pasti emosi.
            Alibiku yang pertama terucap memang autentik, namun entah kenapa kali ini papa tidak bisa mempercayaiku ketika aku meminta untuk pergi sendiri

            Saat itu juga papa menatapku tajam sambil mengarahkan telunjuknya ke arah wajahku. “Ify, kamu milih untuk pulang atau tetap disini. Kamu boleh pulang asalkan ditemani Alvin, dan kalau kamu tetap ingin pergi sendiri, lebih baik papa tidak mengizinkan kamu!” Ancamnya dengan penuh penekanan. “Jadi, kamu memilih mana?” Tanyanya selanjutnya.

            Dengan lemas, aku menjawabnya, “Aku memilih mati, pa.” Sontak saja papa mendelik ke arahku. Apa yang salah dariku? Bukankah ini keputusan yang lebih baik daripada harus memilih salah satu diantara dua pilihan tadi? Ah, suasana kembali menjadi overheat.

            Sesaat setelah ucapanku selesai, papa mengangguk mengerti. “Oh, kamu lebih memilih mati disini? Baguslah.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku. Papa berjalan menuju anak tangga.

            Tanpa putus asa, aku mengejarnya. “Pa, papa!” Teriakku dengan keras, untung saja papa menghentikan langkah kakinya dan mengedikkan kepalanya ke arahku. Aku menghampirinya. “Aku memilih untuk pulang, pa. Kalau memang harus ditemani Alvin, aku siap, pa.” Ucapku dengan sedikit menyerah, nafasku masih memburu. “Tapi aku ingin sore ini aku ke bandara.” Lanjutku.

            “Oke, sekarang kamu temui dulu Calvin, dan ajak juga dia sampai dia mau.” Aku menghela nafas sejenak, papa benar-benar keras terhadap keputusannya. Well, aku jalani saja.

***

            “Gimana, Vin? Kamu mau, kan? Ya sekalian aja kamu jalan-jalan untuk menambah pengalaman.” Tawarku dengan nada lembut, aku membusungkan dadaku sejenak sambil perlahan menghembuskan nafas lega.

            Perlahan laki-laki itu menghela nafas dan siap membuka kata-katanya. “Oke, aku mau kok. Lagipula, aku punya saudara disana, tepatnya di Jakarta.” Balasnya, didahului dengan sebuah anggukan, membuat senyumanku mengembang.

            Ide brilian! Alvin di Jakarta, dan aku bisa bergerak bebas ke Bandung. Tanpa pengawasan laki-laki itu pula. Ah, senangnya. Tubuhku terasa seperti sedang melayang saat ini, menari-nari diatas kebahagiaan yang saat ini kudapatkan. Kamu memang baik, Alvin. Hihi.
            Tak lama, Alvin kembali bertanya kepadaku, “Kapan berangkatnya?”

            Dengan penuh semangat, aku menjawabnya lantang, “Sore ini!!!” Aku masih bisa merasakan kesenangan ini, it’s very happy. Aku berharap ketika sampai di Bandung, orang yang pertama kali aku temui adalah sosok laki-laki yang selalu menghantui pikiranku, Ario Satria Putra.

***
            Pesawat yang aku tumpangi telah take off sejak beberapa menit yang lalu, kini aku berada dalam pesawat ini dengan ditemani seorang laki-laki yang saat ini sedang sibuk menatap layar handphonenya. Daripada bosan, lebih baik aku membuka situs jejaring sosial yang telah lama tak pernah aku buka, tepatnya sejak dua bulan yang lalu.
            Seketika semangatku hilang begitu saja ketika aku mendapati sebuah photo yang terpajang jelas di timeline milikku. Itu photo Rio! Tak lama aku mengunduh photo itu, dan perlahan air mataku mengalir hingga menetesi keyoboard laptopku. Kemudian aku mencoba stalk profilnya, barangkali ada sesuatu yang berubah. Tepat saat itu juga dadaku terasa sesak ketika membaca bio barunya. Cashilla Alifa. Siapa dia? Semoga dia bukan siapa-siapa.

            “Fy, kok kamu nangis?”

            Aku tersentak ketika pertanyaan itu berhasil mendarat di telingaku, aku belum sempat menjawabnya, namun Alvin segera menghapus air mataku yang membentuk segurat garis di kedua pipiku. Dengan lembut dan begitu hangat kurasakan.

            Tiba-tiba tubuhku terkunci ketika balutan hangat yang dibuat laki-laki itu begitu terasa sangat kentara. “Jangan terlalu membuang air mata, Fy. Air mata itu sangat berharga, dan jangan biarkan ia kering disaat seseorang yang kamu cintai harus berpisah begitu saja.” Ucap Alvin dengan sangat diplomatis.
            Sejenak aku terdiam, kata-kata Alvin begitu sangat menusukku. Lagipula darimana laki-laki itu bisa tahu bahwa air mata ini keluar hanya karena Rio. Aku benar-benar sentimental, bisa-bisanya perasaanku tersentuh ketika sebuah nama begitu erat dalam bio twitternya. Perasaanku benar-benar kacau.

            “Lebih baik kamu tidur, tenangkan perasaan kamu lewat tidur. Dan kamu akan menemukan semangat baru disana, tepatnya setelah kamu bangun.” Aku hanya mengangguk menuruti kata-katanya. Tidak masalah, lagipula kata-katanya memang benar bahwa aku perlu istirahat untuk menuangkan ketenangan yang saat ini masih kuincar. Aku masih belum tenang.

***

            Suasana benar-benar berbeda, suasana Bandung yang dulu kukenal sebagai tempat yang banyak menyimpan memori ternyata kini tak lagi menyisakan kenangan itu. Perkotaan semakin padat dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, menembus langit. Suasana taman yang dulu pernah aku pakai benar-benar berubah menjadi sebuah pabrik industri. Lalu, masihkah ada taman yang masih bisa kupakai untuk meluangkan waktuku bersama Rio? Semoga saja.

            Tadi, Alvin sempat berkata bahwa dirinya akan menjemputku kapan saja jika aku ingin kembali ke Australia. Aku tidak ingin kembali ke Autralia, aku masih ingin menghabiskan waktuku bersama Rio. Tiga tahun tanpa Rio, harus terbalaskan dengan kebersamaan yang panjang. Aku akan berusaha menciptakan kebersamaan itu.

            Untung saja Alvin memiliki saudara di Jakarta, jadi aku bisa kembali ke tempat ini –Bandung- sendiri, tanpa ditemani laki-laki itu. Mungkin akan ada tatapan tidak suka dari orang-orang di sekelilingku ketika aku ditemani Alvin. Begitulah orang-orang sekitar sini. Mereka tidak pernah menyukai orang yang terlihat sombong, berjalan bersama dengan seorang laki-laki yang dibawanya dari negara yang pernah ditempatinya.

            “Mama!!” Teriakku ketika sampai di gerbang rumahku. Gerbang ini menyimpan ingatan tentang aku dan Rio, dimana aku dipisahkan bersama Rio disini. Papa yang memisahkanku.
            Tidak lama seusai aku berteriak, perempuan separuh baya keluar dari dalam dan menghampiriku. “Ify? Kamu Ify, kan?” Tanyanya dengan penuh haru. Sepertinya mama memang merindukanku. Aku mengangguk saja.
            Mama membukakan gerbang, kemudian menuntunku masuk ke dalam. Aku tidak sabar lagi untuk segera ke kamar, menempatkan diri pada kasur empuk yang tak pernah kupakai.

            “Oh ya, ma. Mama masih ingat kan, tentang Rio?” Tanyaku dengan tidak sabar, membuat raut wajahnya berubah total. Kemudian aku terdiam ketika tatapan tak suka itu terlihat.

            Mama segera berlalu meninggalkanku. “Mama bosa mendengar nama itu, mama mau ke dapur dulu untuk memasak makanan kesukaan kamu.” Ucapnya.

            Mama memang tidak marah, hanya saja mama tidak suka dengan apa yang baru saja aku bahas. Aku mulai berjalan menuju ke kamarku, untuk menyimpan barang-barang yang cukup berat ini.

            Aku tidak memilik waktu istirahat. Yang sekarang aku lakukan adalah mengacak-acak tasku, mencoba mengambil setangkai bunga mawar yang sengaja aku beli untuk Rio. Seusainya, aku melangkah meninggalkan kamar dan menuju ke rumah Rio.

            Kini di tanganku terdapat setangkai bunga mawar dan juga secarik kertas yang terbungkus amplop warna cokelat. Kertas itu memang pemberian Rio, tepatnya ketika Valentine. Rio sengaja ingin memberiku sesuatu yang berbeda dari yang lainnya.

            “Rio…” Gumamku ketika melihat seorang laki-laki yang sedang menggandeng tangan seorang laki-laki. Aku masih bisa mengenali wajah laki-laki itu. Aku sangat yakin bahwa itu benar-benar Rio, dia memang Rio! Mengapa dia bisa secepat ini melupakan aku? Apakah ini balasan dari perasaanku selama ini? “Rio!!” Pekikku di tengah-tengah hujan yang mulai turun. Bunga mawar itu mengendur dari peganganku, bersamaan dengan secarik kertas dalam amplop cokelat yang mulai luntur terkena air hujan.

            Rio memutar badannya, sama halnya seperti perempuan yang berada di sampingnya. Jika memang harus kualami duka seperti ini, tolong kuatkan aku, Tuhan, aku mohon. Di tengah-tengah huja seperti ini, yang aku rasakan hanya panas dan sakit.

            “Ify?” Laki-laki itu menghampiriku, namun aku tak kuasa untuk melihatnya, sebab rasa sakit yang menutupi semuanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, mungkin sebaiknya aku cepat kembali ke Australia daripada harus merasakan sakit seperti ini, benar-benar membuatku sangan sesak.

            Aku hanya menatap kosong ke arah perempuan tadi, sementara aku merasakan bahwa Rio sedang memunguti bunga mawar itu dan juga amplop cokelat. “Ify? Kamu Ify, kan?” Tanya laki-laki itu tidak percaya, kedua telapak tangannya menempel erat di kedua pipiku. Namun aku tak kuasa menjawabnya.

            Karena terlalu lama bertahan pada situasi ini, aku memutuskan untuk pergi daripada harus merasakan sakit disini. Aku harus pergi!

            “Fy, tunggu!” Teriaknya tanpa menghiraukan perempuan yang ditinggalkannya. Sementara aku berlari sekuat tenaga untuk menjauh darinya. Aku tidak bisa melihat keadaan ini, ini terlalu sulit untukku. Haruskah aku melepaskan perasaan yang masih ada dan bergegas untuk melupakannya? Atau aku yang harus bertahan sampai laki-laki itu kembali? Rasanya memang tidak mungkin.

            Namun apalah arti keinginanku jika pada akhirnya aku benar-benar lemas, tenagaku benar-benar terkuras dan laki-laki itu tak pernah menyerah untuk mengejarku. Aku terjatuh saat itu juga, kau tak mampu lagi menopang badanku, aku lemas. Aku merasakan bajuku benar-benar basah kuyup.

            “Ify! Jangan lari, Fy. Aku mohon.” Pintanya, kemudian ia mendekatiku. Namun aku segera berdiri dan membelakangi laki-laki itu, aku masih enggan untu kmenatapnya, sebab laki-lak iitu adalah inti dari kekacauan yang aku rasakan saat ini. “Bukankah ini permberian dari aku, sejak tiga tahun yang lalu, Fy? Saat itu aku berusaha untuk memberikan sesuatu yang berbeda, yah Valentine tepatnya. Ternyata kamu masih menyimpan ini.” Ujarnya dengan penuh kesenangan.

            Aku hanya berdecak kesal. “Kalau aku tahu kejadiannya bakal seperti ini mungkin aku gak akan pernah mau untuk menyimpan pemberian kamu, apa arti perasaanku selama ini jika akhirnya ternyata kamu malah berpaling. Apa salah aku, Yo, apa?!!” Tanyaku sambil membalikkan badan dan menatap tajam ke arahnya, meskipun hujan menyamarkan keadaan saat ini.

            Rio menggeleng. “Gak, Fy. Aku tetap memiliki perasaan untuk kamu…”

            “Terus perempuan tadi siapa? Oh, jadi itu yang namanya Cashilla Alifa itu? Ck, dengan mudahnya kamu melupakan aku lewat perempuan itu.” Aku meremehkannya. Jujur saja, perasaanku menjadi tidak nyaman ketika nama itu harus terucap dari mulutku.

            “Enggak, Fy, dia bukan siapa-siapa. Iya, dia emang Cashilla, aku memanggilnya Shilla tapi dia bukan siapa-siapa aku, Fy!!” Jelasnya dengan nada parau, Rio terus merengek untuk meminta kepercayaan terhadapku.

            Oke, aku tidak begitu mudah untuk mempercayainya. Aku tidak bisa mempercayainya, benar-benar tidak bisa! Namun perasaan ini semaki nmembuatku luluh terhadapnya, sepertinya aku benar-benar masih memiliki perasaan terhadap laki-laki itu. “Terus, di bio twitter kamu itu apa? Keren ya, sekarang kamu berani berbohong kepadaku.” Celotehku. “Oh ya, kalo memang caranya harus seperti ini, lebih baik aku kembali ke Australia bersama laki-laki yang benar-benar menyayangiku, tidak seperti kamu!” Lanjutku, sambil menatap tajam ke arahnya. Tak perduli seberapa sakitnya laki-laki itu.
            Saat itu, hujan mulai mereda. Aku segara meraih ponsel dari kantong celanaku dan segera mengetik sebuah pesan untuk Alvin.

 To : Alvin
    Vin, besok aku mau pulang ke Australia, nanti aku ke Jakarta sekitar
    pukul 07.00 kamu tunggu ya.


            “Besok aku kembali ke Australia, jangan harap aku akan kembali.” Ujarku dengan tegas tanpa menatap kedua bola mata laki-laki itu. Aku harus kembali, ya aku harus kembali!

            Tiba-tiba saja Rio seperti yang kesakitan, tangannya memegang dadanya dengan sangat erat. Sepertinya dia benar-benar kesakitan. “Silakan, Fy, silakan. Kalau memang kamu tidak percaya aku, silakan kamu tinggalkan aku. Aku akan baik-baik saja disini dan aku berharap kamu pun akan baik-baik saja, sebab umurku tidak akan cukup lama lagi untuk bertahan di dunia ini. Kamu akan mengetahuinya nanti, aku tidak bisa lagi nyata di kehidupan kamu.” Tuturnya sambil terus memegang dadanya.

            Bodo. Aku hanya melipatkan kedua tanganku dan bersikap cuek terhadap apa yang baru saja dikatakannyal. “Terus aku perduli gitu? No, no, aku tidak akan pernah perduli sebelum perempuan yang bernama Cashilla itu mengaku.”

            “Aku setia sama kamu, tolong percaya aku dan aku tak pernah sedikitpun untuk mencari pengganti kamu, tapi kenapa akhirnya seperti ini? Kamu harus percaya aku, dan aku berharap kamu percaya kepadaku, Fy.” Masih dengan tatapan berharap, namun aku tak pernah menghiraukannya sebab rasa sakit yang menguatkan keadaan ini.

            Cuma berharap? Aku tak pernah bisa memastikan harapannya dan aku bukanlah seseorang yang mampu menciptakan suasana baru. Aku pun manusia yang mempunyai perasaan dan tak semudah itu hatiku bisa melepaskan rasa sakiti itu. Aku takut jika aku percaya, laki-laki itu akan semakin menyakitiku, aku benar-benar takut.

            “Itu cuma harapanmu saja dan aku tak akan pernah bisa menjadi sesuatu yang kamu inginkan lagi. Kamu pernah merasakan perpisahan kita waktu itu karena orang tuaku yang tidak bisa menerima terhadap kita yang berbeda kenyataan, dan sekarang kita kembali harus merasakan perpisahan lagi karena apa? Karena kita telah memiliki seseorang yang kini berbeda, kamu menemukan penggantiku dan begitu pula denganku. Kamu bersama perempuan yang kamu panggil dengan nama khusus ‘Shilla’ dan aku besama laki-laki yang aku panggil dengan nama khusus ‘Alvin’. Cashilla Alifa dan William Calvin adalah peran baru yang mungkin diciptakan Tuhan untuk mengubur kenangan kita, sekian atas perasaanku terhadapmu. Aku tak mungkin bisa menciptakan suasana seperti dulu, selamat tinggal.” Jujur, aku tak kuasa mengucapkan kata-kata yang begitu berat bagiku, namun harus aku lakukan demi yang terbaik. Dan perlahan aku pun akan mampu menghapus rasa sakit ini.

            “Dulu, kita saling meleburkan perbedaan namun sekarang kita memang berbeda lagi. Dulu, kita memang berbeda iman dan sekarang mungkin kita berbeda pengertian…”

            “Karena aku bukanlah aku yang dulu, yang kini kamu harapkan. Aku telah dewasa dan mampu memahami situasi seperti ini, ada saatnya dimana aku harus mengakhiri kisah hidupku dan ada saatnya dimana aku harus memulai hidup baru.” Potongku dengan cepat, aku terlalu lelah untuk membalas setiap ucapannya. Aku tak bisa berlama-lama dengan perasaan ini dan aku tak akan mungkin bisa seperti dulu, seperti yang saat ini diharapkan laki-laki itu.

            Tetes demi tetes air mata mengiringi setiap kata-kata yang begitu bebas terlontar dari mulutku, aku tidak bisa menentukan pilihan lain selain kembali ke Australia. Aku sangat merasa berdosa karena telah mengabaikan kata-kata papa. Untuk selanjutnya, aku tak akan pernah ingin lagi kembali ke Indonesia.

            Aku mengambil ancang-ancang untuk berlalu, namun sebelumnya sebuah tangan sempat menahanku dengan sangat keras hingga aku tak mampu memberontak. Terlalu kuat untuknya melepaskan aku, aku merasakannya. Ini bukanlah sebuah taste yang biasa, ini sangat menyesakkan untukku. Selama bertahun-tahun merindu, namun yang aku dapatkan hanyalah sebuah balasan yang menyakitkan. Dia, benar-benar tak lagi mengingatku dan dia berpaling dariku.

            “Dulu aku berharap kita bisa merayakan lagi Valentine bersama-sama tapi sepertinya tidak mungkin, sangat tidak memungkinkan. Kamu dan aku telah berbeda, Fy.” Sebuah prospek yang sangat kecil, tidak akan mungkin menjadi kenyataan untukku. Rio memang benar, itu tidak akan lagi pernah terjadi.

            Tanganku bergerak untuk menyentuh lengannya untuk yang terakhir kalinya dan laki-laki itu malah memelukku dengan sangat erat. “Kenapa kamu memelukku, kenapa? Bukankah ada orang lain yang lebih baik dari aku dan lebih tepat untuk berada dalam pelukanmu?” Tanyaku sambil memukul-mukul ringan dada bidangnya. Aku masih merasakan kehangatan disana, ya aku masih bisa.

            “Cashilla itu saudaraku dan tidak semudah itu kamu membuktikan bahwa Shilla pengganti kamu.” Bisik laki-laki itu tepat di telingaku, membuatku terpekur dalam suasana dingin ini.

          Rio, maaf aku tidak bisa bertahan lagi. Kamu tahu, kan bagaimana orangtua aku? Dia memang keras, tidak bisa ditentang. Mereka akan mengusirku dan tidak akan pernah mau menganggapku lagi sebagai anak mereka. Mereka tidak akan pernah ingin mengenalku lagi. Maafkan aku, Yo. Kita putus. Maaf, maaf, maaf. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi selain menuruti keinginan mereka. Aku harap kamu mengikhlaskannya. Mungkin jika memang kita jodoh, suatu saat kita akan bertemu kembali. Tetapi jika memang kamu bukan takdirku, mungkin rasa itu memang harus lenyap. Maafkan aku, Rio. Semoga kamu mendapatkan penggantinya, yang lebih baik dari aku dan bisa menyaingi aku dalam hal apapun. Aku bahagia pernah menikmati kebersamaan denganmu, dan mungkin kemarin adalah hari Valentine yang kita lewati untuk terakhir kalinya. Kita benar-benar tidak bisa satu kuliah lagi. Kata-kata itu terbisikkan lembut ke telingaku, kata-kata yang sampai sata ini masih diingat laki-laki itu. Aku tak kuasa untuk menahan tangis, begitu besar perasaanku untuknya.

          “Aku masih mengingat kata-kata itu, Yo dan mengapa kamu bisa hafal akan kata-kata itu? Aku tak pernah meminta kamu untuk menghafal kata-kata itu.” Ujarku lemas sambil menatap Rio dengan sayu, mataku benar-benar lelah untuk terbuka. Aku perlu istirahat dan aku merasakan mataku semakin panas.

          Rio menyibakkan poniku, lalu menghela nafas sejenak dan menatapku dengan halus. “Karena di dalam kata-kata itu terdapat janji suci yang kita bangun berdua, kita memang pantas untuk bersatu dan kita memang harus memperjuangkan perasaan itu.” Katanya dengan nada berbisik, membuatku terpekur dalam bisikan lembutnya itu. Aku hanya terdiam sesaat.

          “Namun janji kita, yang tertanam dalam hati harus usang begitu saja sebab perasaan tak lagi mampu menahannya. Selamat tinggal, Rio.” Ucapku sambil berlalu meninggalkan Rio.

***

            “Siap kan, Vin?” Tanyaku tanpa semangat. Alvin hanya mengangguk pasti.

            Namun tiba-tiba sebuah teriakan membuat langkahku terhenti kemudian aku memutar badanku. Itu Cashilla. Aku akan memasang wajah seangkuh mungkin, aku tak perduli dengan dia.

            “Ca-cashilla?” Alvin menganga tak percaya, sementara aku menatapnya penasaran. Entah apa yang ditatap laki-laki itu, aku tidak bisa membaca pikirannya.

            Ia menghampiriku. “Kamu Ify, kan?” Aku hanya mengangguk. “Tolong, Kak Rio. Sejak tadi pagi kondisi tubunya melemah, dan Kak Rio saat ini dirawat di rumah sakit karena terkena virus HIV, tepatnya sejak beberapa bulan yang lalu.”

            “Rio, menderita AIDS? Gak, gak mungkin.” Aku menyangkal tak percaya, belakangan ini Rio terlihat sangat baik-baik saja. Apa mungkin aku yang tidak terlalu perduli terhadapnya? “Lalu, kamu siapa?” Tanyaku selanjutnya. “Pacarnya Rio?”

            “Apa? Cashilla pacar Rio? Gak mungkin, Fy, dia gak mungkin mengkhianati aku, Fy.” Tiba-tiba saja Alvin mencampuri percakapan kami. Aku semakin dibuat heran oleh keduanya.

            Cashilla hanya mengangguk ke arah Alvin lalu tersenyum simpul kepadaku. “Aku saudara kak Rio dan Kak Alvin adalah teman aku, dulu aku pernah berkata kepada Alvin bahwa aku berjanji tidak akan mau menjadi pacar dia, Fy.” Ujarnya dengan perlahan.

            “Oh ya sudah, dimana dia sekarang?” Sambarku cepat karena ingin sekali aku meminta maaf kepada Rio. Aku benar-benar merasa bersalah karena peristiwa kemarin.

            Perempuan itu mendahuluiku. “Ayo, kak.” Ajaknya sambil mengekori kami berdua.

***

            Tepat di ruangan bernomor 189, seorang laki-laki terbaring disana. Rio benar-benar terlihat lemah dan sepertinya ia menyadari kedatanganku, lalu tatapannya beralih kepada Alvin. Sepertinya Rio tidak nyaman dengan kedatangan Alvin, namun di samping itu Alvin ditemani oleh Cashilla.

            “Dia siapa, Fy? Jangan PHP-in aku, Fy. Kamu datang kesini tapi bersama seorang laki-laki lain yang kamu katakan bahwa dia pengganti kamu, aku gak mau, Fy!” Ujarnya dengan nada keras, aku takut Alvin mengetahui peristiwa kemarin lewat kata-kata yang diucapkan Rio. Namun aku hanya tersenyum ke arah Alvin, mengisyaratkan agar ia bersikap biasa-biasa saja.

            Aku menghampiri Rio dan tersenyum ke arahnya. “Yo, aku minta maaf. Mungkin aku lancang terhadap kamu dan jika memang kamu tidak ingin memaafkan aku, aku bisa menerimanya.” Ucapku dengan ikhlas, meskipun terasa sangat berat.

            “Berjanjilah untuk setia, Fy.” Bisiknya. Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian aku mendekap lengannya dengan erat seolah tidak ingin lagi terpisahkan dengan laki-laki itu.

            “Aku tidak ingin berpisah lagi, Yo.”

            Sementara Cashilla dan juga Alvin hanya berdehem melihatku. “Mesra banget, sih? Kita nyaris deh jadi obat nyamuk, ya gak, Vin?” Celoteh Shilla sambil menyikut Alvin. Sementara Alvin hanya terkekeh ke arahku.

            Rio segera mengambil posisi duduk. “Laki-laki itu siapa, Fy?” Tanyanya sambil mengarahkan tatapannya ke arah Alvin, yang berdiri di sebelah Cashilla.

            “Ini teman aku dan juga teman Ify. Aku kenal dia karena pertemuan di pantai waktu itu, sedangkan Ify kenal dia karena Alvin sama-sama kuliah di Australia.” Shilla menjelaskan semuanya, sehingga tidak ada lagi yang tertutup di antara kami.

            “Berjanji, Fy, berjanjilah. Jangan lagi pergi.”

            “Oh iya, Fy. Kata papa kamu, kamu dan Rio boleh-boleh aja tuh bersatu, karena perasaan kamu tidak bisa dipaksakan. Kamu tidak bisa dipaksakan untuk melupakan Rio, karena kamu dan Rio memiliki kontak batin yang tidak bisa diketahui siapapun.” Jelas Alvin. “Tadi dia bilang di telepon.”

            Sementara Shilla tersenyum jahil ke arahku. “Ciye, longlast deh.”
            Kemudian suasana haru berubah dengan kebahagiaan, suara tawa menggema di ruangan ini. Aku tak pernah menyangka bahwa kebahagiaan ini akan aku dapatkan dan aku tidak pernah mengajuk bahwa ini akan menjadi akhir dari perjalanan perasaan ini. Aku benar-benar bahagia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar