Minggu, 26 Januari 2014

Tentang Aku dan Ketetapan Hati

            Rio masih terdiam kaku menyadari kenyataan baru yang harus diterimanya. Perpisahan itu benar-benar harus menjadi sebuah saksi akhir dari kebersamaannya bersama seseorang yang selama ini lebih-lebih disayanginya, dan sampai kapanpun akan tetap begitu. Saat itu juga Rio harus berusaha mencoba menjelajah sepinya malam tanpa ada kebersamaan yang pernah dirasakannya saat itu, tentu saja ketika kebersamaan masih utuh.

            Janji suci yang telah terucap di dalam hatinya kian memudar, waktu sendiri yang memakannya. Tak akan pernah lelah Rio berusaha untuk mencegahnya, namun dirinya sadar bahwa takdir itulah yang tidak bisa ditolaknya. Seakan perpisahan itu menjadi sebuah sungai yang membentang luas dan terasa nyata di depan matanya, Rio harus menyebrangnginya dengan kekuatan yang ada. Perasaan itu masih tetap satu, ketulusan pun satu, tapi mengapa harus luka yang mencorengnya? Mengapa harus ada luka yang kemudian mengkelami warna di hatinya, bukankah selama ini Rio sudah cukup tenang dengan perasaan itu?

            Di depannya masih ada seorang perempuan yang beberapa waktu selanjutnya akan meninggalkan dirinya, ya inilah kebersamaan yang harus diraihnya untuk saat ini. Rio cukup sadar, seharusnya tak pernah ada perasaan yang terpaut kepada perempuan itu. Perasaan itu telah lama hinggap pada dasar hatinya.

            “Jadi, lo mau pergi kemana, Fy?” Tanyanya to the point, pegangannya semakin erat dan semakin menandakan hatinya masih enggan menerima kesendirian baru pada berkas waktu yang belum terkumpul. “Lo gak bajak ninggalin gue kan?” Lanjutnya.

            Perempuan yang akrab dipanggil Ify itu hanya menggelengkan kepalanya. “Aku gak akan pernah meninggalkanmu, meninggalkan kamu sama saja meninggalkan sesuatu yang telah melekat pada dinding hidupku.”

            Rio tersenyum tipis mendengarnya. “Katakan pada gue, serius! Gue butuh keseriusan elo. Lo gak bakal ninggalin gue kan?” Tanyanya masih dengan nafas setengah berburu.

            “Mustahil itu terjadi.” Balasnya sambil tersenyum lebar.

            “Tapi, Fy, seandainya itu kenyataan, apa yang harus gue perbuat?” Rio menatap Ify dengan serius. “Kalo seandainya perpisahan itu takdir nyata yang ada di depan lo, apa bisa untuk gue tepis?” Lanjutnya dengan memasang wajah serius.

            Ify mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks lagi dan juga lebih maju, kemudian diusapnya lembut tangan Rio yang sedang menggenggam salah satu tangannya. Ify menyadari, ada bentuk ketulusan yang tergambar lewat situasi ini. Situasi yang memungkinkan akan membunuh salah satu pihak dalam beberapa waktu ke depan ini.

            “Sampai perpisahan hadir, kita akan tetap menjadi kita.” Ucap Ify dengan nada setengah berbisik.

            “Fy, katakan pada gue, lo gapapa kan?”

            Ify menggeleng. “Aku gapapa kok, Yo. Aku cuma gak tega lihat kamu seperti ini, harusnya kamu gak pernah ada di posisi yang juga bakal membunuh kamu. Apalagi kamu seorang laki-laki, maka kamu tak berhak menerima situasi ini.”

            “Bagaimana pun gue, tetap saja gak bakal merubah keutuhan gue untuk tulus menyanyangi elo, meski kenyataannya di depan mata gue ada sebuah sungai yang mengalir membatasi waktu gue untuk mencintai elo.” Balasnya dengan serius.

            “Janji ya, Yo.” Ify tersenyum senang, pandangannya tak lepas dari pemilik mata elang itu.

            Rio mengangguk. “Tapi, lo gak bakal pergi, kan?” Ify menggeleng. “Beasiswa yang lo terima itu menandakan kepergian lo, Fy. Menandakan perpisahan itu  ada.” Wajah Rio berubah seratus delapan puluh derajat, kini lebih dominan murung.

            “Rio kenapa sih?”

            “Gue mohon, jangan pergi. Gue belum siap untuk sendiri. Gue belum siap untuk mendalami dan juga mengikhlaskan arti kesendirian itu.”

            Ify kembali tersenyum tipis, menyaksikan wajah tampan yang kini sedang terjajah sebuah takdir dimana wajah itu kini berubah menjadi wajah penuh kesedihan. Andai saja waktu tak pernah berpihak kepadanya, mungkin kebebasan untuk bersama akan selalu terasa nyata di depan matanya.

            Namun mengapa harus takdir yang melerai kebersamaannya? Mengapa kini takdir itu membunuh dirinya sendiri, sedang Ify tak pernah menghendakinya? Suatu saat nanti, Ify yakin, bahwa ingatannya tak akan pernah lepas dari laki-laki yang selama beberapa tahun ke belakang ini mengisi hatinya. Rencana demi rencana yang sudah tersusun rapi itu kini harus kembali berantakan, terampas takdir yang memilukan itu.

            “Aku takkan pernah pergi. Kamu salah mengartikan ini.” Ify semakin iba terhadap Rio. “Aku hanya akan memulai langkah baru, bukan berarti akan meninggalkanmu juga.”

            Rio mencekal tangan Ify semakin kuat. “Katakan pada gue, lo bakal pergi.”

            “Aku gak akan pernah pergi, Rio.”

            “Gue masih ragu, Fy. Gue masih gak rela buat ngelepasin kepergian lo, apalagi kenyataannya harus ada beberapa hari gue yang sepi ke depannya. Gue belum bisa menerima kepergian lo sepenuhnya, kasih sayang yang gue miliki belum bisa memberikan kebahagiaan apapun untuk lo, Fy.” Ujar Rio.

            “Suatu saat waktu akan mempertemukan kita pada titik kedewasaan yang lebih dalam lagi. Asalkan saja itu takdir.”

            Dalam hati Rio, terukir sebuah penyesalan mengapa harus ada kasih sayang terpatri jelas hanya untuk perempuan itu? Perempuan itu juga memang membalas perasaannya, bahkan lebih sering menghabiskan sisa-sisa waktunya. Tapi seutuhnya bukan takdir yang salah.

            Sepinya waktu yang harus dilewati semakin terasa dekat dan mengenalinya lebih dalam, Rio tak berhak untuk menghindarinya. Bagaimana pun takdir akan selalu hinggap di permukaan hidupnya, mengukir indah segala ketentuan yang pasti akan terjadi dalam hidupnya.

            Selamanya waktu takkan pernah berhenti berputar, selama itu pula Rio harus berusaha mati-matian bagaimana cara mengikhlaskan, meski kenyataannya ini menjadi sesuatu yang teramat menusuk baginya. Perpisahan itu mengalir lewat dinding waktu dan meresap lewat sepi yang mengendap.

***

            Saat kebersamaan tak lagi dirayakan dengan deras dan juga penuh kemeriahan, mengapa harus ada akhir yang menyudutkan salah satu pihak? Perpisahan itu wajar, tetapi sewajarnya perpisahan mengapa harus menghentikan kebersamaan yang telah mengalir?

            Waktu kelulusan semakin dekat dan keinginan untuk kuliah bersama itu semakin terlihat samar. Ify yang menyadarinya, begitupun dengan Rio. Kini keduanya tengah duduk di bangku taman sekolah belakang, menikmati kebersamaan yang tersisa. Sesuatu yang seharusnya bisa dirasakan  itu kini akan melenyap di masa depan. Rio pun begitu, takkan pernah bisa menyusul Ify ke luar negeri.

            “Moment demi moment yang telah kita rajut selama ini sudah terkunci dalam hatiku menjadi sebuah memori.” Ify menghela nafas sejenak. “Dan perasaan yang telah kita tanam selama ini akan menghasilkan bibit baru, yang kutahu aku takkan pernah melayukannya.”

            Rio masih termangu. Pikirannya masih tenggelam ke arah dimana hanya ada kebersamaan dan kebersamaan yang tercapai dalam sisa waktu ke belakang ini, yang pasti akan mengukir sebuah kenangan pada jendela hatinya.

            “Walau gue gak selalu sempurna, tapi hanya elo yang bisa nerima gue disini, Fy.” Ucap Rio dengan lemah, nafasnya terdengar lebih ritmis. Sementara pikirannya masih sibuk mengaduk-aduk harapan demi harapan untuk masa depan nanti, dimana hanya ada dirinya sendiri dan juga bayangannya.

            “Suatu saat aku akan menyempatkan waktu untuk bisa menikmati kebersamaan yang terasa sempit untuk kita.” Ify tersenyum tipis, seolah ucapannya telah menjadi sebuah janji suci yang terukir indah di dalam hatinya. Ify percaya akan hal waktu, dimana waktu akan memberikannya kekosongan dan selama itulah Ify bisa menikmati kebersamaan dengan Rio.

            “Janji?” Rio menatap Ify serius.

            Ify mengangguk. “Iya, aku tak akan pernah menginginkan ada waktu kosong tanpa ada kehadiranmu disini, lagipula selama ini kita belum pernah membiarkan diri sendiri dalam waktu yang kosong, bukan?”

            “Apapun keputusan lo, gue akan selalu mendukung lo disini, meraihnya lewat doa. Disini gue akan menjadi seseorang yang lo harapkan. Lo ingin melihat gue jadi photographer kan? Suatu saat jug ague gak bakal pernah mau mengambil objek berisi perpisahan kayak kita, gue gak akan pernah mau akan itu.” Ucapnya penu harap.

            “Thanks.”

            “Dan lo akan menjadi diri lo yang baru, yang mungkin akan lebih baik lagi jauh dari ini. Gue doakan itu.” Rio mengusap bahu Ify dengan lembut.

            Ify meraih tangan Rio. “Waktu akan menjadi pembatas untuk kita, tetapi kamu tidak perlu khawatir, Yo. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melupakanmu.”

            “Kenapa gak sekalian aja lo lupain gue, Fy?”

            Ify menggeleng. “Gak, mustahil itu terjadi. Waktu yang menjadi pembatas kita akan terus mempererat perasaan dan dalamnya ketulusanku untuk kamu. Semakin berputar, semakin dalam juga perasaan ini.”

            Rio tersenyum senang. Ini adalah sesuatu yang bisa membuatnya melayang. Rio hanya memaksakan tersenyum, sementara jauh dari itu dirinya sedang berusaha mati-matian menahan sebuah tangisan yang membeku.

            “Kemanapun lo melangkah, gue akan ada untuk lo. Ya, meski gue hanya berbentuk sebuah bayangan yang tak pasti untuk lo.”

            “Ketulusanmu membuat aku bisa memaknai hidup lebih jauh lagi dan lebih dari sebelumnya. Semoga kamu tetap menjadi yang terakhir untukku.” Ucap Ify penuh harap.

            “Thanks.” Balasnya setengah lirih.

***

            Rio mengarahkan pandangannya untuk tetap memperhatikan langkah Ify yang tertuju kepadanya. Ujian Nasional telah berhasil dilewatinya dan perpisahan itu semakin dekat dan semakin mulai tersentuh hawanya.

            “Ternyata ujian nasional itu mudah untuk kita lewati ya, Yo.” Ucap Ify meminta persetujuan.

            Tanpa sadar, Rio semakin terhanyut dalam pikirannya. Di hari tua itu, Rio masih menyimpan harapan demi harapan yang tak mungkin dibiarkannya terkubur karena waktu. Akan diletakannya seutas keikhlasan sebagai penghias waktu untuk sebuah hati yang sedang bertengger pada kesendirian. Semoga saja Rio mampu melewati waktu yang cukup panjang itu, ya meski kenyataannya tanpa kebersamaan.

            “Iya, sekarang kita tinggal melewati ujian terberat. Rasanya gue gak bakal mampu.”

            “Ayo kita sebrangi, Yo!” Ucap Ify dengan nada semangat, meski sebenarnya ragu akan ucapannya sendiri.

            “Gue mau pesen jus, lo mau apa, Fy?” Tanyanya usai bangkit dari duduknya. Inilah kebiasaannya dari kecil. Rio dan Ify sama-sama selalu menyempatkan diri untuk makan-makan bersama usai UAS selesai, dan ini adalah Ujian terakhirnya di masa-masa SMA, masa dimana Ify dan Rio harus menggadaikan kenangan yang ada pada garis waktu.

            Ify berpikir sejenak. “Aku teh  manis aja, Yo.”

            “Oke, tunggu gue.”

            Kini Ify sendiri pada diamnya, beberapa saat kemudian Rio pasti kembali membawa minuman yang tadi dipesan Ify sesuai selera Ify sendiri.

            “Andai kita gak pernah kenal ya, Yo. Mungkin takdir ini takkan pernah bisa membunuh hidup kamu, bahkan takdir ini juga terasa pahit untukku. Lebih tepatnya, takdir ini adalah ujian dunia yang harus aku lewati. Aku termotivasi akan hal ini, tapi tak seharusnya juga aku merasakan keasyikan di atas takdir ini.” Ujarnya. Tangisannya perlahan mulai pecah dan bermuara menjadi rangkaian nada yang berbaur dengan kata-katanya.

            Perlahan, Ify memejamkan matanya sejenak. “Saat aku tak mampu melangkah, kamu pernah menyemangatiku, Yo. Saat aku tersesat di antara jalan-jalan menuju kebahagiaan untukku, kamu menunjukannya lewat cara dan kesederhanaanmu. Saat aku meneteskan air mataku, kamu menutupinya dengan sebuah canda yang kamu bahwa khusus untuk melarikan tangisan yang telah aku buat. Saat aku mampu menikmati waktu dengan kamu, kamu mampu mewarnai waktu yang  aku miliki. Dan kini, saat kepedihan dirayakan hati kita masing-masing, rasanya aku yang bersalah disini. Aku, Yo.”

            Tetesan demi tetesan semakin membasahi tangan Ify yang diletakannya diatas meja. Ify menengadah, berharap hujan turun hanya untuk menyamarkan matanya yang mulai terasa perih dan juga air mata yang terus mengalir pada kedua pipinya. Ify tak bisa menahan laju geraknya, karena kepedihan itu akan terus mengendap di dalam hatinya.

            “Ketika kita tidak mampu untuk melangkah, kita saling memapah satu lain. Ketika kita terjatuh, kita saling membangkitkan satu sama lain. Ketika kebahagiaan sulit untuk kita rajut, kita mencarinya dalam bekunya waktu. Ketika perasaan kita egois, kita menenangkannya dengan sebuah keikhlasan dan penuh kesabaran. Dan kini saatnya kepedihan yang kita rasakan, maka akulah yang merasa bersalah lagi. Aku lagi, Yo.” Tangisannya semakin berirama mewarnai kata-kata yang keluar dari mulutnya.

            Ify menyeka air mata yang membasahi pipinya, tetapi air mata yang lain menyusulnya. “Masa lalu yang pernah kita lewati kini akan hadir suatu saat dalam ingatan kita, mengukir sebuah kenangan yang tak mungkin kita lupakan. Masa-masa sekarang menuju kelulusan, kita berusaha mati-matian menikmati kebersamaan yang tersisa. Dan masa depan yang pernah kita ceritakan selagi di bangku kelas, rasanya sudah lenyap menjadi sebuah bayangan.” Ify tersenyum miris menyadari ucapannya sendiri.

            Saat tatapan Ify menatap penuh ke arah Rio, Ify berusaha mati-matian menghapus sisa-sisa air matanya. Dari jauh, Rio terlihat pucat dan tidak bersemangat untuk berjalan menujunya, maka dari situlah Ify bisa menemukan awal dari kerapuhan hidup Rio. Kini harapan tinggalah sebuah harapan.

            “Lo nangis, Fy?”

            Ify menggeleng. “Tadi mataku terkena debu, tadi ada angin cukup besar. Kamu merasakannya?”

            “Lo gak usah bohong, Fy.”

            “Aku gak mungkin membohongi kamu, Yo. Aku takkan pernah ingin berbohong untuk hal-hal yang tidak berguna. Lagipula selama ini aku sudah berusaha menutupi kebohongan yang ada, bukan?”
            Rio mengangguk. “Gue tahu. Ini diminum dulu.” Kemudian Rio duduk kembali, menghadap ke arah Ify sambil meneguk segelas jus.

***

            Setelah selesai menikmati kebersamaan yang cukup panjang, Ify akhirnya meminta untuk pulang. Rio hanya menyetujuinya karena waktu memang sudah mulai sore, dan waktu sore itulah yang semakin menunjukkan jelas tanda keberadaan perpisahan itu. Ah, Rio harus melakukan sesuatu!

            Gue mau lo gak jadi pergi dari gue, tapi bagaimana gue bisa menolak itu? Gue juga gak mungkin menghalangi lo buat menempuh cita-cita lo, tapi bagaimana dengan gue yang nantinya bakal terikat perasaan ini selama beberapa tahun ke depan?

            “Ayo, berangkat.”

            Rio masih tercenung, tak mengindahkan perkataan Rio baru saja. Karena Rio pun tidak mungkin tidak memikirkan hal ini pada saat-saat mendekati itu terjadi.

            “Rio? Ayo berangkat.”

            Saat itu juga Rio mulai tersadar akan perkataan Ify dan mulai melajukan mobilnya.

            Rio memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tentu saja saat ini Rio ingin melampiaskan segala kekesalannya karena takdir yang mematikan itu. Terlebih Rio ingin mencegah akan kepergian Ify untuk melanjutkan study di luar negeri. Perpisahan yang tak pernah diinginkan itu harus menjadi sebuah kenyataan yang pahit untuk hidupnya. Sampai saat ini akan terus menjadi beban baginya.

            Sedangkan di sebelahnya, Ify hanya berjaga-jaga diri. Ify tahu mengapa Rio seperti ini, ini semua salah Ify, tapi harus bagaimana lagi? Kedua orang tuanya menginginkan Ify untuk menerima beasiswa itu, karena inilah kesempatan emas baginya. Disamping itu Ify masih ragu untuk menjalankan hal tersebut, langkahnya saat ini memang tidak tentu arah.

            Semakin tinggi kecepatannya, semakin membuat Ify ingin segera turun dari kendaraan milik Rio itu. Bagaimana tidak, Ify pernah dibuat trauma karena pernah kecelakaan saat menggunakan motor dengan kecepatan tinggi dan hal itu membuat Ify phobia akan kecepatan.

            “Rio, aku minta kamu berhenti untuk melakukan hal ini, Yo.” Pintanya dengan sedikit rasa takut yang ada pada dirinya sendiri.

            Sedangkan Rio yang sedang menyetir benar-benar tidak fokus terhadap jalanan, pikirannya masih sibuk akan hari-hari yang sudah tak terasa mendekati dirinya, hidupnya.

            Sampai kapanpun, kepahitan terbesar gue adalah saat dimana perasaan gue harus tertinggal disini karena dirinya kehausan akan balasan dan juga kasih sayang seutuhnya.

            Kejadian demi kejadian kini terputar menjadi sebuah peristiwa yang terekam dalam memori pikiran Rio.

            “Yo! Aku turun disini aja, aku takut.” Keluh Ify dengan menampakkan wajah ketakutannya.

            Tetap saja Rio tak mendengarnya, karena sebuah rekaman dalam ruang pikirannya masih terputar.

            Harusnya perasaan ini gak pernah ada dan harusnya gak pernah ada secuil pun rasa perduli akan seseorang yang hanya datang untuk pergi. Tapi, dia terlalu indah bagi gue.

            “RIOO!” Teriak Ify karena kesal.

            Saking kesalnya, Ify segera merenggut setir guna mengalihkan arah laju mobil yang mengarah ke sekitar perkebunan. Saat itu juga Rio mulai sadar. Namun sayangnya, kesadaran Rio hanya beberapa saat saja karena setelahnya hanya ada serangkaian peristiwa buruk yang menimpanya.

            Kini kejadian itu telah terjadi. Tadi dari arah yang berlawanan sebuah mobil truk sedang membawa barang bawaannya, namun supir truk tersebut terlihat seperti mabuk dan hilang kesadaran. Kini yang terlihat hanyalah keduanya yang masih tak sadarkan diri.

            Beberapa menit ke depannya Rio tersadar dan segera membawa Ify ke rumah sakit tanpa memperdulikan darah yang masih mengalir segar di dahinya.

***

            “Jadi maksud dokter, Ify sudah tidak bisa diselamatkan lagi?” Tanya Rio tak percaya. Saat itu juga air mata mulai mengiringi kekacauan dirinya.

            Tadi dokter sudah menolong Ify dengan alat penghentak jantung, namun Ify tetap saja seperti semula sampai dokter memutuskan untuk mengabarkan hal ini kepada Rio. Dan kini Rio benar-benar terpukul akan hal ini.

            Rio mulai berlari menuju ruangan dimana raga Ify sudah terbaring dalam keadaan tak bernyawa. Sangat disayangkan, perempuan yang hendak melanjutkan kuliahnya di luar negeri kini harus melanjutkan hidupnya ke alam lain.

            “Fy, ini gak lucu, Fy. Lo harus jujur sama gue, lo masih hidup kan? Lo cuma pengen gue nangis kan, Fy?” Rio mendesak Ify, namun yang didapatkannya hanya sebuah kebisuan.

            “Lo bilang kalau mau pergi untuk selamanya, Fy! Harusnya lo bilang sama gue kalau lo datang hanya untuk pergi, Fy. Harusnya lo bilang dari awal sebelum gue melanjutkan perasaan gue ini, sebelum akhirnya gue memilih untuk selalu menikmati kebersamaan bareng lo, yah tepatnya sebelum gue benar-benar serius untuk menjalani kita di dalam hidup antara lo dan gue.” Nada bicaranya mendadak melemah, Rio sudah menyadari kepergian perempuan itu,

            “Gue gak akan beranjak pergi dari sini selangkah pun sampai lo hidup kembali, Fy. Lo denger gue kan, Fy? Lo denger gue, kan?!!” Tanyanya litotes.

            “Gue bakal lebih merasakan kerinduan yang dalam buat lo, dimana saat-saat musim dingin kita lebih menghabiskan waktu untuk belajar bersama di rumah, Fy. Gue… kangen itu.”

            “Saat lo pergi dari sekarang, gue akan kembali bersama siapa nanti? Saat ada sebuah acara reuni untuk teman-teman sekelas maupun seangkatan kita, dengan siapa lagi gue bakal saling bertukar cerita? Dengan bayangan elo? Atau gue mendadak jadi orang gila yang hanya ngomong sendiri? Itu gak mudah, Fy. Gue masih ingin menikati hidup dengan lo.”

            “Tapi gue cukup sadar, lo hanya datang untuk pergi.”

            Rio pun segera berlari keluar area rumah sakit, membiarkan raga Ify terbaring disana sampai keluarga Ify datang. Tadi Rio sempat mengabarinya.

***

            Hari perpisahan telah tiba. Tentu saja pengumuman lulusan terbaik pun akan diumumkan. Rio tampak tak bersemangat, yang ada Rio hanya ingin mati saja untuk saat ini.

            Saat pengumuman lulusan terbaik diraih atas nama Ify Alviany, perasaan bangga benar-benar membuncah dalam diri Rio. Namun sampai saat ini, orang itu takkan pernah bisa dijumpainya sampai kapanpun.

            “Yang gue tahu, untuk saat ini ke depannya gue gak bakal pernah bertemu lagi dengan lo yang selalu bersinar di hari-hari gue sebelumnya. Semua salah gue, Fy.”

“Suatu saat gue kembali ke sini hanya untuk mengingat kenangan yang tak mudah buat gue lupakan, Fy.” Ucapnya pelan usai turun dari panggung.

            “Dan bagi gue, melupakan lo adalah sesuatu yang gak pernah gue inginkan. Bagi gue melupakan lo hanyalah sebuah kemustahilan.”

            “Gue menyesal, harusnya lo melanjutkan pendidikan lo. Tapi karena gue lo harus meneruskan hidup lo ke alam lain. Gue tahu, Fy, gue salah. Bahkan gue sangat bersalah karena telah meniadakan kehadiran lo di samping gue yang tinggal beberapa saat lagi. Tapi, harusnya lo tahu bagaimana besar perasaan gue saat gue tahu kalau lo harus pergi. Itu yang membuat gue gak sanggup buat sendiri.”

            Dengan mood yang cukup tinggi, akhirnya Rio meminta untuk menampilkan sebuah penampilan khusus dari dirinya.

            Rio mulai bernyanyi.

Dibawah langit mega kemerahan
Engkau sendirian memulai langkah barumu
Suatu saat engkau kan melihat
Jalan yang berwarna seperti mimpi

Baju sekolah dan hari-hari itu
Terkunci dalam hatimu menjadi memori
Engkau kan jadi dirimu yang baru
Dan ku akan selalu mendukungmu

Saat kau memandangiku cemas
Dan kau memaksakan senyuman di bibirmu
Air mata jatuh di pipimu
Inilah saatnya kau menjadi dewasa

Aku kan jadi pohon sakura yang abadi
Ya ku takkan beranjak selangkahpun dari sini
Meskipun engkau telah kehilangan semangatmu
Ku ada disini agar engkau tahu dimana cinta

Masa depan yang engkau ceritakan
Dengan teman-temanmu di kelas saat itu
Itulah awal munculnya cahaya
Yang menerangimu dalam setiap langkahmu

Jangan kau rindu kala kau berbunga
Saat layu seperti bunga di musim dingin
Itu pasti akan menguatkanmu
Dan bunga-bungapun mekar kembali

Suatu saat nanti kembalilah
Sendirian di halaman sekolah ini
Maka ku dapat berjumpa lagi
Denganmu yang bersinar di waktu kelulusan

Aku kan jadi pohon sakura yang abadi
Maka ku akan menjadi tanda awal langkahmu
Meskipun daun-daunku berguguran
Bangku taman itu pasti kan selalu setia menunggumu

Semua orang mungkin akan melupakannya
Ketetapan yang ada di hati mereka
Maka ingatlah saat musim sakura bermekaran
Tentang diriku, tentang pohon ini.

            Suara tepuk tangan yang meriah dari para pendengar membuat Rio yakin bahwa kehilangan seseorang yang disayangi itu menjadi awal dari langkah barunya tanpa kebersamaan yang indah lagi. Inilah dimana Rio harus lebih menjadi dewasa, meski kini tak ada lagi kehadiran seorang Ify yang dulu pernah mengisi hatinya.

            “Suatu saat berjanjilah untuk kembali kesini, Fy. Gue mohon…” Pintanya untuk yang terakhir kalinya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar