[CERPEN] Khayalan
editor by Surya Maulana
Langit musim penghujan pagi itu
terlihat kelam, menghadirkan gumpalan-gumpulan awan hitam pekat dan jatuh tepat
pada pandangan seorang perempuan yang tengah terduduk dengan tatapan lelah.
Akhirnya telah tiba dimana perpisahan itu menjadi jawaban atas sebuah
perpisahan, itu yang tengah memenuhi pikirannya saat ini.
Kadang perpisahan itu seperti ini,
tanpa tersadari keberadaannya yang telah berada di ambang ujung jalan dan untuk
sekedar mengucapkan selamat tinggal pun terasa sulit, bahkan untuk sekedar melambaikan
tangan pun sudah tak ada waktu lagi. Maka kadang apa yang diucapkan kebanyakan
orang pun benar. Tidak perlu menanggapi sebuah pertemuan dengan serius, jika
tidak ingin ditanggapi rasa sakit pada sebuah perpisahan yang lebih serius.
***
Haruka terduduk dengan ekspresi
gelisah di kursi peron. Matahari tampak ragu untuk menyingkirkan gumpalan awan
hitam pekat yang mendominasi tampilan langit saat ini. Mendung berpindah ke
dalam sepasang mata yang tengah memandangnya dengan sendu. Juga sebagian mata
yang lain yang tengah menyimak mendung.
Sudah terlalu banyak orang yang
tidak memperhatikan langit mendung, sudah terlalu banyak orang-orang yang sudah
melupakan langit pagi dan sibuk berdesakan dengan hiruk pikuk bumi yang terasa
menyesakkan dan sangat mendesak keadaan. Sudah terlalu banyak orang-orang yang
sibuk dengan kehampaan yang mengisi jalan pikirannya masing-masing. Sibuk untuk
mengakhiri lelahnya, sibuk menentukan jalan pulang, sibuk menghapus keluh,
sibuk menepis hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dengan
berkas-berkas kepekatan awannya. Dengan gumpalan-gumpalan itu.
Angin berhembus perlahan. Dengan
ditemani sepi yang terbawa arus angin dan burung-burung yang enggan menggemakan
kepak sayapnya di udara. Dengan sepucuk surat yang terlihat masih hangat.
Dengan setangkai bungan mawar yang kala itu mulai layu. Haruka masih duduk
menunggu. Sendirian. Gelisah
Sementara matahari masih juga belum
menampakkan dirinya. Padahal kicauan burung sudah mulai bergema di udara dalam
durasi singkat dengan tempo jeda yang lama.
Suasana pagi itu –tepatnya di peron
kereta– bagaikan kertas putih yang tak
bertuliskan apapun. Diamnya memerintah waktu untuk segera menguasai kebersamaan
itu, yang tinggal tersisa beberapa detik lagi. Haruka terdiam saat mengingat
segala kejadian yang pernah terjadi sebelum ini, sebelum masa-masa kekacauan
terjadi.
Teringat akan perkenalan itu yang masih
berumuran dalam hitungan jemari. Mungkin, bukan hal yang indah untuk dikenang.
Tapi baginya, jauh lebih berarti daripada keindahan yang tergerai setelah
senyuman menyambut pertemuan itu.
Kini suasana pagi itu pada kenyataannya
memang tepat, seperti yang terumpamakan. Bagaikan kertas putih yang tidak
bertuliskan apapun, sebab tanpa ada kata selamat tinggal sebelum akhirnya
kereta pertama melaju ke kota yang cukup asing.
Ia, langit gelap itu itu, ingin menemani
Haruka yang duduk sendiri dan gelisah. Tetapi perlahan rasa yang kian resah
gelisah itu akan menghilang, di hadapan seseorang yang sebentar lagi akan
menampakkan dirinya. Maka mendung menjadi lebih lama, menyiramkan temaram ke
sisi kursi dimana Haruka masih terdiam dalam keadaan resah.
Mendung masih berdiam diri di situ,
maka hari yang cerah telah mengembang di tempat lain yang jauh. Pagi harus
tetap bergulir, walau mendung memilih untuk tidak tenggelam dalam detik dan
waktu yang terus mengalir.
Sementara duduk dengan dipayungi
langit mendung, Haruka mengedar pandangannya. Berulang kali matanya melongok ke
arah pintu masuk stasiun. Sebentar-sebentar juga melirik ke arah jam dinding
besar yang tak pernah berhenti mengalirkan detak dalam detiknya, terdengar
begitu menyentak.
Sepi yang mulai merambahi
sudut-sudut stasiun membuatnya bergumam kecil dalam duduknya. Tetapi kemudian
seorang laki-laki menyerukan namanya, membuatnya menoleh dengan semangat. Namun
beberapa detik setelahnya, wajahnya kembali lemas.
“Dimana Kazuto?” Tanyanya kepada
seseorang yang baru saja datang.
Orang yang ditanya hanya menebar
mendung pada garis ekspresinya, membuat Haruka diam-diam semakin lemas. Dimana
orang yang paling dikasihinya? Orang yang selalu menjadi yang pertama sebelum
akhirnya perpisahan itu tiba?
“Aku datang kesini,”
“Aku tidak perlu itu!” Haruka
memotong ucapan laki-laki itu, membuat Kenzou benar-benar terdiam dan tidak
bisa berpaling dari kesabarannya.
Pikiran Haruka terjatuh pada satu
momen yang tak bisa terlupakan. Mungkin tidak terlalu penting untuk diingat,
tapi sosok itu terlalu sukar untuk dilupakan dalam setiap kesibukannya. Sosok
yang telah terpisah darinya selama bertahun-tahun itu, tapi pada akhirnya
Haruka sama sekali tidak menemukan sosok itu.
Haruka kembali menatap lawan
bicaranya yang masih terdiam membisu. Sosok Kenzou yang belakangan ini selalu
menjadi tempat untuk berbagi keluh kesah itu mungkin tiada berarti
kehadirannya, untuk saat ini. Bahkan Haruka sama sekali tidak ingin berharap
lebih dengan apa yang diunggulkan dari laki-laki itu.
Perlahan tetes demi tetes hujan
mulai jatuh, menerpa bumi yang telah lama merindukan akan hujan. Berkas-berkas
air hujan itu pun akan berubah menjadi kenangan yang terselip dalam hitungan
detik yang tak pernah berjeda.
Tak ada perpisahan yang paling sunyi
kecuali ketika pagi seperti ini, yang terlihat seperti surat kosong tanpa
goresan apapun. Sosok itu yang telah mengunci pandangannya jatuh ketika kedip
mulai bergerak. Haruka sama sekali tidak bisa menemukan sosok itu. Tidak akan
pernah bisa.
Pikirannya kembali jatuh kepada masa
kebersamaan masih mengukir indah saksi perjalanan dua insan yang terlibat dalam
sebuah hubungan, yang tidak lebih dari sebatas teman.
“Hallo?”
Terdengar suara setengah khawatir di
seberang, siklus pernafasannya memburu. Haruka terdiam untuk ke sekian kalinya.
Dimana Kazuto? Tanyanya terus melantunkan nama itu, nama yang belakangan ini
terus menjadi sandaran jiwanya.
“Haruka, kau baik-baik saja? Maaf
aku terlambat.” Suara setengah serak itu membuat lengan Haruka tiba-tiba
merosot. Sudah dua jam berlalu, tetapi sosok itu baru saja mengatakan
keterlambatannya.
“Haruka, kau baik-baik saja?” Tanya Kenzou,
membuat Haruka dengan cepat memandangnya dengan tatapan tidak suka. Pasalnya,
ucapan laki-laki itu sama saja seperti ucapan laki-laki yang berada di telepon
baru saja.
Kenzou yang saat itu mendapatkan
bentuk kekecewaan pada garis wajah Haruka segera merenggut ponsel Haruka dan
mengambil alih sambungan.
“Hallo, Kazuto?”
“Ah, siapa kau?” Terdengar suara
lagi dengan sangat jelas, sedikit terputus-putus.
Mungkinkah laki-laki itu tengah
berlari hanya karena tidak ingin membuat Haruka kecewa selama berlarut-larut?
Mengapa nada suaranya setengah tergesa-gesa dengan siklus pernafasan yang kian
memburu? Lalu, suara bising kendaraan yang menjadi latar belakang itu semakin
menegaskan bahwa laki-laki itu tengah berada di jalanan. Mungkinkah laki-laki
itu tengah menyibukkan diri untuk segera tiba di depan Haruka?
“Hei, Kazuto, mengapa kau terdengar
ribut sekali disana?” Tegur Kenzou, nadanya setengah meninggi. Tetapi Haruka masih
terdiam, mengarahkan pandangannya lurus ke depan menatap rel kereta api.
“Ah, kau Kenzou?” Tanyanya, membuat Kenzou
terlihat misuh-misuh. “Kau bisa membantuku saat ini?”
Kenzou tidak menjawab, pandangannya
menjurus ke arah Haruka yang saat itu masih terpaku dalam diamnya. Samar-samar
terdengar bunyi kereta api, membuat Kenzou segera menoleh ke arah sumber suara.
Di telepon, Kazuto masih terdengar
berkata-kata, tetapi Kenzou maupun Haruka sama sekali tidak menggubrisnya.
Kereta yang mulai datang itu membuat wajah Haruka berkaca-kaca, sementara itu Kenzou
terlihat setengah panik.
“Kau akan berangkat sekarang?”
Tanyanya, dengan nada setengah khawatir. Sekarang ekspresinya berubah lebih
khawatir.
Haruka mengangguk perlahan, ia mulai
bangkit dari duduknya. Dari kejauhan, samar-samar terlihat kereta itu.
Mula-mula lokomotif, kemudian gerbong demi gerbong mulai tampak. Untuk ke
sekian kalinya pandangannya kembali ke arah jam dinding besar itu. Detik-detik
itu seperti dalam gumamnya, tidak pernah memberi jeda seraya terus mengalir.
Sekali lagi Haruka melirik ke arah
pintu masuk dari balik pundaknya yang mulai lemas. Kereta itu kian mendekat,
kereta yang menjadi alasan mengapa ia tidak bisa duduk dengan tenang. Kereta
yang beberapa saat lagi akan menepi dan memuntahkan penumpang. Dan Haruka,
harus juga bergegas masuk ke dalam kereta itu, duduk di salah satu gerbong
untuk meninggalkan stasiun itu, untuk juga menepi dan dimuntahkan di tempat
yang lain.
Kereta kian mendekat. Haruka mulai
melangkah, namun rasa getir dan gelisah itu membuat kakinya terasa berat untuk
berjalan. Harapan itu sepertinya akan mati begitu langkahnya menepi, memasuki
gerbong kereta.
“Kazuto, kau dimana? Kereta sebentar
lagi akan segera berangkat!” Kenzou tampak panik. “Ayo percepat kemudi
sepedamu. Aku sedang memegang ponselnya untuk kujadikan tahanan.”
“Tapi, kau serius Haruka sudah tidak
lagi duduk di sampingmu?” Tanya Kazuto, masih dengan suara terdengar samar,
diperhias suara latar belakang jalanan.
Orang-orang masih saja keluar-masuk.
Orang-orang masih ditelan kesibukannya masing-masing. Sementara Haruka masih
terlibat dalam kehampaan yang mengisi waktunya. Haruka tenggelam dalam
kebimbangan yang kemudian datang. Sebentar lagi kereta akan berangkat,
meninggalkan semua sisa harapannya.
Mata Kenzou terpejam kala itu, belum
siap untuk mendengar suara peluit panjang, dimana suara itu akan membuat
kekhawatirannya semakin memuncak. Suara peluit yang akan meninggalkan dengung
dalam pikirannya, yang kemudian akan menyisakan hening setelahnya. Kereta masih
belum melaju. Pagi tenggelam. Mendung segera berakhir, tergantikan hujan deras,
dimana orang-orang mulai memasang payung.
***
Kazuto semakin memperkencang sepedanya,
mengendalikan pedal dengan kayuhan yang teramat cepat. Sebelah tangannya masih
menempel di telinga kanannya, panggilan yang tiba-tiba membuat ponselnya
bergetar membuatnya mau tidak mau menjawabnya.
Pandangannya tetap lurus ke depan,
menyimak jalan langkah masa depan yang akan ditempuhnya. Tiada perpisahan
paling sunyi, kecuali ketika langit ikut membendung tangisnya. Takkan ada lagi
kisah-kisah selanjutnya, selain hanya mampu saling merenungi segala jejak yang
berserakan.
Kupingnya tiba-tiba terasa sakit
ketika mendengar suara getar gerbong kereta dari ponsel. Mungkinkah kereta itu
akan segera berangkat? Pikirnya, terhanyut dalam tanya yang semakin membuatnya
semakin cepat dalam mengayuh sepeda.
Sesekali Kazuto melirik jam tangan
hitam yang melingkari tangannya, waktu telah lewat dari yang telah dijanjikan.
Bahkan, hawa kekecewaan yang terlukis pada raut wajah Haruka semakin terbayang
dalam angannya. Sekarang, hanya tinggal satu keputusan yang tersimpan, dan
harapan itu harus segera diwujudkan. Kazuto semakin mempercepat pikirannya.
Tetapi waktu semakin mempersulit
keadaan, Kazuto terjatuh dari sepeda hingga butiran kerikil kecil membuat
lututnya terluka. Namun, mengingat keadaan yang semakin mengkhawatirkan,
laki-laki bermata sipit itu segera bangkit dan kembali mengayuh sepeda.
Rasa sakit yang membuat lututnya
berdenyut membuat pikirannya jatuh di belakang, dua tahun yang lalu sebelum
akhirnya perpisahan menjadi keputusan, sebelum akhirnya penutup kebersamaan itu
hadir, sebelum akhirnya penghalang kembali mempersulit keadaan.
Pikirannya benar-benar terjatuh di
belakang, saat-saat yang menyebalkan sekaligus mengesankan. Tapi Kazuto tidak
berpikir hal itu akan terbuang, lalu terlupakan begitu saja. Hanya itu
satu-satunya kejadian yang menjadi pembuka ikatan itu, yang melibatkan dirinya
dan juga Haruka. Tetapi kini kejadian itu justru semakin memperjelas ilustrasi
menyesakkan, dimana semuanya akan menjelma menjadi butiran kenangan.
Suasana senja yang tergambar
mengantar kepulangan dua insan yang masih bersepeda melewati jalan yang biasa.
Seorang laki-laki yang dikenali sebagai pemilik nama Kazuto semakin
memperkencang laju sepedanya, membuat seorang perempuan yang di belakangnya
ketakutan.
Beberapa kali perempuan di
belakangnya itu berteriak, meminta agar Kazuto tidak terlalu memperkencang
sepedanya karena waktu pergantian siang ke malam masih lama. Jadi, perempuan
itu menyarankan agar tidak terburu-buru. Tetapi sikap Kazuto yang nakal semakin
menjadi-jadi, hingga akhirnya perempuan itu memukuli punggung Kazuto berulang
kali. Tapi ia hanya tertawa lepas seraya membiarkan pukulan itu mengisi
kebersamaan itu.
Selang beberapa detik, terjadi
insiden yang membuat Kazuto menyesali sikapnya. Perempuan yang dikenalinya
sebagai Haruka ikut terjatuh, hingga tangannya sedikit terluka.
“Kau baik-baik saja?” Tanyanya
pelan, penuh hati-hati karena takut mengundang amukan perempuan itu.
Sekilas Haruka menatapnya, tetapi
kemudian kembali menekan daerah luka pada tangannya, bermaksud meminimalisir
sakit. Kazuto menatapnya lirih, sekarang dia sendiri tengah kebingungan dengan
apa yang harus dilakukannya.
“Haruka?” Panggil Kazuto, tetapi
Haruka sama sekali tidak menyahutnya. Pandangannya tetap fokus dengan luka di
tangannya. “Hei,” Kazuto mengambil posisi jongkok, lalu menyentuh pundak
perempuan itu dengan lembut.
“Kau benar-benar nakal!” Haruka
meringis kesakitan, seraya merutuki luka di tangannya.
Kemudian Kazuto teringat akan
sesuatu yang selalu dibawanya setiap hari, dengan segera ia melepas tas
punggungnya dan merogoh isinya sebelum akhirnya mendapatkan sebuah tangan
berpola kotak-kotak.
“Kuharap kau mengizinkan aku untuk
mengobati lukamu.” Ujar Kazuto, tetapi Haruka menepis tangannya yang mulai
bergerak. “Kenapa? Aku mohon, ini salahku juga.”
“Tidak perlu! Kau tidak lebih dari
seorang teman sekelas, yang jalan pulangnya searah denganku. Jadi, kau tidak
berhak untuk memperdulikanku. Lagipula, kau ini siapa?” Sikap keras Haruka yang
setiap kali labil selalu membuat Kazuto jengkel, tetapi laki-laki itu tidak
pernah menunjukkan kekesalannya.
Kazuto tetap menggeleng. “Kalau kau
menolak,”
“Apa?” Balas Haruka sengit, membuat
suasana semakin menegang.
“Kumohon, biarkan aku bertanggung
jawab.” Kata Kazuto dengan nada memohon, ekspresinya terlihat serius.
Haruka tetap bersikukuh dengan keinginannya,
ia kembali menepis tangan Kazuto yang telah bergerak untuk membalut tangan
Haruka dengan kain cita persegi panjang itu.
“Baiklah. Kalau kau terus menolak,
maka kau akan menjadi kekasihku.” Kata Kazuto polos, membuat Haruka dengan
tiba-tiba mendelik. Tetapi Kazuto hanya tersenyum seraya mengangkat kedua
alisnya. “Jadi?”
“Siapa yang ingin menjadi kekasihmu?
Jangan kebanyakan bermimpi, kau akan tahu sendiri bagaimana rasanya saat
terjatuh.” Kata Haruka dengan ketus.
“Baiklah, jadi aku akan mengobati
lukamu.” Kata Kazuto lagi, membuat Haruka kembali menggeleng.
“Tidak perlu! Idemu benar-benar
gila, ya!” Cibir Haruka sekenanya.
“Yakin, kau ingin menjadi kekasihku?”
Tanya Kazuto pelan, seraya sedikit mencondongkan badannya sedikit ke kiri.
“Aku bisa sendiri!” Haruka segera
merebut kain dari pegangan Kazuto, lalu membalut lukanya dalam beberapa detik
ke depan.
Keduanya bangkit setelah itu.
Kemudian sikap jahil Kazuto mulai muncul, membuat sebuah senyuman merekah
menghias wajahnya. Diam-diam Haruka menatapnya, menikmati senyumannya yang
terkesan manis. Tapi, beberapa detik setelah perempuan itu memalingkan wajahnya
ke sembarang arah.
“Pegangan yang kuat! Disini
tangannya!” Kazuto membenarkan letak kedua tangan Haruka yang sebelumnya
menempel pada bahunya, sekarang menjadi pola melingkar dengan posisi memeluk
dari belakang.
“Hei, pria nakal, maksudmu apa?”
Tegur Haruka, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Kazuto.
“Kenapa?” Kazuto mengangkat alisnya,
membuat kerutan pada keningnya terlihat. “Ada yang salah?”
“Apa kau bilang? Kau bodoh atau
sebenarnya...”
“Kenapa?” Ucapan Haruka yang menggantung,
membuat senyuman Kazuto kembali merekah.
Haruka menggeleng keras, lalu
mengambil pandangan ke arah lain. “Tentu saja kau bersalah. Sekarang, aku minta
kau lepaskan tanganmu itu.”
“Kenapa kau melarangku? Apa kau
tidak tahu bahwa kau menolak permintaanku hingga akhirnya kita resmi menjadi
sepasang kekasih?”
Haruka yang saat itu bertindak tidak
perduli mendadak menoleh kembali. “Sekali lagi kau berkata,”
“Ah, iya iya maaf!” Sahut Kazuto,
sebelum akhirnya tangan Haruka melayang tepat ke arahnya. “Lagipula, memang
kenyataan bukan, bahwa kita telah terlibat dalam sebuah hubungan?”
Haruka kembali menatap Kazuto dengan
tajam, membuat laki-laki itu segera menatap ke depan dan kembali mengayuh
sepedanya, tanpa berniat kembali menoleh ke belakang untuk sekedar memastikan
keadaan Haruka.
Perlahan Kazuto tersenyum di tengah
kesibukannya mengayuh sepeda. Kejadian itu terlalu mengesankan, hingga akhirnya
keberadaan hubungan itu menjadi bentuk yang serius. Pada akhirnya Kazuto dan
Haruka resmi terikat dalam sebuah hubungan.
Tetapi ucapan Haruka beberapa hari
yang lalu membuat senyumannya kembali lenyap. Mengapa secepat ini? Perpisahan
yang belum pernah direncanakan sebelumnya dan sekarang mengundang kekhawatiran
yang besar.
Ada sesuatu yang ingin
diungkapkannya saat ini kepada sosok itu. Tetapi, waktu telah menunjukkan bahwa
perpisahan itu akan menghalangi maksudnya. Sampai detik ini, hal itu terus
mendesak pikiran Kazuto. Mungkin karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya
adalah karena Kazuto belum puas menikmati kebersamaan dengan perempuan itu.
***
Kenzou segera memacu sepeda motornya
dengan kecepatan tinggi ketika tiba-tiba sambungan telepon terputus secara
sepihak. Mungkin saja laki-laki itu sedang sibuk mengayuh sepeda, sehingga
tidak ingin diganggu lewat sambungan telepon –yang jelas akan menyita
konsentrasinya di jalanan.
Tetapi mengingat ekspresi Haruka
yang haus akan kehadiran Kazuto membuat Kenzou ingin segera membawa Kazuto ke
stasiun kereta. Kata terakhir yang diingatnya adalah ucapan Kazuto yang
menegaskan bahwa laki-laki itu tengah berada di tiga perempat perjalanan.
Tetapi, sosok laki-laki itu sama sekali tidak tercium keberadaannya.
Hari ini, Haruka mengalah demi
kepentingan keluarganya, membiarkan egonya dimenangkan keluarganya. Ayah Haruka
sebagai seorang diplomat membuatnya sering berpindah-pindah tempat tinggal di
berbagai negara. Hal itu juga yang membuat Haruka fasih dalam beberapa bahasa.
Selain bahasa ibunya, Jepang, Haruka lancar dalam berbahasa Inggris, Perancis,
Melayu dan Indonesia.
Haruka mulai menetap di Indonesia
ketika ayahnya yang merupakan dutas besar Jepang ditugaskan di Jakarta. Dan
sekarang telah tiba dimana ayahnya kembali mengalami perpidahan tugas.
Kenzou menghentikan laju sepeda
motornya begitu melihat kerumunan di tengah jalan. Tanpa sengaja, pandangannya
menangkap sebuah sepeda dames yang sebelumnya milik perempuan yang dikenalnya.
Sepeda Haruka? Bukankah sepeda itu telah diberikan kepada Kazuto sebagai bentuk
dari kekalahan saat Kazuto dan Haruka taruhan di acara pertandingan basket
antar sekolah dulu?
Tapi Kenzou menggeleng, ia menepikan
sepeda motornya di sembarang tempat, lalu meninggalkannya dan berjalan menuju
kerumunan. Kenzou tidak bisa mempercayai semuanya ketika melihat seorang
laki-laki yang terkapar di tengah kerumunan. Darah bersimbah di sekitarnya. Di
sekujur tubuhnya.
Di sebelahnya, seseorang yang lain
juga ikut terluka, namun dalam keadaan sadar. Seorang laki-laki yang tengah
mengenakan helm, tetapi tangannya disibukkan dengan luka di kakinya. Apa yang
terjadi? Pikiran Kenzou mencoba menerawang.
Setelah terdiam beberapa detik,
Kenzou bisa menyimpulkan dengan apa yang terjadi.
Sosok Kazuto yang tertabrak sepeda
motor yang lepas kendali. Kapalanya yang keras menghantam permukaan aspal
jalan. Seketika itu juga Kenzou tak dapat menemukan nafas kehidupan pada tubuh
laki-laki itu. Padahal, laki-laki itu harus bergegas menemui kekasihnya di
peron kereta. Laki-laki itu harus menemuinya... Harus..
Suara riuh masih mengisi kerumunan
itu. Jalanan macet, disambung dengan bunyi klakson, bunyi orang-orang
berbicara, bunyi deru kendaraan. Di antara bunyi-bunyi riuh itu, bunyi dering
ponsel yang dipegang Kenzou membuat semua orang menatapnya. Tetapi Kenzou
segera membungkuk dalam sebagai permintaan maaf.
“Haruka?”
“Kenzou? Ponselku masih kau pegang?
Kau bisa membantuku?” Jawab Haruka dengan nada pelan.
Kenzou terdiam beberapa saat sebelum
menjawab, “Ya, ada apa?”
“Tolong, berikan ponselku itu kepada
Kazuto. Katakan padanya, jika suatu waktu dia merindukanku, dia hanya perlu
memutar semua rekaman yang tersimpan di dalamnya.”
“Tapi,”
“Kenapa?”
Kenzou sama sekali tidak menjawab,
bahkan rasanya sangat sulit untuk memberitakan semuanya. Ia hanya takut akan
ada luka yang kembali menyusul langkah Haruka, yang membuat langkahnya semakin
memberat. Dan Kenzou sama sekali tidak menginginkannya.
Di tempat lain, kereta mulai melaju
meninggalkan stasiun. Perasaan hampa yang masih tersisa itu membuatnya terhisap
ke dalam perasaan asing yang memisahkannya dari kesibukan orang banyak.
Lewat jendela kereta, Haruka bisa
menatap peron kereta berulang kali, berharap dengan tiba-tiba sosok itu akan
menampakkan dirinya. Tetapi gerimis yang tak berjeda itu membuat orang-orang
yang baru saja turun dari kereta memilih untuk berteduh, menenggelamkan sosok
yang dicarinya di antara orang banyak yang tengah berteduh.
Dan kereta benar-benar melaju.
Sedetik kemudian, Haruka kehilangan harapan. Mungkin waktu dimana seseorang itu
akan hadir hanyalah ilusi miliknya, yang tercampur dalam delusinya,
menghadirkan sebuah fatamorgana yang membekas dalam pandangannya.
Tapi tiba-tiba Haruka merindukan
sesuatu., sesuatu yang tak mungkin bisa diungkapkan. Diungkapkan lewat
kata-kata. Saat bercerita kepadanya, dengan pandangan sedih, biasanya Kazuto
meminta agar Haruka menghentikannya. Tetapi sedetik pun saat ini berlalu,
takkan pernah ada yang bisa menghentikan kesedihannya.
“Kumohon engkau janganlah lagi
mencari diriku.” Sebuah harapan melesat dari ucapannya, membentuk sebuah
gumaman kecil. Mungkin karena sekarang pun ia masih menyukainya, ya tetap suka
dan kini telah tiba dimana saatnya ia akan menghilang. Mungkin untuk selamanya.
Namun meskipun air mata mengalir
tanpa henti, kenangan adalah sesuatu yang berharga baginya. Pertemuan pertama
dengannya, mungkin alasan yang bisa dipercaya sebagai pemicu rasa itu juga. Dan
sejumlah besar air mata yang telah menetes itu pun tidak bisa menghapus rasa
itu.
Maaf aku mencintaimu, dan kini kita
telah terpisah sangat jauh.
***
Inspired by Shinkirou (Setlist of Dareka no Tameni, JKT48)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar