Senin, 23 Maret 2015

Khayalan

[CERPEN] Khayalan




editor by Surya Maulana

            Langit musim penghujan pagi itu terlihat kelam, menghadirkan gumpalan-gumpulan awan hitam pekat dan jatuh tepat pada pandangan seorang perempuan yang tengah terduduk dengan tatapan lelah. Akhirnya telah tiba dimana perpisahan itu menjadi jawaban atas sebuah perpisahan, itu yang tengah memenuhi pikirannya saat ini.
            Kadang perpisahan itu seperti ini, tanpa tersadari keberadaannya yang telah berada di ambang ujung jalan dan untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal pun terasa sulit, bahkan untuk sekedar melambaikan tangan pun sudah tak ada waktu lagi. Maka kadang apa yang diucapkan kebanyakan orang pun benar. Tidak perlu menanggapi sebuah pertemuan dengan serius, jika tidak ingin ditanggapi rasa sakit pada sebuah perpisahan yang lebih serius.
***
            Haruka terduduk dengan ekspresi gelisah di kursi peron. Matahari tampak ragu untuk menyingkirkan gumpalan awan hitam pekat yang mendominasi tampilan langit saat ini. Mendung berpindah ke dalam sepasang mata yang tengah memandangnya dengan sendu. Juga sebagian mata yang lain yang tengah menyimak mendung.
            Sudah terlalu banyak orang yang tidak memperhatikan langit mendung, sudah terlalu banyak orang-orang yang sudah melupakan langit pagi dan sibuk berdesakan dengan hiruk pikuk bumi yang terasa menyesakkan dan sangat mendesak keadaan. Sudah terlalu banyak orang-orang yang sibuk dengan kehampaan yang mengisi jalan pikirannya masing-masing. Sibuk untuk mengakhiri lelahnya, sibuk menentukan jalan pulang, sibuk menghapus keluh, sibuk menepis hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dengan berkas-berkas kepekatan awannya. Dengan gumpalan-gumpalan itu.
            Angin berhembus perlahan. Dengan ditemani sepi yang terbawa arus angin dan burung-burung yang enggan menggemakan kepak sayapnya di udara. Dengan sepucuk surat yang terlihat masih hangat. Dengan setangkai bungan mawar yang kala itu mulai layu. Haruka masih duduk menunggu. Sendirian. Gelisah
            Sementara matahari masih juga belum menampakkan dirinya. Padahal kicauan burung sudah mulai bergema di udara dalam durasi singkat dengan tempo jeda yang lama.
            Suasana pagi itu –tepatnya di peron kereta–  bagaikan kertas putih yang tak bertuliskan apapun. Diamnya memerintah waktu untuk segera menguasai kebersamaan itu, yang tinggal tersisa beberapa detik lagi. Haruka terdiam saat mengingat segala kejadian yang pernah terjadi sebelum ini, sebelum masa-masa kekacauan terjadi.
Teringat akan perkenalan itu yang masih berumuran dalam hitungan jemari. Mungkin, bukan hal yang indah untuk dikenang. Tapi baginya, jauh lebih berarti daripada keindahan yang tergerai setelah senyuman menyambut pertemuan itu.
Kini suasana pagi itu pada kenyataannya memang tepat, seperti yang terumpamakan. Bagaikan kertas putih yang tidak bertuliskan apapun, sebab tanpa ada kata selamat tinggal sebelum akhirnya kereta pertama melaju ke kota yang cukup asing.
Ia, langit gelap itu itu, ingin menemani Haruka yang duduk sendiri dan gelisah. Tetapi perlahan rasa yang kian resah gelisah itu akan menghilang, di hadapan seseorang yang sebentar lagi akan menampakkan dirinya. Maka mendung menjadi lebih lama, menyiramkan temaram ke sisi kursi dimana Haruka masih terdiam dalam keadaan resah.
            Mendung masih berdiam diri di situ, maka hari yang cerah telah mengembang di tempat lain yang jauh. Pagi harus tetap bergulir, walau mendung memilih untuk tidak tenggelam dalam detik dan waktu yang terus mengalir.
            Sementara duduk dengan dipayungi langit mendung, Haruka mengedar pandangannya. Berulang kali matanya melongok ke arah pintu masuk stasiun. Sebentar-sebentar juga melirik ke arah jam dinding besar yang tak pernah berhenti mengalirkan detak dalam detiknya, terdengar begitu menyentak.
            Sepi yang mulai merambahi sudut-sudut stasiun membuatnya bergumam kecil dalam duduknya. Tetapi kemudian seorang laki-laki menyerukan namanya, membuatnya menoleh dengan semangat. Namun beberapa detik setelahnya, wajahnya kembali lemas.
            “Dimana Kazuto?” Tanyanya kepada seseorang yang baru saja datang.
            Orang yang ditanya hanya menebar mendung pada garis ekspresinya, membuat Haruka diam-diam semakin lemas. Dimana orang yang paling dikasihinya? Orang yang selalu menjadi yang pertama sebelum akhirnya perpisahan itu tiba?
            “Aku datang kesini,”
            “Aku tidak perlu itu!” Haruka memotong ucapan laki-laki itu, membuat Kenzou benar-benar terdiam dan tidak bisa berpaling dari kesabarannya.
            Pikiran Haruka terjatuh pada satu momen yang tak bisa terlupakan. Mungkin tidak terlalu penting untuk diingat, tapi sosok itu terlalu sukar untuk dilupakan dalam setiap kesibukannya. Sosok yang telah terpisah darinya selama bertahun-tahun itu, tapi pada akhirnya Haruka sama sekali tidak menemukan sosok itu.
            Haruka kembali menatap lawan bicaranya yang masih terdiam membisu. Sosok Kenzou yang belakangan ini selalu menjadi tempat untuk berbagi keluh kesah itu mungkin tiada berarti kehadirannya, untuk saat ini. Bahkan Haruka sama sekali tidak ingin berharap lebih dengan apa yang diunggulkan dari laki-laki itu.
            Perlahan tetes demi tetes hujan mulai jatuh, menerpa bumi yang telah lama merindukan akan hujan. Berkas-berkas air hujan itu pun akan berubah menjadi kenangan yang terselip dalam hitungan detik yang tak pernah berjeda.
            Tak ada perpisahan yang paling sunyi kecuali ketika pagi seperti ini, yang terlihat seperti surat kosong tanpa goresan apapun. Sosok itu yang telah mengunci pandangannya jatuh ketika kedip mulai bergerak. Haruka sama sekali tidak bisa menemukan sosok itu. Tidak akan pernah bisa.
            Pikirannya kembali jatuh kepada masa kebersamaan masih mengukir indah saksi perjalanan dua insan yang terlibat dalam sebuah hubungan, yang tidak lebih dari sebatas teman.
            “Hallo?”
          Terdengar suara setengah khawatir di seberang, siklus pernafasannya memburu. Haruka terdiam untuk ke sekian kalinya. Dimana Kazuto? Tanyanya terus melantunkan nama itu, nama yang belakangan ini terus menjadi sandaran jiwanya.
            “Haruka, kau baik-baik saja? Maaf aku terlambat.” Suara setengah serak itu membuat lengan Haruka tiba-tiba merosot. Sudah dua jam berlalu, tetapi sosok itu baru saja mengatakan keterlambatannya.
            “Haruka, kau baik-baik saja?” Tanya Kenzou, membuat Haruka dengan cepat memandangnya dengan tatapan tidak suka. Pasalnya, ucapan laki-laki itu sama saja seperti ucapan laki-laki yang berada di telepon baru saja.
            Kenzou yang saat itu mendapatkan bentuk kekecewaan pada garis wajah Haruka segera merenggut ponsel Haruka dan mengambil alih sambungan.
            “Hallo, Kazuto?”
            “Ah, siapa kau?” Terdengar suara lagi dengan sangat jelas, sedikit terputus-putus.
            Mungkinkah laki-laki itu tengah berlari hanya karena tidak ingin membuat Haruka kecewa selama berlarut-larut? Mengapa nada suaranya setengah tergesa-gesa dengan siklus pernafasan yang kian memburu? Lalu, suara bising kendaraan yang menjadi latar belakang itu semakin menegaskan bahwa laki-laki itu tengah berada di jalanan. Mungkinkah laki-laki itu tengah menyibukkan diri untuk segera tiba di depan Haruka?
            “Hei, Kazuto, mengapa kau terdengar ribut sekali disana?” Tegur Kenzou, nadanya setengah meninggi. Tetapi Haruka masih terdiam, mengarahkan pandangannya lurus ke depan menatap rel kereta api.
            “Ah, kau Kenzou?” Tanyanya, membuat Kenzou terlihat misuh-misuh. “Kau bisa membantuku saat ini?”
            Kenzou tidak menjawab, pandangannya menjurus ke arah Haruka yang saat itu masih terpaku dalam diamnya. Samar-samar terdengar bunyi kereta api, membuat Kenzou segera menoleh ke arah sumber suara.
            Di telepon, Kazuto masih terdengar berkata-kata, tetapi Kenzou maupun Haruka sama sekali tidak menggubrisnya. Kereta yang mulai datang itu membuat wajah Haruka berkaca-kaca, sementara itu Kenzou terlihat setengah panik.
            “Kau akan berangkat sekarang?” Tanyanya, dengan nada setengah khawatir. Sekarang ekspresinya berubah lebih khawatir.
            Haruka mengangguk perlahan, ia mulai bangkit dari duduknya. Dari kejauhan, samar-samar terlihat kereta itu. Mula-mula lokomotif, kemudian gerbong demi gerbong mulai tampak. Untuk ke sekian kalinya pandangannya kembali ke arah jam dinding besar itu. Detik-detik itu seperti dalam gumamnya, tidak pernah memberi jeda seraya terus mengalir.
            Sekali lagi Haruka melirik ke arah pintu masuk dari balik pundaknya yang mulai lemas. Kereta itu kian mendekat, kereta yang menjadi alasan mengapa ia tidak bisa duduk dengan tenang. Kereta yang beberapa saat lagi akan menepi dan memuntahkan penumpang. Dan Haruka, harus juga bergegas masuk ke dalam kereta itu, duduk di salah satu gerbong untuk meninggalkan stasiun itu, untuk juga menepi dan dimuntahkan di tempat yang lain.
            Kereta kian mendekat. Haruka mulai melangkah, namun rasa getir dan gelisah itu membuat kakinya terasa berat untuk berjalan. Harapan itu sepertinya akan mati begitu langkahnya menepi, memasuki gerbong kereta.
            “Kazuto, kau dimana? Kereta sebentar lagi akan segera berangkat!” Kenzou tampak panik. “Ayo percepat kemudi sepedamu. Aku sedang memegang ponselnya untuk kujadikan tahanan.”
            “Tapi, kau serius Haruka sudah tidak lagi duduk di sampingmu?” Tanya Kazuto, masih dengan suara terdengar samar, diperhias suara latar belakang jalanan.
            Orang-orang masih saja keluar-masuk. Orang-orang masih ditelan kesibukannya masing-masing. Sementara Haruka masih terlibat dalam kehampaan yang mengisi waktunya. Haruka tenggelam dalam kebimbangan yang kemudian datang. Sebentar lagi kereta akan berangkat, meninggalkan semua sisa harapannya.
            Mata Kenzou terpejam kala itu, belum siap untuk mendengar suara peluit panjang, dimana suara itu akan membuat kekhawatirannya semakin memuncak. Suara peluit yang akan meninggalkan dengung dalam pikirannya, yang kemudian akan menyisakan hening setelahnya. Kereta masih belum melaju. Pagi tenggelam. Mendung segera berakhir, tergantikan hujan deras, dimana orang-orang mulai memasang payung.
***
            Kazuto semakin memperkencang sepedanya, mengendalikan pedal dengan kayuhan yang teramat cepat. Sebelah tangannya masih menempel di telinga kanannya, panggilan yang tiba-tiba membuat ponselnya bergetar membuatnya mau tidak mau menjawabnya.
            Pandangannya tetap lurus ke depan, menyimak jalan langkah masa depan yang akan ditempuhnya. Tiada perpisahan paling sunyi, kecuali ketika langit ikut membendung tangisnya. Takkan ada lagi kisah-kisah selanjutnya, selain hanya mampu saling merenungi segala jejak yang berserakan.
            Kupingnya tiba-tiba terasa sakit ketika mendengar suara getar gerbong kereta dari ponsel. Mungkinkah kereta itu akan segera berangkat? Pikirnya, terhanyut dalam tanya yang semakin membuatnya semakin cepat dalam mengayuh sepeda.
            Sesekali Kazuto melirik jam tangan hitam yang melingkari tangannya, waktu telah lewat dari yang telah dijanjikan. Bahkan, hawa kekecewaan yang terlukis pada raut wajah Haruka semakin terbayang dalam angannya. Sekarang, hanya tinggal satu keputusan yang tersimpan, dan harapan itu harus segera diwujudkan. Kazuto semakin mempercepat pikirannya.
            Tetapi waktu semakin mempersulit keadaan, Kazuto terjatuh dari sepeda hingga butiran kerikil kecil membuat lututnya terluka. Namun, mengingat keadaan yang semakin mengkhawatirkan, laki-laki bermata sipit itu segera bangkit dan kembali mengayuh sepeda.
            Rasa sakit yang membuat lututnya berdenyut membuat pikirannya jatuh di belakang, dua tahun yang lalu sebelum akhirnya perpisahan menjadi keputusan, sebelum akhirnya penutup kebersamaan itu hadir, sebelum akhirnya penghalang kembali mempersulit keadaan.
            Pikirannya benar-benar terjatuh di belakang, saat-saat yang menyebalkan sekaligus mengesankan. Tapi Kazuto tidak berpikir hal itu akan terbuang, lalu terlupakan begitu saja. Hanya itu satu-satunya kejadian yang menjadi pembuka ikatan itu, yang melibatkan dirinya dan juga Haruka. Tetapi kini kejadian itu justru semakin memperjelas ilustrasi menyesakkan, dimana semuanya akan menjelma menjadi butiran kenangan.
            Suasana senja yang tergambar mengantar kepulangan dua insan yang masih bersepeda melewati jalan yang biasa. Seorang laki-laki yang dikenali sebagai pemilik nama Kazuto semakin memperkencang laju sepedanya, membuat seorang perempuan yang di belakangnya ketakutan.
            Beberapa kali perempuan di belakangnya itu berteriak, meminta agar Kazuto tidak terlalu memperkencang sepedanya karena waktu pergantian siang ke malam masih lama. Jadi, perempuan itu menyarankan agar tidak terburu-buru. Tetapi sikap Kazuto yang nakal semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya perempuan itu memukuli punggung Kazuto berulang kali. Tapi ia hanya tertawa lepas seraya membiarkan pukulan itu mengisi kebersamaan itu.
            Selang beberapa detik, terjadi insiden yang membuat Kazuto menyesali sikapnya. Perempuan yang dikenalinya sebagai Haruka ikut terjatuh, hingga tangannya sedikit terluka.
            “Kau baik-baik saja?” Tanyanya pelan, penuh hati-hati karena takut mengundang amukan perempuan itu.
            Sekilas Haruka menatapnya, tetapi kemudian kembali menekan daerah luka pada tangannya, bermaksud meminimalisir sakit. Kazuto menatapnya lirih, sekarang dia sendiri tengah kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya.
            “Haruka?” Panggil Kazuto, tetapi Haruka sama sekali tidak menyahutnya. Pandangannya tetap fokus dengan luka di tangannya. “Hei,” Kazuto mengambil posisi jongkok, lalu menyentuh pundak perempuan itu dengan lembut.
            “Kau benar-benar nakal!” Haruka meringis kesakitan, seraya merutuki luka di tangannya.
            Kemudian Kazuto teringat akan sesuatu yang selalu dibawanya setiap hari, dengan segera ia melepas tas punggungnya dan merogoh isinya sebelum akhirnya mendapatkan sebuah tangan berpola kotak-kotak.
            “Kuharap kau mengizinkan aku untuk mengobati lukamu.” Ujar Kazuto, tetapi Haruka menepis tangannya yang mulai bergerak. “Kenapa? Aku mohon, ini salahku juga.”
            “Tidak perlu! Kau tidak lebih dari seorang teman sekelas, yang jalan pulangnya searah denganku. Jadi, kau tidak berhak untuk memperdulikanku. Lagipula, kau ini siapa?” Sikap keras Haruka yang setiap kali labil selalu membuat Kazuto jengkel, tetapi laki-laki itu tidak pernah menunjukkan kekesalannya.
            Kazuto tetap menggeleng. “Kalau kau menolak,”
            “Apa?” Balas Haruka sengit, membuat suasana semakin menegang.
            “Kumohon, biarkan aku bertanggung jawab.” Kata Kazuto dengan nada memohon, ekspresinya terlihat serius.
            Haruka tetap bersikukuh dengan keinginannya, ia kembali menepis tangan Kazuto yang telah bergerak untuk membalut tangan Haruka dengan kain cita persegi panjang itu.
            “Baiklah. Kalau kau terus menolak, maka kau akan menjadi kekasihku.” Kata Kazuto polos, membuat Haruka dengan tiba-tiba mendelik. Tetapi Kazuto hanya tersenyum seraya mengangkat kedua alisnya. “Jadi?”
            “Siapa yang ingin menjadi kekasihmu? Jangan kebanyakan bermimpi, kau akan tahu sendiri bagaimana rasanya saat terjatuh.” Kata Haruka dengan ketus.
            “Baiklah, jadi aku akan mengobati lukamu.” Kata Kazuto lagi, membuat Haruka kembali menggeleng.
            “Tidak perlu! Idemu benar-benar gila, ya!” Cibir Haruka sekenanya.
            “Yakin, kau ingin menjadi kekasihku?” Tanya Kazuto pelan, seraya sedikit mencondongkan badannya sedikit ke kiri.
            “Aku bisa sendiri!” Haruka segera merebut kain dari pegangan Kazuto, lalu membalut lukanya dalam beberapa detik ke depan.
            Keduanya bangkit setelah itu. Kemudian sikap jahil Kazuto mulai muncul, membuat sebuah senyuman merekah menghias wajahnya. Diam-diam Haruka menatapnya, menikmati senyumannya yang terkesan manis. Tapi, beberapa detik setelah perempuan itu memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
            “Pegangan yang kuat! Disini tangannya!” Kazuto membenarkan letak kedua tangan Haruka yang sebelumnya menempel pada bahunya, sekarang menjadi pola melingkar dengan posisi memeluk dari belakang.
            “Hei, pria nakal, maksudmu apa?” Tegur Haruka, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Kazuto.
            “Kenapa?” Kazuto mengangkat alisnya, membuat kerutan pada keningnya terlihat. “Ada yang salah?”
            “Apa kau bilang? Kau bodoh atau sebenarnya...”
            “Kenapa?” Ucapan Haruka yang menggantung, membuat senyuman Kazuto kembali merekah.
            Haruka menggeleng keras, lalu mengambil pandangan ke arah lain. “Tentu saja kau bersalah. Sekarang, aku minta kau lepaskan tanganmu itu.”
            “Kenapa kau melarangku? Apa kau tidak tahu bahwa kau menolak permintaanku hingga akhirnya kita resmi menjadi sepasang kekasih?”
Haruka yang saat itu bertindak tidak perduli mendadak menoleh kembali. “Sekali lagi kau berkata,”
            “Ah, iya iya maaf!” Sahut Kazuto, sebelum akhirnya tangan Haruka melayang tepat ke arahnya. “Lagipula, memang kenyataan bukan, bahwa kita telah terlibat dalam sebuah hubungan?”
            Haruka kembali menatap Kazuto dengan tajam, membuat laki-laki itu segera menatap ke depan dan kembali mengayuh sepedanya, tanpa berniat kembali menoleh ke belakang untuk sekedar memastikan keadaan Haruka.
            Perlahan Kazuto tersenyum di tengah kesibukannya mengayuh sepeda. Kejadian itu terlalu mengesankan, hingga akhirnya keberadaan hubungan itu menjadi bentuk yang serius. Pada akhirnya Kazuto dan Haruka resmi terikat dalam sebuah hubungan.
            Tetapi ucapan Haruka beberapa hari yang lalu membuat senyumannya kembali lenyap. Mengapa secepat ini? Perpisahan yang belum pernah direncanakan sebelumnya dan sekarang mengundang kekhawatiran yang besar.
            Ada sesuatu yang ingin diungkapkannya saat ini kepada sosok itu. Tetapi, waktu telah menunjukkan bahwa perpisahan itu akan menghalangi maksudnya. Sampai detik ini, hal itu terus mendesak pikiran Kazuto. Mungkin karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah karena Kazuto belum puas menikmati kebersamaan dengan perempuan itu.
***
            Kenzou segera memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi ketika tiba-tiba sambungan telepon terputus secara sepihak. Mungkin saja laki-laki itu sedang sibuk mengayuh sepeda, sehingga tidak ingin diganggu lewat sambungan telepon –yang jelas akan menyita konsentrasinya di jalanan.
            Tetapi mengingat ekspresi Haruka yang haus akan kehadiran Kazuto membuat Kenzou ingin segera membawa Kazuto ke stasiun kereta. Kata terakhir yang diingatnya adalah ucapan Kazuto yang menegaskan bahwa laki-laki itu tengah berada di tiga perempat perjalanan. Tetapi, sosok laki-laki itu sama sekali tidak tercium keberadaannya.
            Hari ini, Haruka mengalah demi kepentingan keluarganya, membiarkan egonya dimenangkan keluarganya. Ayah Haruka sebagai seorang diplomat membuatnya sering berpindah-pindah tempat tinggal di berbagai negara. Hal itu juga yang membuat Haruka fasih dalam beberapa bahasa. Selain bahasa ibunya, Jepang, Haruka lancar dalam berbahasa Inggris, Perancis, Melayu dan Indonesia.
            Haruka mulai menetap di Indonesia ketika ayahnya yang merupakan dutas besar Jepang ditugaskan di Jakarta. Dan sekarang telah tiba dimana ayahnya kembali mengalami perpidahan tugas.
            Kenzou menghentikan laju sepeda motornya begitu melihat kerumunan di tengah jalan. Tanpa sengaja, pandangannya menangkap sebuah sepeda dames yang sebelumnya milik perempuan yang dikenalnya. Sepeda Haruka? Bukankah sepeda itu telah diberikan kepada Kazuto sebagai bentuk dari kekalahan saat Kazuto dan Haruka taruhan di acara pertandingan basket antar sekolah dulu?
            Tapi Kenzou menggeleng, ia menepikan sepeda motornya di sembarang tempat, lalu meninggalkannya dan berjalan menuju kerumunan. Kenzou tidak bisa mempercayai semuanya ketika melihat seorang laki-laki yang terkapar di tengah kerumunan. Darah bersimbah di sekitarnya. Di sekujur tubuhnya.
            Di sebelahnya, seseorang yang lain juga ikut terluka, namun dalam keadaan sadar. Seorang laki-laki yang tengah mengenakan helm, tetapi tangannya disibukkan dengan luka di kakinya. Apa yang terjadi? Pikiran Kenzou mencoba menerawang.
            Setelah terdiam beberapa detik, Kenzou bisa menyimpulkan dengan apa yang terjadi.
            Sosok Kazuto yang tertabrak sepeda motor yang lepas kendali. Kapalanya yang keras menghantam permukaan aspal jalan. Seketika itu juga Kenzou tak dapat menemukan nafas kehidupan pada tubuh laki-laki itu. Padahal, laki-laki itu harus bergegas menemui kekasihnya di peron kereta. Laki-laki itu harus menemuinya... Harus..
            Suara riuh masih mengisi kerumunan itu. Jalanan macet, disambung dengan bunyi klakson, bunyi orang-orang berbicara, bunyi deru kendaraan. Di antara bunyi-bunyi riuh itu, bunyi dering ponsel yang dipegang Kenzou membuat semua orang menatapnya. Tetapi Kenzou segera membungkuk dalam sebagai permintaan maaf.
            “Haruka?”
            “Kenzou? Ponselku masih kau pegang? Kau bisa membantuku?” Jawab Haruka dengan nada pelan.
            Kenzou terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Ya, ada apa?”
            “Tolong, berikan ponselku itu kepada Kazuto. Katakan padanya, jika suatu waktu dia merindukanku, dia hanya perlu memutar semua rekaman yang tersimpan di dalamnya.”
            “Tapi,”
            “Kenapa?”
            Kenzou sama sekali tidak menjawab, bahkan rasanya sangat sulit untuk memberitakan semuanya. Ia hanya takut akan ada luka yang kembali menyusul langkah Haruka, yang membuat langkahnya semakin memberat. Dan Kenzou sama sekali tidak menginginkannya.
            Di tempat lain, kereta mulai melaju meninggalkan stasiun. Perasaan hampa yang masih tersisa itu membuatnya terhisap ke dalam perasaan asing yang memisahkannya dari kesibukan orang banyak.
            Lewat jendela kereta, Haruka bisa menatap peron kereta berulang kali, berharap dengan tiba-tiba sosok itu akan menampakkan dirinya. Tetapi gerimis yang tak berjeda itu membuat orang-orang yang baru saja turun dari kereta memilih untuk berteduh, menenggelamkan sosok yang dicarinya di antara orang banyak yang tengah berteduh.
            Dan kereta benar-benar melaju. Sedetik kemudian, Haruka kehilangan harapan. Mungkin waktu dimana seseorang itu akan hadir hanyalah ilusi miliknya, yang tercampur dalam delusinya, menghadirkan sebuah fatamorgana yang membekas dalam pandangannya.
            Tapi tiba-tiba Haruka merindukan sesuatu., sesuatu yang tak mungkin bisa diungkapkan. Diungkapkan lewat kata-kata. Saat bercerita kepadanya, dengan pandangan sedih, biasanya Kazuto meminta agar Haruka menghentikannya. Tetapi sedetik pun saat ini berlalu, takkan pernah ada yang bisa menghentikan kesedihannya.
            “Kumohon engkau janganlah lagi mencari diriku.” Sebuah harapan melesat dari ucapannya, membentuk sebuah gumaman kecil. Mungkin karena sekarang pun ia masih menyukainya, ya tetap suka dan kini telah tiba dimana saatnya ia akan menghilang. Mungkin untuk selamanya.
            Namun meskipun air mata mengalir tanpa henti, kenangan adalah sesuatu yang berharga baginya. Pertemuan pertama dengannya, mungkin alasan yang bisa dipercaya sebagai pemicu rasa itu juga. Dan sejumlah besar air mata yang telah menetes itu pun tidak bisa menghapus rasa itu.
            Maaf aku mencintaimu, dan kini kita telah terpisah sangat jauh.
***

Inspired by Shinkirou (Setlist of Dareka no Tameni, JKT48)

           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar