Rio
masih terdiam kaku menyadari kenyataan baru yang harus diterimanya. Perpisahan
itu benar-benar harus menjadi sebuah saksi akhir dari kebersamaannya bersama
seseorang yang selama ini lebih-lebih disayanginya, dan sampai kapanpun akan
tetap begitu. Saat itu juga Rio harus berusaha mencoba menjelajah sepinya malam
tanpa ada kebersamaan yang pernah dirasakannya saat itu, tentu saja ketika
kebersamaan masih utuh.
Janji
suci yang telah terucap di dalam hatinya kian memudar, waktu sendiri yang
memakannya. Tak akan pernah lelah Rio berusaha untuk mencegahnya, namun dirinya
sadar bahwa takdir itulah yang tidak bisa ditolaknya. Seakan perpisahan itu
menjadi sebuah sungai yang membentang luas dan terasa nyata di depan matanya,
Rio harus menyebrangnginya dengan kekuatan yang ada. Perasaan itu masih tetap
satu, ketulusan pun satu, tapi mengapa harus luka yang mencorengnya? Mengapa
harus ada luka yang kemudian mengkelami warna di hatinya, bukankah selama ini
Rio sudah cukup tenang dengan perasaan itu?
Di
depannya masih ada seorang perempuan yang beberapa waktu selanjutnya akan
meninggalkan dirinya, ya inilah kebersamaan yang harus diraihnya untuk saat
ini. Rio cukup sadar, seharusnya tak pernah ada perasaan yang terpaut kepada
perempuan itu. Perasaan itu telah lama hinggap pada dasar hatinya.
“Jadi,
lo mau pergi kemana, Fy?” Tanyanya to the point, pegangannya semakin erat dan
semakin menandakan hatinya masih enggan menerima kesendirian baru pada berkas
waktu yang belum terkumpul. “Lo gak bajak ninggalin gue kan?” Lanjutnya.
Perempuan
yang akrab dipanggil Ify itu hanya menggelengkan kepalanya. “Aku gak akan
pernah meninggalkanmu, meninggalkan kamu sama saja meninggalkan sesuatu yang
telah melekat pada dinding hidupku.”
Rio
tersenyum tipis mendengarnya. “Katakan pada gue, serius! Gue butuh keseriusan
elo. Lo gak bakal ninggalin gue kan?” Tanyanya masih dengan nafas setengah
berburu.
“Mustahil
itu terjadi.” Balasnya sambil tersenyum lebar.
“Tapi,
Fy, seandainya itu kenyataan, apa yang harus gue perbuat?” Rio menatap Ify
dengan serius. “Kalo seandainya perpisahan itu takdir nyata yang ada di depan
lo, apa bisa untuk gue tepis?” Lanjutnya dengan memasang wajah serius.
Ify
mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks lagi dan juga lebih maju,
kemudian diusapnya lembut tangan Rio yang sedang menggenggam salah satu
tangannya. Ify menyadari, ada bentuk ketulusan yang tergambar lewat situasi
ini. Situasi yang memungkinkan akan membunuh salah satu pihak dalam beberapa
waktu ke depan ini.
“Sampai
perpisahan hadir, kita akan tetap menjadi kita.” Ucap Ify dengan nada setengah
berbisik.
“Fy,
katakan pada gue, lo gapapa kan?”
Ify
menggeleng. “Aku gapapa kok, Yo. Aku cuma gak tega lihat kamu seperti ini,
harusnya kamu gak pernah ada di posisi yang juga bakal membunuh kamu. Apalagi
kamu seorang laki-laki, maka kamu tak berhak menerima situasi ini.”
“Bagaimana
pun gue, tetap saja gak bakal merubah keutuhan gue untuk tulus menyanyangi elo,
meski kenyataannya di depan mata gue ada sebuah sungai yang mengalir membatasi
waktu gue untuk mencintai elo.” Balasnya dengan serius.
“Janji
ya, Yo.” Ify tersenyum senang, pandangannya tak lepas dari pemilik mata elang
itu.
Rio
mengangguk. “Tapi, lo gak bakal pergi, kan?” Ify menggeleng. “Beasiswa yang lo
terima itu menandakan kepergian lo, Fy. Menandakan perpisahan itu ada.” Wajah Rio berubah seratus delapan puluh
derajat, kini lebih dominan murung.
“Rio
kenapa sih?”
“Gue
mohon, jangan pergi. Gue belum siap untuk sendiri. Gue belum siap untuk
mendalami dan juga mengikhlaskan arti kesendirian itu.”
Ify
kembali tersenyum tipis, menyaksikan wajah tampan yang kini sedang terjajah
sebuah takdir dimana wajah itu kini berubah menjadi wajah penuh kesedihan.
Andai saja waktu tak pernah berpihak kepadanya, mungkin kebebasan untuk bersama
akan selalu terasa nyata di depan matanya.
Namun
mengapa harus takdir yang melerai kebersamaannya? Mengapa kini takdir itu
membunuh dirinya sendiri, sedang Ify tak pernah menghendakinya? Suatu saat
nanti, Ify yakin, bahwa ingatannya tak akan pernah lepas dari laki-laki yang
selama beberapa tahun ke belakang ini mengisi hatinya. Rencana demi rencana yang
sudah tersusun rapi itu kini harus kembali berantakan, terampas takdir yang
memilukan itu.
“Aku
takkan pernah pergi. Kamu salah mengartikan ini.” Ify semakin iba terhadap Rio.
“Aku hanya akan memulai langkah baru, bukan berarti akan meninggalkanmu juga.”
Rio
mencekal tangan Ify semakin kuat. “Katakan pada gue, lo bakal pergi.”
“Aku
gak akan pernah pergi, Rio.”
“Gue
masih ragu, Fy. Gue masih gak rela buat ngelepasin kepergian lo, apalagi
kenyataannya harus ada beberapa hari gue yang sepi ke depannya. Gue belum bisa
menerima kepergian lo sepenuhnya, kasih sayang yang gue miliki belum bisa
memberikan kebahagiaan apapun untuk lo, Fy.” Ujar Rio.
“Suatu
saat waktu akan mempertemukan kita pada titik kedewasaan yang lebih dalam lagi.
Asalkan saja itu takdir.”
Dalam
hati Rio, terukir sebuah penyesalan mengapa harus ada kasih sayang terpatri
jelas hanya untuk perempuan itu? Perempuan itu juga memang membalas
perasaannya, bahkan lebih sering menghabiskan sisa-sisa waktunya. Tapi
seutuhnya bukan takdir yang salah.
Sepinya
waktu yang harus dilewati semakin terasa dekat dan mengenalinya lebih dalam,
Rio tak berhak untuk menghindarinya. Bagaimana pun takdir akan selalu hinggap
di permukaan hidupnya, mengukir indah segala ketentuan yang pasti akan terjadi
dalam hidupnya.
Selamanya
waktu takkan pernah berhenti berputar, selama itu pula Rio harus berusaha
mati-matian bagaimana cara mengikhlaskan, meski kenyataannya ini menjadi
sesuatu yang teramat menusuk baginya. Perpisahan itu mengalir lewat dinding
waktu dan meresap lewat sepi yang mengendap.
***
Saat
kebersamaan tak lagi dirayakan dengan deras dan juga penuh kemeriahan, mengapa
harus ada akhir yang menyudutkan salah satu pihak? Perpisahan itu wajar, tetapi
sewajarnya perpisahan mengapa harus menghentikan kebersamaan yang telah
mengalir?
Waktu
kelulusan semakin dekat dan keinginan untuk kuliah bersama itu semakin terlihat
samar. Ify yang menyadarinya, begitupun dengan Rio. Kini keduanya tengah duduk
di bangku taman sekolah belakang, menikmati kebersamaan yang tersisa. Sesuatu
yang seharusnya bisa dirasakan itu kini
akan melenyap di masa depan. Rio pun begitu, takkan pernah bisa menyusul Ify ke
luar negeri.
“Moment
demi moment yang telah kita rajut selama ini sudah terkunci dalam hatiku
menjadi sebuah memori.” Ify menghela nafas sejenak. “Dan perasaan yang telah
kita tanam selama ini akan menghasilkan bibit baru, yang kutahu aku takkan
pernah melayukannya.”
Rio
masih termangu. Pikirannya masih tenggelam ke arah dimana hanya ada kebersamaan
dan kebersamaan yang tercapai dalam sisa waktu ke belakang ini, yang pasti akan
mengukir sebuah kenangan pada jendela hatinya.
“Walau
gue gak selalu sempurna, tapi hanya elo yang bisa nerima gue disini, Fy.” Ucap
Rio dengan lemah, nafasnya terdengar lebih ritmis. Sementara pikirannya masih
sibuk mengaduk-aduk harapan demi harapan untuk masa depan nanti, dimana hanya
ada dirinya sendiri dan juga bayangannya.
“Suatu
saat aku akan menyempatkan waktu untuk bisa menikmati kebersamaan yang terasa
sempit untuk kita.” Ify tersenyum tipis, seolah ucapannya telah menjadi sebuah
janji suci yang terukir indah di dalam hatinya. Ify percaya akan hal waktu,
dimana waktu akan memberikannya kekosongan dan selama itulah Ify bisa menikmati
kebersamaan dengan Rio.
“Janji?”
Rio menatap Ify serius.
Ify
mengangguk. “Iya, aku tak akan pernah menginginkan ada waktu kosong tanpa ada
kehadiranmu disini, lagipula selama ini kita belum pernah membiarkan diri
sendiri dalam waktu yang kosong, bukan?”
“Apapun
keputusan lo, gue akan selalu mendukung lo disini, meraihnya lewat doa. Disini
gue akan menjadi seseorang yang lo harapkan. Lo ingin melihat gue jadi
photographer kan? Suatu saat jug ague gak bakal pernah mau mengambil objek
berisi perpisahan kayak kita, gue gak akan pernah mau akan itu.” Ucapnya penu
harap.
“Thanks.”
“Dan
lo akan menjadi diri lo yang baru, yang mungkin akan lebih baik lagi jauh dari
ini. Gue doakan itu.” Rio mengusap bahu Ify dengan lembut.
Ify
meraih tangan Rio. “Waktu akan menjadi pembatas untuk kita, tetapi kamu tidak
perlu khawatir, Yo. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melupakanmu.”
“Kenapa
gak sekalian aja lo lupain gue, Fy?”
Ify
menggeleng. “Gak, mustahil itu terjadi. Waktu yang menjadi pembatas kita akan
terus mempererat perasaan dan dalamnya ketulusanku untuk kamu. Semakin
berputar, semakin dalam juga perasaan ini.”
Rio
tersenyum senang. Ini adalah sesuatu yang bisa membuatnya melayang. Rio hanya
memaksakan tersenyum, sementara jauh dari itu dirinya sedang berusaha
mati-matian menahan sebuah tangisan yang membeku.
“Kemanapun
lo melangkah, gue akan ada untuk lo. Ya, meski gue hanya berbentuk sebuah
bayangan yang tak pasti untuk lo.”
“Ketulusanmu
membuat aku bisa memaknai hidup lebih jauh lagi dan lebih dari sebelumnya.
Semoga kamu tetap menjadi yang terakhir untukku.” Ucap Ify penuh harap.
“Thanks.”
Balasnya setengah lirih.
***
Rio
mengarahkan pandangannya untuk tetap memperhatikan langkah Ify yang tertuju
kepadanya. Ujian Nasional telah berhasil dilewatinya dan perpisahan itu semakin
dekat dan semakin mulai tersentuh hawanya.
“Ternyata
ujian nasional itu mudah untuk kita lewati ya, Yo.” Ucap Ify meminta
persetujuan.
Tanpa
sadar, Rio semakin terhanyut dalam pikirannya. Di hari tua itu, Rio masih
menyimpan harapan demi harapan yang tak mungkin dibiarkannya terkubur karena
waktu. Akan diletakannya seutas keikhlasan sebagai penghias waktu untuk sebuah
hati yang sedang bertengger pada kesendirian. Semoga saja Rio mampu melewati
waktu yang cukup panjang itu, ya meski kenyataannya tanpa kebersamaan.
“Iya,
sekarang kita tinggal melewati ujian terberat. Rasanya gue gak bakal mampu.”
“Ayo
kita sebrangi, Yo!” Ucap Ify dengan nada semangat, meski sebenarnya ragu akan
ucapannya sendiri.
“Gue
mau pesen jus, lo mau apa, Fy?” Tanyanya usai bangkit dari duduknya. Inilah
kebiasaannya dari kecil. Rio dan Ify sama-sama selalu menyempatkan diri untuk
makan-makan bersama usai UAS selesai, dan ini adalah Ujian terakhirnya di
masa-masa SMA, masa dimana Ify dan Rio harus menggadaikan kenangan yang ada
pada garis waktu.
Ify
berpikir sejenak. “Aku teh manis aja,
Yo.”
“Oke,
tunggu gue.”
Kini
Ify sendiri pada diamnya, beberapa saat kemudian Rio pasti kembali membawa
minuman yang tadi dipesan Ify sesuai selera Ify sendiri.
“Andai
kita gak pernah kenal ya, Yo. Mungkin takdir ini takkan pernah bisa membunuh
hidup kamu, bahkan takdir ini juga terasa pahit untukku. Lebih tepatnya, takdir
ini adalah ujian dunia yang harus aku lewati. Aku termotivasi akan hal ini,
tapi tak seharusnya juga aku merasakan keasyikan di atas takdir ini.” Ujarnya.
Tangisannya perlahan mulai pecah dan bermuara menjadi rangkaian nada yang
berbaur dengan kata-katanya.
Perlahan,
Ify memejamkan matanya sejenak. “Saat aku tak mampu melangkah, kamu pernah
menyemangatiku, Yo. Saat aku tersesat di antara jalan-jalan menuju kebahagiaan
untukku, kamu menunjukannya lewat cara dan kesederhanaanmu. Saat aku meneteskan
air mataku, kamu menutupinya dengan sebuah canda yang kamu bahwa khusus untuk
melarikan tangisan yang telah aku buat. Saat aku mampu menikmati waktu dengan
kamu, kamu mampu mewarnai waktu yang aku
miliki. Dan kini, saat kepedihan dirayakan hati kita masing-masing, rasanya aku
yang bersalah disini. Aku, Yo.”
Tetesan
demi tetesan semakin membasahi tangan Ify yang diletakannya diatas meja. Ify
menengadah, berharap hujan turun hanya untuk menyamarkan matanya yang mulai
terasa perih dan juga air mata yang terus mengalir pada kedua pipinya. Ify tak
bisa menahan laju geraknya, karena kepedihan itu akan terus mengendap di dalam
hatinya.
“Ketika
kita tidak mampu untuk melangkah, kita saling memapah satu lain. Ketika kita
terjatuh, kita saling membangkitkan satu sama lain. Ketika kebahagiaan sulit
untuk kita rajut, kita mencarinya dalam bekunya waktu. Ketika perasaan kita
egois, kita menenangkannya dengan sebuah keikhlasan dan penuh kesabaran. Dan
kini saatnya kepedihan yang kita rasakan, maka akulah yang merasa bersalah
lagi. Aku lagi, Yo.” Tangisannya semakin berirama mewarnai kata-kata yang
keluar dari mulutnya.
Ify
menyeka air mata yang membasahi pipinya, tetapi air mata yang lain menyusulnya.
“Masa lalu yang pernah kita lewati kini akan hadir suatu saat dalam ingatan
kita, mengukir sebuah kenangan yang tak mungkin kita lupakan. Masa-masa
sekarang menuju kelulusan, kita berusaha mati-matian menikmati kebersamaan yang
tersisa. Dan masa depan yang pernah kita ceritakan selagi di bangku kelas,
rasanya sudah lenyap menjadi sebuah bayangan.” Ify tersenyum miris menyadari
ucapannya sendiri.
Saat
tatapan Ify menatap penuh ke arah Rio, Ify berusaha mati-matian menghapus
sisa-sisa air matanya. Dari jauh, Rio terlihat pucat dan tidak bersemangat
untuk berjalan menujunya, maka dari situlah Ify bisa menemukan awal dari
kerapuhan hidup Rio. Kini harapan tinggalah sebuah harapan.
“Lo
nangis, Fy?”
Ify
menggeleng. “Tadi mataku terkena debu, tadi ada angin cukup besar. Kamu
merasakannya?”
“Lo
gak usah bohong, Fy.”
“Aku
gak mungkin membohongi kamu, Yo. Aku takkan pernah ingin berbohong untuk
hal-hal yang tidak berguna. Lagipula selama ini aku sudah berusaha menutupi
kebohongan yang ada, bukan?”
Rio
mengangguk. “Gue tahu. Ini diminum dulu.” Kemudian Rio duduk kembali, menghadap
ke arah Ify sambil meneguk segelas jus.
***
Setelah
selesai menikmati kebersamaan yang cukup panjang, Ify akhirnya meminta untuk
pulang. Rio hanya menyetujuinya karena waktu memang sudah mulai sore, dan waktu
sore itulah yang semakin menunjukkan jelas tanda keberadaan perpisahan itu. Ah,
Rio harus melakukan sesuatu!
Gue mau lo gak jadi pergi dari gue, tapi
bagaimana gue bisa menolak itu? Gue juga gak mungkin menghalangi lo buat
menempuh cita-cita lo, tapi bagaimana dengan gue yang nantinya bakal terikat
perasaan ini selama beberapa tahun ke depan?
“Ayo,
berangkat.”
Rio
masih tercenung, tak mengindahkan perkataan Rio baru saja. Karena Rio pun tidak
mungkin tidak memikirkan hal ini pada saat-saat mendekati itu terjadi.
“Rio?
Ayo berangkat.”
Saat
itu juga Rio mulai tersadar akan perkataan Ify dan mulai melajukan mobilnya.
Rio
memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tentu saja saat ini Rio ingin
melampiaskan segala kekesalannya karena takdir yang mematikan itu. Terlebih Rio
ingin mencegah akan kepergian Ify untuk melanjutkan study di luar negeri.
Perpisahan yang tak pernah diinginkan itu harus menjadi sebuah kenyataan yang
pahit untuk hidupnya. Sampai saat ini akan terus menjadi beban baginya.
Sedangkan
di sebelahnya, Ify hanya berjaga-jaga diri. Ify tahu mengapa Rio seperti ini,
ini semua salah Ify, tapi harus bagaimana lagi? Kedua orang tuanya menginginkan
Ify untuk menerima beasiswa itu, karena inilah kesempatan emas baginya.
Disamping itu Ify masih ragu untuk menjalankan hal tersebut, langkahnya saat
ini memang tidak tentu arah.
Semakin
tinggi kecepatannya, semakin membuat Ify ingin segera turun dari kendaraan
milik Rio itu. Bagaimana tidak, Ify pernah dibuat trauma karena pernah
kecelakaan saat menggunakan motor dengan kecepatan tinggi dan hal itu membuat
Ify phobia akan kecepatan.
“Rio,
aku minta kamu berhenti untuk melakukan hal ini, Yo.” Pintanya dengan sedikit
rasa takut yang ada pada dirinya sendiri.
Sedangkan
Rio yang sedang menyetir benar-benar tidak fokus terhadap jalanan, pikirannya
masih sibuk akan hari-hari yang sudah tak terasa mendekati dirinya, hidupnya.
Sampai kapanpun, kepahitan terbesar
gue adalah saat dimana perasaan gue harus tertinggal disini karena dirinya
kehausan akan balasan dan juga kasih sayang seutuhnya.
Kejadian
demi kejadian kini terputar menjadi sebuah peristiwa yang terekam dalam memori
pikiran Rio.
“Yo!
Aku turun disini aja, aku takut.” Keluh Ify dengan menampakkan wajah
ketakutannya.
Tetap
saja Rio tak mendengarnya, karena sebuah rekaman dalam ruang pikirannya masih
terputar.
Harusnya perasaan ini gak pernah ada dan
harusnya gak pernah ada secuil pun rasa perduli akan seseorang yang hanya
datang untuk pergi. Tapi, dia terlalu indah bagi gue.
“RIOO!”
Teriak Ify karena kesal.
Saking
kesalnya, Ify segera merenggut setir guna mengalihkan arah laju mobil yang
mengarah ke sekitar perkebunan. Saat itu juga Rio mulai sadar. Namun sayangnya,
kesadaran Rio hanya beberapa saat saja karena setelahnya hanya ada serangkaian
peristiwa buruk yang menimpanya.
Kini
kejadian itu telah terjadi. Tadi dari arah yang berlawanan sebuah mobil truk
sedang membawa barang bawaannya, namun supir truk tersebut terlihat seperti
mabuk dan hilang kesadaran. Kini yang terlihat hanyalah keduanya yang masih tak
sadarkan diri.
Beberapa
menit ke depannya Rio tersadar dan segera membawa Ify ke rumah sakit tanpa
memperdulikan darah yang masih mengalir segar di dahinya.
***
“Jadi
maksud dokter, Ify sudah tidak bisa diselamatkan lagi?” Tanya Rio tak percaya.
Saat itu juga air mata mulai mengiringi kekacauan dirinya.
Tadi
dokter sudah menolong Ify dengan alat penghentak jantung, namun Ify tetap saja
seperti semula sampai dokter memutuskan untuk mengabarkan hal ini kepada Rio.
Dan kini Rio benar-benar terpukul akan hal ini.
Rio
mulai berlari menuju ruangan dimana raga Ify sudah terbaring dalam keadaan tak
bernyawa. Sangat disayangkan, perempuan yang hendak melanjutkan kuliahnya di
luar negeri kini harus melanjutkan hidupnya ke alam lain.
“Fy,
ini gak lucu, Fy. Lo harus jujur sama gue, lo masih hidup kan? Lo cuma pengen
gue nangis kan, Fy?” Rio mendesak Ify, namun yang didapatkannya hanya sebuah
kebisuan.
“Lo
bilang kalau mau pergi untuk selamanya, Fy! Harusnya lo bilang sama gue kalau
lo datang hanya untuk pergi, Fy. Harusnya lo bilang dari awal sebelum gue
melanjutkan perasaan gue ini, sebelum akhirnya gue memilih untuk selalu
menikmati kebersamaan bareng lo, yah tepatnya sebelum gue benar-benar serius
untuk menjalani kita di dalam hidup antara lo dan gue.” Nada bicaranya mendadak
melemah, Rio sudah menyadari kepergian perempuan itu,
“Gue
gak akan beranjak pergi dari sini selangkah pun sampai lo hidup kembali, Fy. Lo
denger gue kan, Fy? Lo denger gue, kan?!!” Tanyanya litotes.
“Gue
bakal lebih merasakan kerinduan yang dalam buat lo, dimana saat-saat musim
dingin kita lebih menghabiskan waktu untuk belajar bersama di rumah, Fy. Gue…
kangen itu.”
“Saat
lo pergi dari sekarang, gue akan kembali bersama siapa nanti? Saat ada sebuah
acara reuni untuk teman-teman sekelas maupun seangkatan kita, dengan siapa lagi
gue bakal saling bertukar cerita? Dengan bayangan elo? Atau gue mendadak jadi
orang gila yang hanya ngomong sendiri? Itu gak mudah, Fy. Gue masih ingin
menikati hidup dengan lo.”
“Tapi
gue cukup sadar, lo hanya datang untuk pergi.”
Rio
pun segera berlari keluar area rumah sakit, membiarkan raga Ify terbaring
disana sampai keluarga Ify datang. Tadi Rio sempat mengabarinya.
***
Hari
perpisahan telah tiba. Tentu saja pengumuman lulusan terbaik pun akan
diumumkan. Rio tampak tak bersemangat, yang ada Rio hanya ingin mati saja untuk
saat ini.
Saat
pengumuman lulusan terbaik diraih atas nama Ify Alviany, perasaan bangga
benar-benar membuncah dalam diri Rio. Namun sampai saat ini, orang itu takkan
pernah bisa dijumpainya sampai kapanpun.
“Yang
gue tahu, untuk saat ini ke depannya gue gak bakal pernah bertemu lagi dengan
lo yang selalu bersinar di hari-hari gue sebelumnya. Semua salah gue, Fy.”
“Suatu saat gue kembali ke sini
hanya untuk mengingat kenangan yang tak mudah buat gue lupakan, Fy.” Ucapnya
pelan usai turun dari panggung.
“Dan
bagi gue, melupakan lo adalah sesuatu yang gak pernah gue inginkan. Bagi gue
melupakan lo hanyalah sebuah kemustahilan.”
“Gue
menyesal, harusnya lo melanjutkan pendidikan lo. Tapi karena gue lo harus
meneruskan hidup lo ke alam lain. Gue tahu, Fy, gue salah. Bahkan gue sangat bersalah
karena telah meniadakan kehadiran lo di samping gue yang tinggal beberapa saat
lagi. Tapi, harusnya lo tahu bagaimana besar perasaan gue saat gue tahu kalau
lo harus pergi. Itu yang membuat gue gak sanggup buat sendiri.”
Dengan
mood yang cukup tinggi, akhirnya Rio meminta untuk menampilkan sebuah
penampilan khusus dari dirinya.
Rio
mulai bernyanyi.
Dibawah langit
mega kemerahan
Engkau sendirian
memulai langkah barumu
Suatu saat
engkau kan melihat
Jalan yang
berwarna seperti mimpi
Baju sekolah dan
hari-hari itu
Terkunci dalam
hatimu menjadi memori
Engkau kan jadi
dirimu yang baru
Dan ku akan
selalu mendukungmu
Saat kau
memandangiku cemas
Dan kau
memaksakan senyuman di bibirmu
Air mata jatuh
di pipimu
Inilah saatnya
kau menjadi dewasa
Aku kan jadi
pohon sakura yang abadi
Ya ku takkan
beranjak selangkahpun dari sini
Meskipun engkau
telah kehilangan semangatmu
Ku ada disini
agar engkau tahu dimana cinta
Masa depan yang
engkau ceritakan
Dengan
teman-temanmu di kelas saat itu
Itulah awal
munculnya cahaya
Yang menerangimu
dalam setiap langkahmu
Jangan kau rindu
kala kau berbunga
Saat layu
seperti bunga di musim dingin
Itu pasti akan
menguatkanmu
Dan
bunga-bungapun mekar kembali
Suatu saat nanti
kembalilah
Sendirian di
halaman sekolah ini
Maka ku dapat
berjumpa lagi
Denganmu yang
bersinar di waktu kelulusan
Aku kan jadi
pohon sakura yang abadi
Maka ku akan
menjadi tanda awal langkahmu
Meskipun
daun-daunku berguguran
Bangku taman itu
pasti kan selalu setia menunggumu
Semua orang
mungkin akan melupakannya
Ketetapan yang
ada di hati mereka
Maka ingatlah
saat musim sakura bermekaran
Tentang diriku,
tentang pohon ini.
Suara
tepuk tangan yang meriah dari para pendengar membuat Rio yakin bahwa kehilangan
seseorang yang disayangi itu menjadi awal dari langkah barunya tanpa
kebersamaan yang indah lagi. Inilah dimana Rio harus lebih menjadi dewasa,
meski kini tak ada lagi kehadiran seorang Ify yang dulu pernah mengisi hatinya.
“Suatu
saat berjanjilah untuk kembali kesini, Fy. Gue mohon…” Pintanya untuk yang
terakhir kalinya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar