Jumat, 28 November 2014

Tired - Cinta Tak Terbalas dari Belakang


            Kau pernah berpikiran yang sama tentang orang yang kau anggap lebih dari sekedar sahabat, sejak kemunculan perasaan baru? Tak ingin terlambat untukmu mengungkapkan perasaan itu, bukan? Namun pada sisi lain kau akan merasa terkekang dengan rasa itu, luka dan kebencian telah menunggumu di ambang cerita.
Kau, dan luka, lalu perasaan itu semakin membungkus asamu hingga harimu terbalut kerisihan. Bisakah kau memprediksi, kemana cinta itu hanyut? Dimana terakhir kali rasa itu harus berlabuh? Kau menyadari, sepenuhnya rasa itu takkan terbalaskan dan betapapun kau memahami bahwa luka telah menjadi bagian dari perasaanmu.

Aku membuka pintu rumah, mengumpulkan kekuatan untuk berjalan beberapa langkah menuju kamar. Kakiku terasa berat untuk melangkah, tepat setelah pandanganku tergusur bayangan itu, bayangan yang membekas dalam benakku.
            Sebelumnya, pikiranku tak pernah terkacaukan oleh kejadian itu, kejadian yang cukup membuat rongga dadaku terasa sesak, lebih dari sekedar sakit! Aku tak dapat berpaling dari rasa sakit ini, aku pun tak kuasa menerimanya. Bagaimana pun, sakit ini adalah bagian dari perasaan yang aku miliki.
            Tentang rasa ini, mungkin aku harus membiarkannya terjatuh di dasar waktu yang tak kukehendaki. Aku harus mendaki puncaknya, aku harus segera melupakannya. Namun, aku terlalu lemah, pikirku terlalu mudah terbius bayangannya. Dia, telah mencuri hatiku.
            Dan kejadian tadi di sekolah membuat badanku tak bisa bergerak sama sekali, tubuhku bagaikan terkunci kala itu. Disini letak kesalahannya; perasaanku sendiri.
***
            Aku melangkah melewati ambang pintu kelas, lalu berdiri sejenak untuk menangkap sosok laki-laki dengan karakteristik khasnya. Berpostur tubuh tinggi dengan wajah hitam manisnya yang khas.
            Sebelumnya, perkenalkan namaku Kagami Hergia. Aku lebih sering dipanggil Michan karena aku terlahir dengan darah paduan antara Jepang dan Indonesia. Dulu aku sempat belajar di Akihabara, Tokyo. Namun membosankan, terlalu memakan keseriusan yang panjang.
            Saat ini suasana kelas masih sepi, kebetulan masih pagi. Hanya ada aku, laki-laki yang akrab kupanggil Ringgo, Lervian –teman sebangku Ringgo dan Billy. Begitu aku menyimpas tas di bangku, aku tak mendapatkan sambutan apapun. Seolah sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.
            Kurogoh handphone di saku celana, lalu segera membuka percakapan yang hanya sepihak, tanpa ada balasan apapun dari orang yang diajak bercakap-cakap. Wajar, aku mengirim pesan tepat pada pergantian hari, pukul 00.00.

To : Rio as Ringgo
Happy birthday wey! 16tahun yo? Makin dewasa dan jangan nething terus hehe. Wish you all the best yeay!

            Aku menyunggingkan senyum tipis kala selesai membaca pesan singkat itu, pesan yang tidak dibalas barang sehuruf pun sejak aku mengirim sms itu. Apa dia tidak memiliki pulsa? Atau mungkin setidaknya dia mengucapkan terima kasih untuk menggantinya?
            “Hari ini Rio ulang tahun! Mari kita rame-rame bunuh dia.” Gelak tawa Feri, yang baru saja datang membuat suasana kelas cair. Aku meneguk ludah merespons kedatangannya.
            Saat itu, satu persatu orang mulai memberi ucapan ulang tahun untuknya, terkecuali aku. Aku lelah, aku tidak ingin mengucapkan yang kedua kalinya. Aku terlalu trauma, tak pernah sedikitpun ada tanggapan darinya. Jadi, siapa sebenarnya aku?
            “Michan!” Seru Rio dari belakang, membuatku menoleh ke arahnya. Tapi beberapa menit berikutnya aku kembali fokus ke depan, menunggu guru yang mendapatkan jadwal mengajar hari ini masuk kelas.
            Beberapa kali Rio menyerukan namanya, tetapi aku berpura-pura tak mendengarnya. Sebenarnya, aku lelah untuk menjadi orang penting sampingan bagi dia. Kau tahu bagaimana rasanya menjadi orang penting sampingan? Didekati ketika butuh, lalu dijauhi ketika tidak ada kepentingan apapun. Sakitkah?
            Aku melihat bayangan kecil yang terbentuk di ambang pintu. Sosoknya terlihat seperti seseorang yang berpostur tinggi dan mengenakan kerudung. Begitu aku mengenalnya sebagai guru yang mendapat jadwal kelasku saat ini, aku langsung mengambil buku dari dalam tas.
            “Bu, hari ini nggak belajar dulu, ya? Rio ulang tahun, lho.” Kata Hirana, teman yang menempati bangku di belakangku.
            Sekali lagi aku meneguk ludah mendengarnya. Mengingatkan hari ini adalah ulang tahunnya, aku merasa tak dibutuhkan. Aku bagaikan tokoh asing dalam lingkup kelasku, aku adalah sosok yang tak pernah terlihat olehnya.
            Mengapa aku berpikir demikian? Jawabannya ada dalam perasaanku sendiri. Perasaan ini yang mewakilinya, perasaan ini yang bisa menerangkan semuanya. Aku terlalu obsesif, ironinya aku terlalu mengorbankan segalanya untuk dia tanpa memerhatikan diriku sendiri.
            Seberapa banyak perjuangan yang aku berikan dimulai dari saat aku mengenalnya hingga saat ini? Seberapa layakkah aku bertahan demi menyaingi rasa sakit yang kadang menghampiri rasa ini? Rasanya tak pernah ternilai. Tapi, aku ikhlas. Aku mampu menarik setitik kebahagiaan dari celah ini.
            Sara, perempuan berambut sebahu yang duduk di bangku pertama dari kiri segera membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kotak besar yang kuketahui itu adalah sebuah kue, kue buatan kami semua.
            Tadinya kue itu didekasikan khusus untuk guru yang mengajar, tetapi karena saat ini Ringgo berulang tahun, Sara segera membuat krim dadakan dan menambah tulisan “Rio Migaller” di atasnya.
            “Rio, selamat ulang tahun!” Seru Sara, lalu menampar pipinya dalam tempo cepat.
            Aku menatap tanganku sendiri, menunduk dalam. Aku ingin seperti yang lainnya, mengulang kembali ucapan itu, lalu menamparnya.
            “Ringgo, tadi pagi ada orang cantik yang ngirim ucapan ulang tahun, kan?” Gurauku, kedengarannya memang tidak lucu. Tetapi saat ini aku berusaha menghibur diri, aku hanya ingin seperti yang lain –bisa menikmati momen ini.
            “Kebiasaan lo nyebut gue Ringgo. Nama gue Rio!” Kata Rio tak terima. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
            “Tapi ada yang ngirim, kan? Kebetulan tahu aku lagi inget.” Ucapku, sedikit dusta di akhir.
            “Oh, itu sih kayaknya orang yang ngefans sama gue.” Sindirnya seraya mengarahkan sudut matanya ke arahku, tetapi dia ikut tersenyum. Aku mengerti maksudnya, hanya sekedar bercanda.
            Percakapan kami terpaksa ditutup ketika guru memberi instruksi untuk menuliskan nama anggota kelompok yang ikut berpartisipasi dalam membuat kue. Sebenarnya kue ini merupakan tugas dari tata boga, tetapi waktu belajarnya bersamaan dengan ulang tahun Rio.
            Setelah itu, kue yang telah jadi itu kami potong dan dibagikan kepada orang-orang yang ada di kelas. Sebagian lagi lebih memilih mencomot krim kue dan dicolekkan ke arah wajah Rio, hingga wajah laki-laki itu penuh krim.
            Terakhir yang aku lihat adalah aksi Milenia, ketua murid di kelasku yang belakangan ini sangat akrab dengan sosok Rio. Perempuan itu sama sepertiku, tetapi aku melihat sendiri seberapa jauh Rio akrab dengannya. Bahkan lebih jauh dariku.
            Aku tahu, hal itu terjadi karena ada persamaan dari mereka. Mereka memiliki kegemaran yang sama, tingkat kepandaian yang sama dan sifat mereka pun sama. Hanya satu yang membedakannya; sifat tomboy Milenia.
            Lalu Rio bergegas ke luar kelas untuk pergi ke toilet. Tentunya diantar Milenia. Mendadak sesuatu mengisi penuh rongga dadaku. Ya, rasa sesak itu telah mengelabui pandanganku. Aku benar-benar terluka dan tidak bisa berbuat apapun.
Aku kesakitan tanpa diperdulikan. Tangisku tak lama lagi pecah, namun takkan pernah berarti apa-apa. Bahkan hingga detik ini pun, dia tidak menyadari sosok perempuan yang mendadak pendiam karenanya.
***
Bel pulang telah berlalu sejak beberapa menit yang lalu. Semua teman-teman sekelasku saling berlomba-lomba untuk mencapai pintu gerbang. Kebiasaan yang tidak bisa dihindari sejak awal dimulainya masa-masa SMA.
Aku berjalan pelan meninggalkan kelas. Dalam pelanku, tersirat maksud yang takkan pernah diketahui siapapun. Aku hanya ingin Rio menyeruku dari belakang seperti dulu, dimana dia belum diakrabi Milenia dan Lervian.
Dari sini aku bisa mengambil kesimpulan dengan cepat. Dulu, semua orang pun mengakui bahwa sosok Rio dan diriku sama-sama pendiam, wajar jika akhirnya kamu terlihat akrab. Kemanapun selalu bersama.
Tetapi, di tengah keakraban kami, tanpa pernah diduga pun datanglah seseorang yang memisahkan segalanya. Bahkan satu-satunya alasan kebahagiaanku telah berhasil direnggutnya.
Dari jendela kelas, aku menatap sosok Rio yang berjalan bersama Lervian. Dia telah berbeda, telah memainkan peran yang baru dalam hidupku.
“Mi-chan!” Seru Milenia, membuat nafasku tersengal-sengal. Aku segera mengusap sepasang mataku yang hampir saja diderai air mata.
“Hei, kenapa?” Tanyaku, lalu berdehem. Aku pun baru menyadari, tenggorokanku terasa kering.
“Tugas yang tadi mana?” Tanya Milenia.
“Sudah dikumpulkan. Ada apa emangnya?” Tanyaku lagi. Milenia tampak menyerah setelah itu. Ekspresinya berubah.
Aku berbicara dalam hati, tidak seperti biasanya Milenia masih di kelas. Bahkan akhir-akhir ini aku melihat dengan nyata, kemana pun Milenia bepergian, pasti ditemani sosok Rio. Rasanya aku ingin tertawa, tertawa miris.
“Yaah, di meja guru, kan? Oke aku akan mengambilnya sekarang. Aku belum!” Katanya, lalu buru-buru berlari menuju ruang guru.
Pandanganku kembali mengarah lurus, dimana sekarang aku tak menemukan sosok apapun disana. Tak ada lagi punggung yang dulu pernah kupakai sebagai sandaran lelahku. Tak ada lagi sosok seseorang yang dulu selalu mengertikanku. Semua berubah karena keadaan dan waktu.
Aku meremas kado kecil yang tadi kubungkus mendadak saat istirahat. Tangisanku mulai mengisi suasana, tetes demi tetes yang mengalir dari air mataku mulai menganak sungai. Aku terlalu lemah, dan aku tak bisa berbuat apapun.
Sampai kapan rasa ini akan terus menyerang? Aku masih berdiri dengan segenggam harapan yang mulai pudar, yang takkan mungkin pernah tergapai. Sepertinya.
Kado kecil yang kupegang itu terjatuh begitu saja. Bahkan aku tak sadar telah merobek kertas kado yang membungkus benda di dalamnya. Aku menyaksikan bagaimana cokelat-cokelat di dalamnya tergeletak berserakan. Aku tetap menatapnya, tanpa ada keinginan untuk meraihnya.
Aku jongkok, memunguti cokelat-cokelat itu. Sebentar, aku menatap salah satu cokelat. Pikiranku tentang dia mulai mengalir saat itu. Aku segera meraih ponsel di saku celanaku, menekan beberapa digit nomor dan mendekatkannya ke arah telingaku.
“Hallo, nanti sore aku tunggu di Coffeeshop.”
***
            Aku duduk termenung sore ini. Sesuai rencana, aku ingin menepikan ucapanku yang kedua kalinya. Bukan apa-apa, tetapi aku hanya ingin dihargai. Aku hanya minta waktunya sebentar.
            Beberapa kali aku mengubah posisi duduk, tetapi sosok Rio yang tadi tidak sempat menjawab permintaanku di telepon –karena kututup duluan– belum terlihat. Mungkin beberapa menit lagi.
            Sebuah lagu yang mengalun tiba-tiba merambat ke dalam hati para pengunjung yang sedang berbunga-bunga. Namun, lagu itu hanya menjadi ironi bagiku. Dimana sosok kebahagiaanku yang sesungguhnya?
            Kadang terlahir tanya dalam diri, sampai kapan rasa ini akan bertahan? Rasanya aku terlalu mengharapkan semuanya. Aku tidak bisa berlalu dari semuanya.

From : Rio as Ringgo
Michan, maaf gak bisa datang. Sekali lagi maaf, aku ada urusan.

            Satu pesan masuk yang baru saja kuterima membuatku terdiam. Aku membiarkan semuanya terlelap dalam diamku. Masih dengan segudang kekecewaan yang besar, sampai saat ini pun aku benar-benar kesulitan untuk bernafas. Aku tidak mampu menghelanya sekali pun. Sesak yang memicunya.
            Pikiranku terjatuh di sembarang arah, dimana terputar kembali kejadian yang sempat kualami kala itu. Saat-saat dimana kehangatan masih menghias kebersamaan kami, saat dimana tiada kata jauh untuk kami. Saat dimana kata kesepian belum berlaku untukku.
            Dan sekarang apa yang terjadi? Aku kesepian, aku tertusuk tajamnya waktu yang telah mengubah suasana. Pikiranku kacau berkali-kali, ditambah sosok Rio yang tidak pernah peka dengan perasaan ini.

Tuhan, bila benar memang kau tahu
Katakanlah satu alasan apa yang terjadi padanya
Tuhan, bila memang kau mengerti
Berikanlah satu pertanda yang bisa kumengerti

Mungkin dengan bintang
Atau langit malam
Atau hujan yang turun ke bumi-Mu ini
Tapi Tuhan, kumohon jagalah dia
Bila memang jawabmu kuharus pergi dan tak tinggal lagi.

            Aku harus pergi? Benarkah? Aku terlalu terpekur dalam isi lagu yang merambat ke telingaku, air mataku tak terkontrol. Beberapa kali tetes demi tetes jatuh menerpa meja. Aku menangis dalam kesepian yang kubuat sendiri.
            Kapan kebahagiaan itu datang? Inginku hanya satu, aku mampu merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan yang kurajut bersamanya. Tapi kapan? Hingga kapan tanyaku akan menggantung seperti ini? Sampai rasaku berlalukah?
            Sebenarnya aku tahu, Rio pasti punya waktu untuk menyempatkan datang dan menemuiku saat ini. Yang menjadi tanyaku saat ini, mengapa laki-laki itu bisa melewatkan kebersamaan yang lamanya sehari penuh bersama Milenia? Sedangkan untukku? Sedetik pun takkan terbilang.
            Dia tidak akan pernah menyadari, betapapun dialah sosok yang pertama, yang memberiku cinta secara tidak langsung, yang membuatku terpana. Dan kapan dia kembali berada di setiap langkahku? Kapan kebersamaan tentangku dan dia kembali berlaku? Jawabannya; absurd! Sebab telah hadir orang-orang baru yang akan menjadi penggantinya.

Tuhan, bila ini baik untuknya
Bila aku rusuk baginya
Hanya akan menyakitinya
Tolong Tuhan, biarkan ku pergi
Tanpa sedikit pun luka di dalam hati

Tapi Tuhan, ku tak ingin jauh darinya
Ku terlalu menyayanginya
Hanya ingin bersama
Namun Tuhan, bila ini baik untuknya
Biarkan aku pergi, biarkan aku pergi
Dalam deras hujanmu..

            Hujan datang menyambut suasana ini, seolah ingin menyaingi tetesan air mataku. Langit pun telah menampakkan kelamnya. Aku terpaku menatap cangkir cappuccino. Aku telah membentuk granule dengan angka 18 diatas foamnya, disertai nama Rio di bawah angka itu.
            Aku masih ingin berada disini, mengulas kembali segala kenangan indah bersamanya. Mungkin bagi dirinya, aku hanyalah teman sekelas saja yang jalan pulangnya searah dan dia takkan pernah menyadari cinta yang tak terbalas di belakangnya.
            Mungkin keputusanku telah benar, aku harus pergi meski aku telah meyakinkan diriku bahwa dia adalah pilihan hatiku. Tetapi, pada kenyataannya aku bukanlah pilihan hatinya. Lalu aku siapa untuknya?
            Aku lelah, aku tak ingin lagi berharap. Terakhir aku harap Rio akan menemukan cinta kecil yang satu arah dengannya, yang menjadi pemicu kebahagiaan untuknya. Dan disana aku akan bersyukur, karena aku telah mampu menarik kesimpulan bahwa aku bukanlah bagian dari kebahagiaanmu meski kau adalah bagian dari kebahagiaanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar