Belum sempat ada
kata cinta yang terlontarkan kepada seseorang yang entah dimana untuk sampai
saat ini, belum sempat tangan-tangan itu menyentuh lembut tubuhnya. Jika memang
haruslah takdir yang membuat kisah itu terpisah, bila memang hanya itulah
satu-satu yang terbaik mungkin tak mudah untuk memilih hal itu. Tak mudah juga
melepas sesuatu yang telah menjadi belenggu hidup diatas masa lalu yang –dengan
harapan- akan indah di masa mendatang. – Ify
Aku masih mengingat kapan tepatnya
kita bertemu dan juga berpisah, semoga kamu adalah seseorang yang diciptakan
Tuhan untukku dan semoga dengan kepergianmu itu akan mengembalikanmu kepadaku
suatu saat nanti. Aku belum sempat menciptakan kebahagiaan untukmu sebab
perpisahan yang membuat kita harus berhenti disini. Ini memang takdir, tapi tak
selayaknya kita salahkan. Sebab kita akan kembali pada dimensi waktu yang
berbeda, suatu saat. – Rio
***
Senandung
lagu menciptakan suasana hati yang kian merapuh selama belakangan ini. Kapan
dan kapan lagi akan bisa merubah keadaan saat ini, entah itu perasaan yang tak
terbalaskan atau perasaan yang tak pernah berubah, selalu bersandar pada jiwa
yang kini berubah menjadi sesuatu yang samar. Bayang-bayangan tentang laki-laki
yang kini menjelma menjadi sesosok manusia sempurna itu perlahan mulai
menari-nari di pikiran.
Perasaan
yang tak pernah disangka akan hadir lagi setelah ratusan hari perpisahan itu
nyata hingga berujung kehidupan baru, individu dalam hidup dan tak begitu mudah
menjalaninya. Selalu saja ada aral yang menghadang, namun laki-laki itu tetap
menjadi sesuatu yang sangat sempurna, menduduki peringkat pertama dalam hidup.
Perpisahan itu benar-benar sangat kentara, tak lagi menyisakan sebuah senyuman,
apalagi mengingat semua yang berputar dalam masa lalu hanya menyisakan
keperihan yang sampai saat ini masih bersemayam dalam hati.
Tiga
tahun terpisah bukanlah akhir dari segalanya, masih ada perasaan yang yang
menyelubungi setiap sudut angan-anganku. Tiga tahun berpisah bukan berarti aku
harus melupakannya, namun membuatku semakin merindu akan masa lalu itu. Tiga
tahun berpisah, tik, tik, tik, sampai detik yang berlalu pun tak mampu
mempositifkan ingatanku untuk melupakanmu. Sekian lama waktu melawanku untuk
mencoba melupakanmu, namun hanya satu yang berpegang teguh pada hakikatnya.
Hati. Enggan untuk melepaskan segala rasa yang berkecamuk dalam ruang jiwa,
terasa melekat perasaan itu. Masih tersimpan sebuah kenangan yang manis, meski
kini mulai lapuk dimakan usia. Entahlah, segala resah jiwa tak mudah tersingkirkan.
Dalam
ruang waktu, setidaknya masih ada perasaan itu, perasaan yang tidak bisa
untukku merealisasikannya, sebab duk masihlah berpihak kepadaku. Tentang rasa
sakit yang dulu pernah ada, mungkin setidaknya masih menyisakan bekas yang
takkan mungkin tertutupi oleh apapun. Rasa, gelisah, semua berpadu dalam satu
unsur yang mengantarkanku pada kerinduan.
Mungkin
hati tersebab rindu atau hanya rasa yang mulai jemu akan penantian semu.
Event-event yang seharusnya kulalui bersama seorang kekasih, tak mungkin bisa
lagi. Ingin sekali aku mengakhiri semua perasaan ini, terlalu lelah untuk
kumainkan perasaan ini. Terlalu mudah juga untuk ku merindukan laki-laki itu.
Tak
lupa dari yang namanya kenangan, tak akan pernah lepas dari sebuah ingatan. Kau
dan aku, akan menjadi ‘kita’ yang baru. Suatu saat nanti akan bertemu kembali.
Kala tak ada lagi kata perpisahan yang membuat kita harus menjadi individu
baru. Takkan pernah ada lagi kata benci diantara kita, yang tersisa hanyalah
sebuah rindu yang masih melanda dalam hati. Kerinduan yang terasa sesaat, namun
begitu cepat membius hati. Kadang, hujan tak mampu menyamarkan rasa rindu ini.
Rindu ini benar-benar berlarut hingga hanya menyisakan ingatan saat ini.
Inilah
akhirnya dari kisah perpisahan kita, kita tetaplah kita. Meski kepercayaan di
antara kita masih berbeda, namun tak ada sesuatu yang bisa menghalangi perasaan
ini. Cinta, mungkinkah aku masih cinta? Biarlah semua berlalu, namun tak mudah
untuk kulewati perasaan ini. Aku, bertengger dalam suasana seperti ini, sebuah
hiasan abstrak namun pasti bisa kurasakan. Suara desau angin seolah
memperpanjang suasana kali ini, setangkup haru dalam rindu masih tersisa.
Masih
adakah laki-laki yang sejak beberapa tahun lalu selalu menghiasi setiap waktu
panjangku? Masih adakah perasaan cinta dalam jiwa, yang sempat terkubur selama
beberapa tahun? Biarkan Tuhan yang menjawab semuanya. Kau, aku, dan kita.
Biarkan selamanya seperti itu.
-oOo-
“Pa,
besok aku kembali ke Indonesia ya. Gapapa, kan? Aku kan sudah tiga tahun gak kesana,
boleh ya, pa?” Aku meminta izin kepada papa, yang masih terkesan sangat tegas
dalam memilih keputusan. Terbukti sejak tiga tahun yang lalu, papa memisahkanku
dengan laki-laki yang saat ini –mungkin- masih berada di Bandung.
Papa
hanya menatapku, tanpa langsung menjawab pertanyaanku. Ah, iya. Sepertinya papa
sedang menatap kedua bola mataku, seperti yang sedang mencari sesuatu dari
tatapan mataku. “Jangan bilang kalau kamu masih mempunyai tujuan untuk bertemu
laki-laki itu, papa gak suka. Sudah papa bilang, kamu tidak pantas…”
Aku
menyela, “Papa, percaya deh sama aku. Aku kan sudah besar, masa iya aku gak
bisa membulatkan keinginan papa. Lagipula, aku malu kalau ketemu dia, pa. Papa
tahu mungkin kalau aku dan dia sudah lama gak bertemu, papa pasti merasakanlah.
Aku ke Indonesia cuma ingin bertemu mama.” Aku mencoba berbohong, lagipula papa
tidak akan mengizinkanku untuk pulang ke Indonesia sebelum aku mendapatkan
jodoh di negeri ini, Australia. Hmm, kalau dipikir-pikir, di negeri ini tidak ada
sesuatu yang menarik bagiku. Aku hanya tertarik dengan pendidikannya saja,
karena negara ini merupakan salah satu negara maju, tidak seperti negara
Indonesia yang memiliki status developing country.
Tinggal
di negara orang lain memang membosankan, belum lagi konsumsi untuk kehidupan
sehari-hari harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Di samping itu,
pendidikannya benar-benar asyik, namun tak ada satupun yang akrab denganku
kecuali seseorang yang sempat ayah duga bahwa itu pacar terbaruku, William
Calvin. Panggil saja Calvin, namun aku memanggilnya khusus dengan sebutan
Alvin. Kebetulan, dia pun mahir berbahasa Indonesia.
Kembali
kufokuskan tatapanku ke arah papa yang kini malah sibuk membaca koran di sofa
ruang tamu, aku hanya mendesah pelan melihatnya. Aku hanya menggelengkan
kepala. “Papa, gimana? Boleh, kan? Papa kan tahu kalau aku sudah punya pacar
baru.” Dustaku dengan sebuah senyuman manis untuknya, senyum palsu. Aku hanya
berharap semoga papa mengizinkan aku untuk kembali, ya kembali untuk mengulang
suasana dulu.
Lamunanku
buyar seketika ketika papa membisikkan nama seseorang, ya aku merasakan bisikan
lembut itu. Namun papa selalu berbisik kasar dengan nada sinis, ketika nama
laki-laki yang saat ini masih aku rindukan keluar dari mulutnya. “Kamu masih
ingat, kan, dimana tepatnya rumah mama kamu?” Tanya papa kepadaku dengan
serius.
Tentu
saja aku menjawabnya penuh semangat. “Ingat dong, pa. Mana mungkin sih lupa.”
Begitu tuturku. Papa hanya menggeleng melihat kelakuanku, aku memang masih
seperti anak kecil ketika meminta-minta papa untuk mengabulkan keinginanku.
Tetapi diluar sana, aku terkesan sangat cuek terhadap situasi.
“Kamu
pulang bareng Calvin ya?” Mendadak semnagatku menghilang begitu saja ketika
nama itu harus terlontar dari mulutnya, hingga merambat ke pendengaranku. Ah,
lebih baik aku tidak kembali jika memang harus ditemani laki-laki yang sama
sekali tak pernah aku anggap seperti yang penah papa katakan.
Pipiku
mengembung, ku tarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara
perlahan bersamaan dengan pipiku yang kemudian kembali seperti biasanya. “Yah,
papa. Masa aku udah gede ini masih aja harus ditemani Alvin sih? Aku kan udah
gede kali, pa. Kesannya itu seperti yang gak bebas.” Keluhku sambil membuang
muka, menghindari omelan papa yang sebentar lagi pasti merambat ke telingaku.
Aku telah mampu menghirup hawa panas di sekitar papa, papa pasti emosi.
Alibiku
yang pertama terucap memang autentik, namun entah kenapa kali ini papa
tidak bisa mempercayaiku ketika aku meminta untuk pergi sendiri
Saat
itu juga papa menatapku tajam sambil mengarahkan telunjuknya ke arah wajahku.
“Ify, kamu milih untuk pulang atau tetap disini. Kamu boleh pulang asalkan
ditemani Alvin, dan kalau kamu tetap ingin pergi sendiri, lebih baik papa tidak
mengizinkan kamu!” Ancamnya dengan penuh penekanan. “Jadi, kamu memilih mana?”
Tanyanya selanjutnya.
Dengan
lemas, aku menjawabnya, “Aku memilih mati, pa.” Sontak saja papa mendelik ke
arahku. Apa yang salah dariku? Bukankah ini keputusan yang lebih baik daripada
harus memilih salah satu diantara dua pilihan tadi? Ah, suasana kembali menjadi
overheat.
Sesaat
setelah ucapanku selesai, papa mengangguk mengerti. “Oh, kamu lebih memilih
mati disini? Baguslah.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku. Papa berjalan
menuju anak tangga.
Tanpa
putus asa, aku mengejarnya. “Pa, papa!” Teriakku dengan keras, untung saja papa
menghentikan langkah kakinya dan mengedikkan kepalanya ke arahku. Aku
menghampirinya. “Aku memilih untuk pulang, pa. Kalau memang harus ditemani
Alvin, aku siap, pa.” Ucapku dengan sedikit menyerah, nafasku masih memburu.
“Tapi aku ingin sore ini aku ke bandara.” Lanjutku.
“Oke,
sekarang kamu temui dulu Calvin, dan ajak juga dia sampai dia mau.” Aku
menghela nafas sejenak, papa benar-benar keras terhadap keputusannya. Well, aku
jalani saja.
***
“Gimana,
Vin? Kamu mau, kan? Ya sekalian aja kamu jalan-jalan untuk menambah
pengalaman.” Tawarku dengan nada lembut, aku membusungkan dadaku sejenak sambil
perlahan menghembuskan nafas lega.
Perlahan
laki-laki itu menghela nafas dan siap membuka kata-katanya. “Oke, aku mau kok.
Lagipula, aku punya saudara disana, tepatnya di Jakarta.” Balasnya, didahului
dengan sebuah anggukan, membuat senyumanku mengembang.
Ide
brilian! Alvin di Jakarta, dan aku bisa bergerak bebas ke Bandung. Tanpa
pengawasan laki-laki itu pula. Ah, senangnya. Tubuhku terasa seperti sedang
melayang saat ini, menari-nari diatas kebahagiaan yang saat ini kudapatkan.
Kamu memang baik, Alvin. Hihi.
Tak
lama, Alvin kembali bertanya kepadaku, “Kapan berangkatnya?”
Dengan
penuh semangat, aku menjawabnya lantang, “Sore ini!!!” Aku masih bisa merasakan
kesenangan ini, it’s very happy. Aku berharap ketika sampai di Bandung, orang
yang pertama kali aku temui adalah sosok laki-laki yang selalu menghantui
pikiranku, Ario Satria Putra.
***
Pesawat
yang aku tumpangi telah take off sejak beberapa menit yang lalu, kini aku
berada dalam pesawat ini dengan ditemani seorang laki-laki yang saat ini sedang
sibuk menatap layar handphonenya. Daripada bosan, lebih baik aku membuka situs
jejaring sosial yang telah lama tak pernah aku buka, tepatnya sejak dua bulan
yang lalu.
Seketika
semangatku hilang begitu saja ketika aku mendapati sebuah photo yang terpajang
jelas di timeline milikku. Itu photo Rio! Tak lama aku mengunduh photo
itu, dan perlahan air mataku mengalir hingga menetesi keyoboard laptopku.
Kemudian aku mencoba stalk profilnya, barangkali ada sesuatu yang
berubah. Tepat saat itu juga dadaku terasa sesak ketika membaca bio barunya.
Cashilla Alifa. Siapa dia? Semoga dia bukan siapa-siapa.
“Fy,
kok kamu nangis?”
Aku
tersentak ketika pertanyaan itu berhasil mendarat di telingaku, aku belum
sempat menjawabnya, namun Alvin segera menghapus air mataku yang membentuk
segurat garis di kedua pipiku. Dengan lembut dan begitu hangat kurasakan.
Tiba-tiba
tubuhku terkunci ketika balutan hangat yang dibuat laki-laki itu begitu terasa
sangat kentara. “Jangan terlalu membuang air mata, Fy. Air mata itu sangat
berharga, dan jangan biarkan ia kering disaat seseorang yang kamu cintai harus
berpisah begitu saja.” Ucap Alvin dengan sangat diplomatis.
Sejenak
aku terdiam, kata-kata Alvin begitu sangat menusukku. Lagipula darimana
laki-laki itu bisa tahu bahwa air mata ini keluar hanya karena Rio. Aku
benar-benar sentimental, bisa-bisanya perasaanku tersentuh ketika sebuah nama
begitu erat dalam bio twitternya. Perasaanku benar-benar kacau.
“Lebih
baik kamu tidur, tenangkan perasaan kamu lewat tidur. Dan kamu akan menemukan
semangat baru disana, tepatnya setelah kamu bangun.” Aku hanya mengangguk
menuruti kata-katanya. Tidak masalah, lagipula kata-katanya memang benar bahwa
aku perlu istirahat untuk menuangkan ketenangan yang saat ini masih kuincar.
Aku masih belum tenang.
***
Suasana
benar-benar berbeda, suasana Bandung yang dulu kukenal sebagai tempat yang
banyak menyimpan memori ternyata kini tak lagi menyisakan kenangan itu.
Perkotaan semakin padat dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi,
menembus langit. Suasana taman yang dulu pernah aku pakai benar-benar berubah
menjadi sebuah pabrik industri. Lalu, masihkah ada taman yang masih bisa
kupakai untuk meluangkan waktuku bersama Rio? Semoga saja.
Tadi,
Alvin sempat berkata bahwa dirinya akan menjemputku kapan saja jika aku ingin
kembali ke Australia. Aku tidak ingin kembali ke Autralia, aku masih ingin
menghabiskan waktuku bersama Rio. Tiga tahun tanpa Rio, harus terbalaskan
dengan kebersamaan yang panjang. Aku akan berusaha menciptakan kebersamaan itu.
Untung
saja Alvin memiliki saudara di Jakarta, jadi aku bisa kembali ke tempat ini
–Bandung- sendiri, tanpa ditemani laki-laki itu. Mungkin akan ada tatapan tidak
suka dari orang-orang di sekelilingku ketika aku ditemani Alvin. Begitulah
orang-orang sekitar sini. Mereka tidak pernah menyukai orang yang terlihat
sombong, berjalan bersama dengan seorang laki-laki yang dibawanya dari negara
yang pernah ditempatinya.
“Mama!!”
Teriakku ketika sampai di gerbang rumahku. Gerbang ini menyimpan ingatan
tentang aku dan Rio, dimana aku dipisahkan bersama Rio disini. Papa yang
memisahkanku.
Tidak
lama seusai aku berteriak, perempuan separuh baya keluar dari dalam dan
menghampiriku. “Ify? Kamu Ify, kan?” Tanyanya dengan penuh haru. Sepertinya
mama memang merindukanku. Aku mengangguk saja.
Mama
membukakan gerbang, kemudian menuntunku masuk ke dalam. Aku tidak sabar lagi
untuk segera ke kamar, menempatkan diri pada kasur empuk yang tak pernah kupakai.
“Oh
ya, ma. Mama masih ingat kan, tentang Rio?” Tanyaku dengan tidak sabar, membuat
raut wajahnya berubah total. Kemudian aku terdiam ketika tatapan tak suka itu
terlihat.
Mama
segera berlalu meninggalkanku. “Mama bosa mendengar nama itu, mama mau ke dapur
dulu untuk memasak makanan kesukaan kamu.” Ucapnya.
Mama
memang tidak marah, hanya saja mama tidak suka dengan apa yang baru saja aku
bahas. Aku mulai berjalan menuju ke kamarku, untuk menyimpan barang-barang yang
cukup berat ini.
Aku
tidak memilik waktu istirahat. Yang sekarang aku lakukan adalah mengacak-acak
tasku, mencoba mengambil setangkai bunga mawar yang sengaja aku beli untuk Rio.
Seusainya, aku melangkah meninggalkan kamar dan menuju ke rumah Rio.
Kini
di tanganku terdapat setangkai bunga mawar dan juga secarik kertas yang
terbungkus amplop warna cokelat. Kertas itu memang pemberian Rio, tepatnya
ketika Valentine. Rio sengaja ingin memberiku sesuatu yang berbeda dari yang
lainnya.
“Rio…”
Gumamku ketika melihat seorang laki-laki yang sedang menggandeng tangan seorang
laki-laki. Aku masih bisa mengenali wajah laki-laki itu. Aku sangat yakin bahwa
itu benar-benar Rio, dia memang Rio! Mengapa dia bisa secepat ini melupakan
aku? Apakah ini balasan dari perasaanku selama ini? “Rio!!” Pekikku di
tengah-tengah hujan yang mulai turun. Bunga mawar itu mengendur dari
peganganku, bersamaan dengan secarik kertas dalam amplop cokelat yang mulai
luntur terkena air hujan.
Rio
memutar badannya, sama halnya seperti perempuan yang berada di sampingnya. Jika
memang harus kualami duka seperti ini, tolong kuatkan aku, Tuhan, aku mohon. Di
tengah-tengah huja seperti ini, yang aku rasakan hanya panas dan sakit.
“Ify?”
Laki-laki itu menghampiriku, namun aku tak kuasa untuk melihatnya, sebab rasa
sakit yang menutupi semuanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, mungkin
sebaiknya aku cepat kembali ke Australia daripada harus merasakan sakit seperti
ini, benar-benar membuatku sangan sesak.
Aku
hanya menatap kosong ke arah perempuan tadi, sementara aku merasakan bahwa Rio
sedang memunguti bunga mawar itu dan juga amplop cokelat. “Ify? Kamu Ify, kan?”
Tanya laki-laki itu tidak percaya, kedua telapak tangannya menempel erat di
kedua pipiku. Namun aku tak kuasa menjawabnya.
Karena
terlalu lama bertahan pada situasi ini, aku memutuskan untuk pergi daripada
harus merasakan sakit disini. Aku harus pergi!
“Fy,
tunggu!” Teriaknya tanpa menghiraukan perempuan yang ditinggalkannya. Sementara
aku berlari sekuat tenaga untuk menjauh darinya. Aku tidak bisa melihat keadaan
ini, ini terlalu sulit untukku. Haruskah aku melepaskan perasaan yang masih ada
dan bergegas untuk melupakannya? Atau aku yang harus bertahan sampai laki-laki
itu kembali? Rasanya memang tidak mungkin.
Namun
apalah arti keinginanku jika pada akhirnya aku benar-benar lemas, tenagaku
benar-benar terkuras dan laki-laki itu tak pernah menyerah untuk mengejarku.
Aku terjatuh saat itu juga, kau tak mampu lagi menopang badanku, aku lemas. Aku
merasakan bajuku benar-benar basah kuyup.
“Ify!
Jangan lari, Fy. Aku mohon.” Pintanya, kemudian ia mendekatiku. Namun aku
segera berdiri dan membelakangi laki-laki itu, aku masih enggan untu
kmenatapnya, sebab laki-lak iitu adalah inti dari kekacauan yang aku rasakan
saat ini. “Bukankah ini permberian dari aku, sejak tiga tahun yang lalu, Fy?
Saat itu aku berusaha untuk memberikan sesuatu yang berbeda, yah Valentine
tepatnya. Ternyata kamu masih menyimpan ini.” Ujarnya dengan penuh kesenangan.
Aku
hanya berdecak kesal. “Kalau aku tahu kejadiannya bakal seperti ini mungkin aku
gak akan pernah mau untuk menyimpan pemberian kamu, apa arti perasaanku selama
ini jika akhirnya ternyata kamu malah berpaling. Apa salah aku, Yo, apa?!!”
Tanyaku sambil membalikkan badan dan menatap tajam ke arahnya, meskipun hujan
menyamarkan keadaan saat ini.
Rio
menggeleng. “Gak, Fy. Aku tetap memiliki perasaan untuk kamu…”
“Terus
perempuan tadi siapa? Oh, jadi itu yang namanya Cashilla Alifa itu? Ck, dengan
mudahnya kamu melupakan aku lewat perempuan itu.” Aku meremehkannya. Jujur
saja, perasaanku menjadi tidak nyaman ketika nama itu harus terucap dari
mulutku.
“Enggak,
Fy, dia bukan siapa-siapa. Iya, dia emang Cashilla, aku memanggilnya Shilla
tapi dia bukan siapa-siapa aku, Fy!!” Jelasnya dengan nada parau, Rio terus
merengek untuk meminta kepercayaan terhadapku.
Oke,
aku tidak begitu mudah untuk mempercayainya. Aku tidak bisa mempercayainya,
benar-benar tidak bisa! Namun perasaan ini semaki nmembuatku luluh terhadapnya,
sepertinya aku benar-benar masih memiliki perasaan terhadap laki-laki itu.
“Terus, di bio twitter kamu itu apa? Keren ya, sekarang kamu berani berbohong
kepadaku.” Celotehku. “Oh ya, kalo memang caranya harus seperti ini, lebih baik
aku kembali ke Australia bersama laki-laki yang benar-benar menyayangiku, tidak
seperti kamu!” Lanjutku, sambil menatap tajam ke arahnya. Tak perduli seberapa
sakitnya laki-laki itu.
Saat
itu, hujan mulai mereda. Aku segara meraih ponsel dari kantong celanaku dan
segera mengetik sebuah pesan untuk Alvin.
To
: Alvin
Vin, besok aku mau pulang ke Australia, nanti aku ke Jakarta sekitar
pukul 07.00 kamu tunggu ya.
“Besok
aku kembali ke Australia, jangan harap aku akan kembali.” Ujarku dengan tegas
tanpa menatap kedua bola mata laki-laki itu. Aku harus kembali, ya aku harus
kembali!
Tiba-tiba
saja Rio seperti yang kesakitan, tangannya memegang dadanya dengan sangat erat.
Sepertinya dia benar-benar kesakitan. “Silakan, Fy, silakan. Kalau memang kamu
tidak percaya aku, silakan kamu tinggalkan aku. Aku akan baik-baik saja disini
dan aku berharap kamu pun akan baik-baik saja, sebab umurku tidak akan cukup
lama lagi untuk bertahan di dunia ini. Kamu akan mengetahuinya nanti, aku tidak
bisa lagi nyata di kehidupan kamu.” Tuturnya sambil terus memegang dadanya.
Bodo.
Aku hanya melipatkan kedua tanganku dan bersikap cuek terhadap apa yang baru
saja dikatakannyal. “Terus aku perduli gitu? No, no, aku tidak akan pernah
perduli sebelum perempuan yang bernama Cashilla itu mengaku.”
“Aku
setia sama kamu, tolong percaya aku dan aku tak pernah sedikitpun untuk mencari
pengganti kamu, tapi kenapa akhirnya seperti ini? Kamu harus percaya aku, dan
aku berharap kamu percaya kepadaku, Fy.” Masih dengan tatapan berharap, namun
aku tak pernah menghiraukannya sebab rasa sakit yang menguatkan keadaan ini.
Cuma
berharap? Aku tak pernah bisa memastikan harapannya dan aku bukanlah seseorang
yang mampu menciptakan suasana baru. Aku pun manusia yang mempunyai perasaan
dan tak semudah itu hatiku bisa melepaskan rasa sakiti itu. Aku takut jika aku
percaya, laki-laki itu akan semakin menyakitiku, aku benar-benar takut.
“Itu
cuma harapanmu saja dan aku tak akan pernah bisa menjadi sesuatu yang kamu
inginkan lagi. Kamu pernah merasakan perpisahan kita waktu itu karena orang
tuaku yang tidak bisa menerima terhadap kita yang berbeda kenyataan, dan
sekarang kita kembali harus merasakan perpisahan lagi karena apa? Karena kita
telah memiliki seseorang yang kini berbeda, kamu menemukan penggantiku dan
begitu pula denganku. Kamu bersama perempuan yang kamu panggil dengan nama khusus
‘Shilla’ dan aku besama laki-laki yang aku panggil dengan nama khusus ‘Alvin’.
Cashilla Alifa dan William Calvin adalah peran baru yang mungkin diciptakan
Tuhan untuk mengubur kenangan kita, sekian atas perasaanku terhadapmu. Aku tak
mungkin bisa menciptakan suasana seperti dulu, selamat tinggal.” Jujur, aku tak
kuasa mengucapkan kata-kata yang begitu berat bagiku, namun harus aku lakukan
demi yang terbaik. Dan perlahan aku pun akan mampu menghapus rasa sakit ini.
“Dulu,
kita saling meleburkan perbedaan namun sekarang kita memang berbeda lagi. Dulu,
kita memang berbeda iman dan sekarang mungkin kita berbeda pengertian…”
“Karena
aku bukanlah aku yang dulu, yang kini kamu harapkan. Aku telah dewasa dan mampu
memahami situasi seperti ini, ada saatnya dimana aku harus mengakhiri kisah
hidupku dan ada saatnya dimana aku harus memulai hidup baru.” Potongku dengan
cepat, aku terlalu lelah untuk membalas setiap ucapannya. Aku tak bisa
berlama-lama dengan perasaan ini dan aku tak akan mungkin bisa seperti dulu,
seperti yang saat ini diharapkan laki-laki itu.
Tetes
demi tetes air mata mengiringi setiap kata-kata yang begitu bebas terlontar
dari mulutku, aku tidak bisa menentukan pilihan lain selain kembali ke
Australia. Aku sangat merasa berdosa karena telah mengabaikan kata-kata papa.
Untuk selanjutnya, aku tak akan pernah ingin lagi kembali ke Indonesia.
Aku
mengambil ancang-ancang untuk berlalu, namun sebelumnya sebuah tangan sempat
menahanku dengan sangat keras hingga aku tak mampu memberontak. Terlalu kuat
untuknya melepaskan aku, aku merasakannya. Ini bukanlah sebuah taste
yang biasa, ini sangat menyesakkan untukku. Selama bertahun-tahun merindu,
namun yang aku dapatkan hanyalah sebuah balasan yang menyakitkan. Dia,
benar-benar tak lagi mengingatku dan dia berpaling dariku.
“Dulu
aku berharap kita bisa merayakan lagi Valentine bersama-sama tapi sepertinya
tidak mungkin, sangat tidak memungkinkan. Kamu dan aku telah berbeda, Fy.”
Sebuah prospek yang sangat kecil, tidak akan mungkin menjadi kenyataan untukku.
Rio memang benar, itu tidak akan lagi pernah terjadi.
Tanganku
bergerak untuk menyentuh lengannya untuk yang terakhir kalinya dan laki-laki
itu malah memelukku dengan sangat erat. “Kenapa kamu memelukku, kenapa?
Bukankah ada orang lain yang lebih baik dari aku dan lebih tepat untuk berada
dalam pelukanmu?” Tanyaku sambil memukul-mukul ringan dada bidangnya. Aku masih
merasakan kehangatan disana, ya aku masih bisa.
“Cashilla
itu saudaraku dan tidak semudah itu kamu membuktikan bahwa Shilla pengganti
kamu.” Bisik laki-laki itu tepat di telingaku, membuatku terpekur dalam suasana
dingin ini.
Rio, maaf aku tidak
bisa bertahan lagi. Kamu tahu, kan bagaimana orangtua aku? Dia memang keras,
tidak bisa ditentang. Mereka akan mengusirku dan tidak akan pernah mau
menganggapku lagi sebagai anak mereka. Mereka tidak akan pernah ingin
mengenalku lagi. Maafkan aku, Yo. Kita putus. Maaf, maaf, maaf. Aku tidak tahu
harus berbuat apalagi selain menuruti keinginan mereka. Aku harap kamu
mengikhlaskannya. Mungkin jika memang kita jodoh, suatu saat kita akan bertemu
kembali. Tetapi jika memang kamu bukan takdirku, mungkin rasa itu memang harus
lenyap. Maafkan aku, Rio. Semoga kamu mendapatkan penggantinya, yang lebih baik
dari aku dan bisa menyaingi aku dalam hal apapun. Aku bahagia pernah menikmati
kebersamaan denganmu, dan mungkin kemarin adalah hari Valentine yang kita
lewati untuk terakhir kalinya. Kita benar-benar tidak bisa satu kuliah lagi. Kata-kata itu
terbisikkan lembut ke telingaku, kata-kata yang sampai sata ini masih diingat
laki-laki itu. Aku tak kuasa untuk menahan tangis, begitu besar perasaanku
untuknya.
“Aku masih
mengingat kata-kata itu, Yo dan mengapa kamu bisa hafal akan kata-kata itu? Aku
tak pernah meminta kamu untuk menghafal kata-kata itu.” Ujarku lemas sambil
menatap Rio dengan sayu, mataku benar-benar lelah untuk terbuka. Aku perlu
istirahat dan aku merasakan mataku semakin panas.
Rio
menyibakkan poniku, lalu menghela nafas sejenak dan menatapku dengan halus.
“Karena di dalam kata-kata itu terdapat janji suci yang kita bangun berdua,
kita memang pantas untuk bersatu dan kita memang harus memperjuangkan perasaan
itu.” Katanya dengan nada berbisik, membuatku terpekur dalam bisikan lembutnya
itu. Aku hanya terdiam sesaat.
“Namun janji
kita, yang tertanam dalam hati harus usang begitu saja sebab perasaan tak lagi
mampu menahannya. Selamat tinggal, Rio.” Ucapku sambil berlalu meninggalkan
Rio.
***
“Siap kan,
Vin?” Tanyaku tanpa semangat. Alvin hanya mengangguk pasti.
Namun
tiba-tiba sebuah teriakan membuat langkahku terhenti kemudian aku memutar
badanku. Itu Cashilla. Aku akan memasang wajah seangkuh mungkin, aku tak
perduli dengan dia.
“Ca-cashilla?”
Alvin menganga tak percaya, sementara aku menatapnya penasaran. Entah apa yang
ditatap laki-laki itu, aku tidak bisa membaca pikirannya.
Ia
menghampiriku. “Kamu Ify, kan?” Aku hanya mengangguk. “Tolong, Kak Rio. Sejak
tadi pagi kondisi tubunya melemah, dan Kak Rio saat ini dirawat di rumah sakit
karena terkena virus HIV, tepatnya sejak beberapa bulan yang lalu.”
“Rio,
menderita AIDS? Gak, gak mungkin.” Aku menyangkal tak percaya, belakangan ini
Rio terlihat sangat baik-baik saja. Apa mungkin aku yang tidak terlalu perduli
terhadapnya? “Lalu, kamu siapa?” Tanyaku selanjutnya. “Pacarnya Rio?”
“Apa?
Cashilla pacar Rio? Gak mungkin, Fy, dia gak mungkin mengkhianati aku, Fy.”
Tiba-tiba saja Alvin mencampuri percakapan kami. Aku semakin dibuat heran oleh
keduanya.
Cashilla
hanya mengangguk ke arah Alvin lalu tersenyum simpul kepadaku. “Aku saudara kak
Rio dan Kak Alvin adalah teman aku, dulu aku pernah berkata kepada Alvin bahwa
aku berjanji tidak akan mau menjadi pacar dia, Fy.” Ujarnya dengan perlahan.
“Oh ya
sudah, dimana dia sekarang?” Sambarku cepat karena ingin sekali aku meminta
maaf kepada Rio. Aku benar-benar merasa bersalah karena peristiwa kemarin.
Perempuan
itu mendahuluiku. “Ayo, kak.” Ajaknya sambil mengekori kami berdua.
***
Tepat
di ruangan bernomor 189, seorang laki-laki terbaring disana. Rio benar-benar
terlihat lemah dan sepertinya ia menyadari kedatanganku, lalu tatapannya beralih
kepada Alvin. Sepertinya Rio tidak nyaman dengan kedatangan Alvin, namun di
samping itu Alvin ditemani oleh Cashilla.
“Dia
siapa, Fy? Jangan PHP-in aku, Fy. Kamu datang kesini tapi bersama seorang
laki-laki lain yang kamu katakan bahwa dia pengganti kamu, aku gak mau, Fy!”
Ujarnya dengan nada keras, aku takut Alvin mengetahui peristiwa kemarin lewat
kata-kata yang diucapkan Rio. Namun aku hanya tersenyum ke arah Alvin,
mengisyaratkan agar ia bersikap biasa-biasa saja.
Aku
menghampiri Rio dan tersenyum ke arahnya. “Yo, aku minta maaf. Mungkin aku
lancang terhadap kamu dan jika memang kamu tidak ingin memaafkan aku, aku bisa
menerimanya.” Ucapku dengan ikhlas, meskipun terasa sangat berat.
“Berjanjilah
untuk setia, Fy.” Bisiknya. Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian aku mendekap
lengannya dengan erat seolah tidak ingin lagi terpisahkan dengan laki-laki itu.
“Aku
tidak ingin berpisah lagi, Yo.”
Sementara
Cashilla dan juga Alvin hanya berdehem melihatku. “Mesra banget, sih? Kita
nyaris deh jadi obat nyamuk, ya gak, Vin?” Celoteh Shilla sambil menyikut
Alvin. Sementara Alvin hanya terkekeh ke arahku.
Rio
segera mengambil posisi duduk. “Laki-laki itu siapa, Fy?” Tanyanya sambil
mengarahkan tatapannya ke arah Alvin, yang berdiri di sebelah Cashilla.
“Ini
teman aku dan juga teman Ify. Aku kenal dia karena pertemuan di pantai waktu
itu, sedangkan Ify kenal dia karena Alvin sama-sama kuliah di Australia.”
Shilla menjelaskan semuanya, sehingga tidak ada lagi yang tertutup di antara
kami.
“Berjanji,
Fy, berjanjilah. Jangan lagi pergi.”
“Oh
iya, Fy. Kata papa kamu, kamu dan Rio boleh-boleh aja tuh bersatu, karena
perasaan kamu tidak bisa dipaksakan. Kamu tidak bisa dipaksakan untuk melupakan
Rio, karena kamu dan Rio memiliki kontak batin yang tidak bisa diketahui
siapapun.” Jelas Alvin. “Tadi dia bilang di telepon.”
Sementara
Shilla tersenyum jahil ke arahku. “Ciye, longlast deh.”
Kemudian
suasana haru berubah dengan kebahagiaan, suara tawa menggema di ruangan ini.
Aku tak pernah menyangka bahwa kebahagiaan ini akan aku dapatkan dan aku tidak
pernah mengajuk bahwa ini akan menjadi akhir dari perjalanan perasaan ini. Aku
benar-benar bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar