Kau pernah berpikiran yang sama tentang
orang yang kau anggap lebih dari sekedar sahabat, sejak kemunculan perasaan
baru? Tak ingin terlambat untukmu mengungkapkan perasaan itu, bukan? Namun pada
sisi lain kau akan merasa terkekang dengan rasa itu, luka dan kebencian telah
menunggumu di ambang cerita.
Kau,
dan luka, lalu perasaan itu semakin membungkus asamu hingga harimu terbalut
kerisihan. Bisakah kau memprediksi, kemana cinta itu hanyut? Dimana terakhir
kali rasa itu harus berlabuh? Kau menyadari, sepenuhnya rasa itu takkan
terbalaskan dan betapapun kau memahami bahwa luka telah menjadi bagian dari
perasaanmu.
Aku membuka pintu rumah,
mengumpulkan kekuatan untuk berjalan beberapa langkah menuju kamar. Kakiku
terasa berat untuk melangkah, tepat setelah pandanganku tergusur bayangan itu,
bayangan yang membekas dalam benakku.
Sebelumnya,
pikiranku tak pernah terkacaukan oleh kejadian itu, kejadian yang cukup membuat
rongga dadaku terasa sesak, lebih dari sekedar sakit! Aku tak dapat berpaling
dari rasa sakit ini, aku pun tak kuasa menerimanya. Bagaimana pun, sakit ini
adalah bagian dari perasaan yang aku miliki.
Tentang
rasa ini, mungkin aku harus membiarkannya terjatuh di dasar waktu yang tak
kukehendaki. Aku harus mendaki puncaknya, aku harus segera melupakannya. Namun,
aku terlalu lemah, pikirku terlalu mudah terbius bayangannya. Dia, telah
mencuri hatiku.
Dan
kejadian tadi di sekolah membuat badanku tak bisa bergerak sama sekali, tubuhku
bagaikan terkunci kala itu. Disini letak kesalahannya; perasaanku sendiri.
***
Aku
melangkah melewati ambang pintu kelas, lalu berdiri sejenak untuk menangkap
sosok laki-laki dengan karakteristik khasnya. Berpostur tubuh tinggi dengan
wajah hitam manisnya yang khas.
Sebelumnya,
perkenalkan namaku Kagami Hergia. Aku lebih sering dipanggil Michan karena aku
terlahir dengan darah paduan antara Jepang dan Indonesia. Dulu aku sempat belajar
di Akihabara, Tokyo. Namun membosankan, terlalu memakan keseriusan yang
panjang.
Saat
ini suasana kelas masih sepi, kebetulan masih pagi. Hanya ada aku, laki-laki
yang akrab kupanggil Ringgo, Lervian –teman sebangku Ringgo dan Billy. Begitu
aku menyimpas tas di bangku, aku tak mendapatkan sambutan apapun. Seolah
sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.
Kurogoh
handphone di saku celana, lalu segera membuka percakapan yang hanya sepihak,
tanpa ada balasan apapun dari orang yang diajak bercakap-cakap. Wajar, aku
mengirim pesan tepat pada pergantian hari, pukul 00.00.
To : Rio as
Ringgo
Happy birthday
wey! 16tahun yo? Makin dewasa dan jangan nething terus hehe. Wish you all the
best yeay!
Aku
menyunggingkan senyum tipis kala selesai membaca pesan singkat itu, pesan yang
tidak dibalas barang sehuruf pun sejak aku mengirim sms itu. Apa dia tidak memiliki
pulsa? Atau mungkin setidaknya dia mengucapkan terima kasih untuk menggantinya?
“Hari
ini Rio ulang tahun! Mari kita rame-rame bunuh dia.” Gelak tawa Feri, yang baru
saja datang membuat suasana kelas cair. Aku meneguk ludah merespons
kedatangannya.
Saat
itu, satu persatu orang mulai memberi ucapan ulang tahun untuknya, terkecuali
aku. Aku lelah, aku tidak ingin mengucapkan yang kedua kalinya. Aku terlalu
trauma, tak pernah sedikitpun ada tanggapan darinya. Jadi, siapa sebenarnya
aku?
“Michan!”
Seru Rio dari belakang, membuatku menoleh ke arahnya. Tapi beberapa menit
berikutnya aku kembali fokus ke depan, menunggu guru yang mendapatkan jadwal
mengajar hari ini masuk kelas.
Beberapa
kali Rio menyerukan namanya, tetapi aku berpura-pura tak mendengarnya.
Sebenarnya, aku lelah untuk menjadi orang penting sampingan bagi dia. Kau tahu
bagaimana rasanya menjadi orang penting sampingan? Didekati ketika butuh, lalu
dijauhi ketika tidak ada kepentingan apapun. Sakitkah?
Aku
melihat bayangan kecil yang terbentuk di ambang pintu. Sosoknya terlihat
seperti seseorang yang berpostur tinggi dan mengenakan kerudung. Begitu aku
mengenalnya sebagai guru yang mendapat jadwal kelasku saat ini, aku langsung
mengambil buku dari dalam tas.
“Bu,
hari ini nggak belajar dulu, ya? Rio ulang tahun, lho.” Kata Hirana, teman yang
menempati bangku di belakangku.
Sekali
lagi aku meneguk ludah mendengarnya. Mengingatkan hari ini adalah ulang
tahunnya, aku merasa tak dibutuhkan. Aku bagaikan tokoh asing dalam lingkup
kelasku, aku adalah sosok yang tak pernah terlihat olehnya.
Mengapa
aku berpikir demikian? Jawabannya ada dalam perasaanku sendiri. Perasaan ini
yang mewakilinya, perasaan ini yang bisa menerangkan semuanya. Aku terlalu
obsesif, ironinya aku terlalu mengorbankan segalanya untuk dia tanpa
memerhatikan diriku sendiri.
Seberapa
banyak perjuangan yang aku berikan dimulai dari saat aku mengenalnya hingga
saat ini? Seberapa layakkah aku bertahan demi menyaingi rasa sakit yang kadang
menghampiri rasa ini? Rasanya tak pernah ternilai. Tapi, aku ikhlas. Aku mampu
menarik setitik kebahagiaan dari celah ini.
Sara,
perempuan berambut sebahu yang duduk di bangku pertama dari kiri segera membuka
tasnya, mengeluarkan sebuah kotak besar yang kuketahui itu adalah sebuah kue,
kue buatan kami semua.
Tadinya
kue itu didekasikan khusus untuk guru yang mengajar, tetapi karena saat ini
Ringgo berulang tahun, Sara segera membuat krim dadakan dan menambah tulisan “Rio
Migaller” di atasnya.
“Rio,
selamat ulang tahun!” Seru Sara, lalu menampar pipinya dalam tempo cepat.
Aku
menatap tanganku sendiri, menunduk dalam. Aku ingin seperti yang lainnya,
mengulang kembali ucapan itu, lalu menamparnya.
“Ringgo,
tadi pagi ada orang cantik yang ngirim ucapan ulang tahun, kan?” Gurauku,
kedengarannya memang tidak lucu. Tetapi saat ini aku berusaha menghibur diri,
aku hanya ingin seperti yang lain –bisa menikmati momen ini.
“Kebiasaan
lo nyebut gue Ringgo. Nama gue Rio!” Kata Rio tak terima. Aku hanya tersenyum
menanggapinya.
“Tapi
ada yang ngirim, kan? Kebetulan tahu aku lagi inget.” Ucapku, sedikit dusta di
akhir.
“Oh,
itu sih kayaknya orang yang ngefans sama gue.” Sindirnya seraya mengarahkan
sudut matanya ke arahku, tetapi dia ikut tersenyum. Aku mengerti maksudnya,
hanya sekedar bercanda.
Percakapan
kami terpaksa ditutup ketika guru memberi instruksi untuk menuliskan nama
anggota kelompok yang ikut berpartisipasi dalam membuat kue. Sebenarnya kue ini
merupakan tugas dari tata boga, tetapi waktu belajarnya bersamaan dengan ulang
tahun Rio.
Setelah
itu, kue yang telah jadi itu kami potong dan dibagikan kepada orang-orang yang
ada di kelas. Sebagian lagi lebih memilih mencomot krim kue dan dicolekkan ke
arah wajah Rio, hingga wajah laki-laki itu penuh krim.
Terakhir
yang aku lihat adalah aksi Milenia, ketua murid di kelasku yang belakangan ini
sangat akrab dengan sosok Rio. Perempuan itu sama sepertiku, tetapi aku melihat
sendiri seberapa jauh Rio akrab dengannya. Bahkan lebih jauh dariku.
Aku
tahu, hal itu terjadi karena ada persamaan dari mereka. Mereka memiliki
kegemaran yang sama, tingkat kepandaian yang sama dan sifat mereka pun sama.
Hanya satu yang membedakannya; sifat tomboy Milenia.
Lalu
Rio bergegas ke luar kelas untuk pergi ke toilet. Tentunya diantar Milenia.
Mendadak sesuatu mengisi penuh rongga dadaku. Ya, rasa sesak itu telah
mengelabui pandanganku. Aku benar-benar terluka dan tidak bisa berbuat apapun.
Aku kesakitan tanpa diperdulikan.
Tangisku tak lama lagi pecah, namun takkan pernah berarti apa-apa. Bahkan
hingga detik ini pun, dia tidak menyadari sosok perempuan yang mendadak pendiam
karenanya.
***
Bel pulang telah berlalu sejak
beberapa menit yang lalu. Semua teman-teman sekelasku saling berlomba-lomba
untuk mencapai pintu gerbang. Kebiasaan yang tidak bisa dihindari sejak awal
dimulainya masa-masa SMA.
Aku berjalan pelan meninggalkan
kelas. Dalam pelanku, tersirat maksud yang takkan pernah diketahui siapapun.
Aku hanya ingin Rio menyeruku dari belakang seperti dulu, dimana dia belum
diakrabi Milenia dan Lervian.
Dari sini aku bisa mengambil
kesimpulan dengan cepat. Dulu, semua orang pun mengakui bahwa sosok Rio dan
diriku sama-sama pendiam, wajar jika akhirnya kamu terlihat akrab. Kemanapun
selalu bersama.
Tetapi, di tengah keakraban kami,
tanpa pernah diduga pun datanglah seseorang yang memisahkan segalanya. Bahkan
satu-satunya alasan kebahagiaanku telah berhasil direnggutnya.
Dari jendela kelas, aku menatap
sosok Rio yang berjalan bersama Lervian. Dia telah berbeda, telah memainkan
peran yang baru dalam hidupku.
“Mi-chan!” Seru Milenia, membuat
nafasku tersengal-sengal. Aku segera mengusap sepasang mataku yang hampir saja
diderai air mata.
“Hei, kenapa?” Tanyaku, lalu
berdehem. Aku pun baru menyadari, tenggorokanku terasa kering.
“Tugas yang tadi mana?” Tanya
Milenia.
“Sudah dikumpulkan. Ada apa
emangnya?” Tanyaku lagi. Milenia tampak menyerah setelah itu. Ekspresinya
berubah.
Aku berbicara dalam hati, tidak
seperti biasanya Milenia masih di kelas. Bahkan akhir-akhir ini aku melihat
dengan nyata, kemana pun Milenia bepergian, pasti ditemani sosok Rio. Rasanya
aku ingin tertawa, tertawa miris.
“Yaah, di meja guru, kan? Oke aku
akan mengambilnya sekarang. Aku belum!” Katanya, lalu buru-buru berlari menuju
ruang guru.
Pandanganku kembali mengarah
lurus, dimana sekarang aku tak menemukan sosok apapun disana. Tak ada lagi
punggung yang dulu pernah kupakai sebagai sandaran lelahku. Tak ada lagi sosok
seseorang yang dulu selalu mengertikanku. Semua berubah karena keadaan dan
waktu.
Aku meremas kado kecil yang tadi
kubungkus mendadak saat istirahat. Tangisanku mulai mengisi suasana, tetes demi
tetes yang mengalir dari air mataku mulai menganak sungai. Aku terlalu lemah,
dan aku tak bisa berbuat apapun.
Sampai kapan rasa ini akan terus
menyerang? Aku masih berdiri dengan segenggam harapan yang mulai pudar, yang
takkan mungkin pernah tergapai. Sepertinya.
Kado kecil yang kupegang itu
terjatuh begitu saja. Bahkan aku tak sadar telah merobek kertas kado yang
membungkus benda di dalamnya. Aku menyaksikan bagaimana cokelat-cokelat di
dalamnya tergeletak berserakan. Aku tetap menatapnya, tanpa ada keinginan untuk
meraihnya.
Aku jongkok, memunguti
cokelat-cokelat itu. Sebentar, aku menatap salah satu cokelat. Pikiranku
tentang dia mulai mengalir saat itu. Aku segera meraih ponsel di saku celanaku,
menekan beberapa digit nomor dan mendekatkannya ke arah telingaku.
“Hallo, nanti sore aku tunggu di
Coffeeshop.”
***
Aku
duduk termenung sore ini. Sesuai rencana, aku ingin menepikan ucapanku yang
kedua kalinya. Bukan apa-apa, tetapi aku hanya ingin dihargai. Aku hanya minta
waktunya sebentar.
Beberapa
kali aku mengubah posisi duduk, tetapi sosok Rio yang tadi tidak sempat
menjawab permintaanku di telepon –karena kututup duluan– belum terlihat.
Mungkin beberapa menit lagi.
Sebuah
lagu yang mengalun tiba-tiba merambat ke dalam hati para pengunjung yang sedang
berbunga-bunga. Namun, lagu itu hanya menjadi ironi bagiku. Dimana sosok
kebahagiaanku yang sesungguhnya?
Kadang
terlahir tanya dalam diri, sampai kapan rasa ini akan bertahan? Rasanya aku
terlalu mengharapkan semuanya. Aku tidak bisa berlalu dari semuanya.
From : Rio as
Ringgo
Michan, maaf gak
bisa datang. Sekali lagi maaf, aku ada urusan.
Satu
pesan masuk yang baru saja kuterima membuatku terdiam. Aku membiarkan semuanya
terlelap dalam diamku. Masih dengan segudang kekecewaan yang besar, sampai saat
ini pun aku benar-benar kesulitan untuk bernafas. Aku tidak mampu menghelanya
sekali pun. Sesak yang memicunya.
Pikiranku
terjatuh di sembarang arah, dimana terputar kembali kejadian yang sempat
kualami kala itu. Saat-saat dimana kehangatan masih menghias kebersamaan kami,
saat dimana tiada kata jauh untuk kami. Saat dimana kata kesepian belum berlaku
untukku.
Dan
sekarang apa yang terjadi? Aku kesepian, aku tertusuk tajamnya waktu yang telah
mengubah suasana. Pikiranku kacau berkali-kali, ditambah sosok Rio yang tidak
pernah peka dengan perasaan ini.
Tuhan, bila
benar memang kau tahu
Katakanlah satu
alasan apa yang terjadi padanya
Tuhan, bila
memang kau mengerti
Berikanlah satu
pertanda yang bisa kumengerti
Mungkin dengan
bintang
Atau langit
malam
Atau hujan yang
turun ke bumi-Mu ini
Tapi Tuhan,
kumohon jagalah dia
Bila memang
jawabmu kuharus pergi dan tak tinggal lagi.
Aku
harus pergi? Benarkah? Aku terlalu terpekur dalam isi lagu yang merambat ke
telingaku, air mataku tak terkontrol. Beberapa kali tetes demi tetes jatuh
menerpa meja. Aku menangis dalam kesepian yang kubuat sendiri.
Kapan
kebahagiaan itu datang? Inginku hanya satu, aku mampu merasakan kebahagiaan
dalam kebersamaan yang kurajut bersamanya. Tapi kapan? Hingga kapan tanyaku
akan menggantung seperti ini? Sampai rasaku berlalukah?
Sebenarnya
aku tahu, Rio pasti punya waktu untuk menyempatkan datang dan menemuiku saat
ini. Yang menjadi tanyaku saat ini, mengapa laki-laki itu bisa melewatkan
kebersamaan yang lamanya sehari penuh bersama Milenia? Sedangkan untukku?
Sedetik pun takkan terbilang.
Dia
tidak akan pernah menyadari, betapapun dialah sosok yang pertama, yang
memberiku cinta secara tidak langsung, yang membuatku terpana. Dan kapan dia
kembali berada di setiap langkahku? Kapan kebersamaan tentangku dan dia kembali
berlaku? Jawabannya; absurd! Sebab telah hadir orang-orang baru yang akan
menjadi penggantinya.
Tuhan, bila ini
baik untuknya
Bila aku rusuk
baginya
Hanya akan
menyakitinya
Tolong Tuhan,
biarkan ku pergi
Tanpa sedikit
pun luka di dalam hati
Tapi Tuhan, ku
tak ingin jauh darinya
Ku terlalu
menyayanginya
Hanya ingin
bersama
Namun Tuhan,
bila ini baik untuknya
Biarkan aku
pergi, biarkan aku pergi
Dalam deras
hujanmu..
Hujan
datang menyambut suasana ini, seolah ingin menyaingi tetesan air mataku. Langit
pun telah menampakkan kelamnya. Aku terpaku menatap cangkir cappuccino. Aku
telah membentuk granule dengan angka 18 diatas foamnya, disertai nama Rio di
bawah angka itu.
Aku
masih ingin berada disini, mengulas kembali segala kenangan indah bersamanya. Mungkin
bagi dirinya, aku hanyalah teman sekelas saja yang jalan pulangnya searah dan
dia takkan pernah menyadari cinta yang tak terbalas di belakangnya.
Mungkin
keputusanku telah benar, aku harus pergi meski aku telah meyakinkan diriku
bahwa dia adalah pilihan hatiku. Tetapi, pada kenyataannya aku bukanlah pilihan
hatinya. Lalu aku siapa untuknya?
Aku
lelah, aku tak ingin lagi berharap. Terakhir aku harap Rio akan menemukan cinta
kecil yang satu arah dengannya, yang menjadi pemicu kebahagiaan untuknya. Dan
disana aku akan bersyukur, karena aku telah mampu menarik kesimpulan bahwa aku bukanlah bagian dari kebahagiaanmu meski
kau adalah bagian dari kebahagiaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar